Prostitusi Online di Apartemen Center Point

Kota Bekasi (855.news.com) -- Satpol PP Kota Bekasi menyebut pelaku prostitusi di Apartemen Center Point di Jalan Ahmad Yani, Bekasi Selatan biasa beroperasi secara online. Mereka memanfaatkan harga sewa murah menggunakan fasilitas di sana untuk melayani pelanggan.

"Harga sewa sehari semalam itu tak lebih dari Rp 500 ribu, cara menyewa juga sangat mudah dibanding sewa hotel," kata Kasat Pol PP Kota Bekasi, Cecep Suherlan saat dikonfirmasi pada Selasa 9 Oktober 2018.

Pada Sabtu malam lalu, aparat Polres Metro Bekasi Kota menggerebek sejumlah kamar di tower C dan D. Polisi menemukan 21 pekerja seks komersial, dan tiga orang mucikari yang belakangan telah ditetapkan sebagai tersangka.

Dalam kasus itu, polisi menyita belasan kondom, uang tunai Rp 4,5 juta, dan tiga telepon selular. Para mucikari Mustakim, Jenio, dan Saputra dijerat dengan pasal 296 dan atau 506 KUHP dengan ancaman penjara selama empat tahun.

Cecep mengaku telah mencurigai adanya praktik prostitusi di apartemen dengan empat tower tersebut. Pasalnya, penawaran jasa prostitusi dengan fasilitas apartemen itu seliweran di media sosial seperti facebook, twitter, dan lainnya.

"Setiap kami melakukan kegiatan di sana, sekuriti kurang kooperatif," ujar Cecep.

Cecep menilai fenomena prostitusi online di apartemen bukan bagian dari perpindahan PSK dari jalanan atau pun eksodus dari luar daerah. Menurut dia, para PSK di sana diduga telah lama beroperasi menggunakan fasilitas tersebut.

"Kami akan segera koordinasi dengan pihak terkait untuk mendata penghuni, serta jasa penyewaan unit apartemen," ujar Cecep.

Seorang agen jasa penyewaan apartemen, Esi mengatakan harga sewa untuk jenis dua kamar senilai Rp 400 ribu per hari. Menurut dia, fasilitas yang diberikan sudah lengkap seperti full furnished, lemari es, serta pendingan ruangan.

"Penyewa tinggal tidur, karena semua sudah lengkap," ujar agen yang memiliki 35 unit di apartemen Center Point ini. 

DPRD Bekasi Bereaksi

Komisi 1 DPRD Kota Bekasi mengagendakan pemanggilan pengelola apartemen di wilayah setempat. Hal ini dipicu telah terbongkarnya praktik prostitusi online di Apartemen Center Point, Jalan Ahmad Yani, Bekasi Selatan oleh Pihak Kepolisian.

"Apartemen sebagai tempat tinggal dan menginap berpotensi menjadi pusat transaksi bisnis illegal," kata Ketua Komisi 1 DPRD Kota Bekasi, Choiruman Juwono Putro di Bekasi, Rabu 10 Oktober 2018.

Menurut politisi asal PKS ini, tingkat privasi dan penjagaan yang ketat di apartemen, serta tidak adanya akses publik menyebabkan peluang hunian vertikal dijadikan praktik kriminal muncul.

"Perlu ada satu peraturan dalam pengelolaan apartemen. Peraturan itu yang bisa mengikat pihak pengelola apartemen," kata Choiruman.

Misalnya, kata dia, dalam aturan tersebut pihak apartemen akan terkena dampak sanksi apabila tidak memiliki sistem untuk bisa mengatasi atau mengantisipasi munculnya praktik kriminal yang serupa.

"Ini menjadi catatan, khususnya bagi apartemen yang sudah beberapa kali memiliki record catatan dijadikan sebagai tempat kriminal," katanya.

Karena itu, lembaganya akan mengagendakan pertemuan dengan beberapa apartemen bersama kepolisian. Menurut dia, pihaknya perlu masukan dari kepolisian untuk menentukan regulasi khusus tempat tinggal di hunian vertikal. Mengingat apartemen di Kota Bekasi mulai menjamur. (BK)