Teroris Poros Tambun - Klangenan

Cirebon (855.news.com) -- Tim Densus 88 menangkap dua terduga teroris asal Cirebon. Kedua terduga teroris inisial S dan H ini tergabung jaringan Jemaah Ansharut Daulah (JAD).

"Keduanya merupakan jaringan JAD," kata Kapolda Jawa Barat Irjen Agung  Budi Maryoto usai menggeledah salah seorang rumah kontrakan terduga teroris berinisial S di RT 05 RW 02 Desa Jemaras Kidul, Kecamatan Klangenan, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, Kamis 17 Mei 2018  malam.

Rumah kontrakan dihuni S, menurut Agung, milik tersangka teroris berinisial D yang terlibat dalam aksi bom Thamrin, Jakarta, pada 2016. Agung mengatakan penangkapan S dan H ini hasil pengembangan penangkapan kelompok teror yang beraksi di Tambun, Bekasi, Jawa Barat, Kamis 10 Mei lalu.

"Ada kaitannya dengan yang di Tambun. Hasil pemeriksaan salah seorang tersangka menyebutkan dua terduga ini, S dan H," tutur Kapolda.

Kedua terduga teroris itu langsung diboyong ke Jakarta untuk menjalani pemeriksaan.

Teroris di Tambun

Seperti diketahui, empat terduga teroris ditangkap di Tambun, Bekasi. Dua diantaranya ditembak, serang meninggal dunia, Kamis 10 Mei lalu sekitar pukul 01.35 WIB.

Pada saat itu, keempatnya hendak menuju Mako Brimob untuk membantu para napi teroris yang sedang melawan polisi. Mereka ditangkap, lalu dibawa ke Jakarta. Di tengah jalan, dua di antaranya melakukan perlawanan hingga akhirnya ditembak.

"Memberontak, berusaha mencekik anggota, hingga borgol yang dipakaikan terlepas," kata Kadiv Humas Polri Irjen Setyo Wasisto seraya menambahkan mereka berusaha merebut senjata api. Setyo berbicara dalam jumpa pers di Mabes Polri, Jl Trunojoyo, Jakarta, Jumat 11 Mei 2018.

Keempat terduga teroris itu ; AM, kelahiran Medan, 8 Agustus 1979. Alamat tempat tinggal di Tasikmalaya, HG, kelahiran Tasikmalaya, 31 Mei 1977. Alamat tempat tinggal di Tasikmalaya, RA, kelahiran Ciamis, 30 April 1977. Alamat tempat tinggal di Tasikmalaya,dan JG, kelahiran Garut, 17 Mei 1988. Alamat tempat tinggal di Tasikmalaya.

Barang bukti yang diamankan; sangkur, belati, amunisi peluru kaliber 9 mm sebanyak 25 butir, pku 25 buah, katapel 2 buah, busur besi 3 buah, peluru gotri 69 butir, golok 2 buah, serta peluru senapan angin 48 butir.

Saat sedang dibawah petugas, RA dan JG melawan petugas. Mereka mencekik dan berupaya merebut senjata api. Polisi akhirnya melakukan tindakan tegas, keduanya ditembak. RA dan JG lalu dibawa ke RS Bhayangkara, Kelapa Dua, Depok. RA meninggal dunia. JG masih menjalani perawatan.(tim).