Ketika Teroris Bercokol di Kampus

Pekanbaru, Riau (855.news.com) -- Rektor Universitas Riau Aras Mulyadi mengapresiasi atas keberhasilan Polri mengungkap jaringan terorisme di kampus tersebut. 

"Saya atas nama pimpinan seluruh civitas academica menyampaikan terima kasih kepada Densus 88 dan juga Polda Riau yang telah mengungkap kejadian ini," kata Aras Mulyadi di Pekanbaru, Minggu 3 Juni 2018.

Aras mengatakan andai teror jaringan terduga teroris yang ditangkap di Gedung Gelanggang Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (FISIP) Universitas Riau itu dilakukan sebelum penangkapan, akan menimbulkan banyak korban jiwa.

Ia mengatakan bahwa pihaknya mempercayakan penanganan secara hukum tiga terduga teroris yang merupakan alumni FISIP Universitas Riau itu kepada polisi.

"Saya percaya akan diselesaikan sesuai dengan peraturan perundangan-undangan oleh Densus 88 dan badan antiteror serta berbagai pihak terkait lainnya," tuturnya.

Aras mengatakan seluruh civitas academica perguruan tinggi negeri itu mengutuk keras kegiatan teroris yang dilakukan tiga alumninya tersebut. Menurut dia, tindakan tersebut sama sekali bukan tindakan terpuji dan jelas sebuah tindakan yang terlarang.

"Terus terang seluruh civitas academica mengutuk kegiatan yang mengarah ke bom, dan dibuktikan dengan ini," ujarnya.

Selama ini, kata dia, pihak kampus sama sekali tidak mencurigai seluruh kegiatan, terutama yang melibatkan alumni di salah satu perguruan tinggi tertua di Riau tersebut. Atas dasar itu Aras mengaku sangat menyayangkan dengan adanya insiden tersebut. Apalagi, sambungnya, terduga menggunakan gelanggang mahasiswa untuk menutup jejak pembuatan bom rakitan yang diduga bakal dipakai menyerang DPR dan DPRD RIau tersebut.

Kini, sambung Aras , pihaknya akan segera melakukan konsolidasi secara internal setelah kejadian itu guna mencegah kejadian serupa terjadi lagi.

Tiga terduga teroris yang merupakan alumni FISIP Unri diamankan Densus 88 Antiteror Polri bersama Polda RIau dari gelanggang mahasiswa FISIP UNRI. Dari tangan terduga, polisi menyita empat bom rakitan siap pakai dan berbagai bahan peledak lain.

Target Pengeboman

Seperti diketahui, Tiga terduga teroris yang ditangkap Detasemen Khusus 88 Antiteror Polri bersama dengan Polda Riau di kampus Universitas Riau menargetkan peledakan di Gedung DPR RI dan DPRD Provinsi Riau.

"Berdasarkan hasil pemeriksaan akan diledakkan di DPRD dan DPR RI," kata Kapolda Riau Irjen Pol Nandang dalam keterangan pers di Pekanbaru, Sabtu 2 Juni 2018.

Tiga terduga teroris masing-masing berinisial Z, D, dan K ditangkap tim gabungan di Gedung Gelanggang Mahasiswa, FISIP, Universitas Riau, pada sore harinya.Tiga terduga tersebut merupakan alumni dari kampus tersebut. 

"Tersangka berinisial D alumni jurusan Administrasi negara, K alumni tahun 2004 jurusan Ilmu Komunikasi, dan Z alumni tahun 2005 jurusan Pariwisata Fakultas ilmu sosial dan Ilmu politik Universitas Riau," tutur Nandang.

Dari tangan ketiganya, polisi menyita empat unit bom rakitan memiliki daya ledak tinggi. Selain itu, polisi juga menyita sejumlah serbuk-serbuk bahan pembuat bom dari gelanggang mahasiswa FISIP Unri yang sejatinya merupakan sekretariat bersama kelembagaan mahasiswa tersebut.

Nandang menjelaskan ketiga terduga teroris itu sengaja menggunakan kampus untuk menutupi jejak mereka, terutama dalam merakit bom.

"Kebetulan barang bukti ini dirakit di Sekretariat Kelembagaan Gelanggang Mahasiwa. Mereka numpang tidur di mes Mapala Sakai selama sebulan (selama perakitan bom)," ujarnya.

Dua Pekan

Nandang mengatakan jajarannya mulai mendeteksi keberadaan terduga teroris sejak dua pekan terakhir sebelum melakukan penggerebekan.

"Dua minggu sudah (mulai) dilidik (penyelidikan)," kata Nandang .

Awalnya, kata dia, Polda Riau bersama dengan Densus 88 setelah mendapat cukup bukti bermaksud melakukan penggerebekan tersebut pada hari Jumat 1 Juni 2018. Namun, penggerebekan itu urung dilakukan atas dasar beberapa pertimbangan.

"Baru bisa dilakukan hari Sabtu," ujarnya.

Sebelum melakukan penggerebekan, polisi terlebih dahulu telah mengumpulkan data terkait dengan siapa, bagaimana, dan bentuk aktivitas mencurigakan di perguruan tinggi negeri terbesar di Riau tersebut.

"Setelah memperoleh data awal akurat, tentang siapa, bagaimana, akan lakukan apa, sudah diketahui sedari awal, baru digerebek," katanya. (tim).