PKI Bangkit ?

Oleh Dasman Djamaluddin

Pernyataan Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan soal PKI setahun yang lalu, 2019 memang nyata dan itu menjadi perbinbincangan warganet, karena Anies memperingatkan agar senantiasa waspada terhadap ancaman yang ingin mengganti Pancasila dengan komunis.

Anies menjadi inspektur upacara Peringatan Hari Kesaktian Pancasila tahun lalu, 2019 di Lapangan Silang Monas, Jakarta. Menurutnya, upacara ini dapat mengingatkan bahwa ancaman penggantian ideologi Pancasila ke komunis itu nyata.

Tahun 2020 ini viral vIdeo yang beredar di kota Palembang mengenai adanya salah satu supermarket yang menjual atribut PKI membuat Ketua Pemuda Pancasila Kota Palembang Nursyamsu M.A.H Iding geram dan marah, Sabtu, 23 Mei 2020.

PT. MR D.I.Y yang terletak di jalan Letkol. Iskandar persisnya di Palembang Indah Moll (PIM) ini di ketahui sudah memajang atribut PKI di salat satu etalasenya. Saat di klarifikasi keberadaan stiker tersebut pihak manajamen tidak mengetahui adanya stiker tersebut. Mereka mengatakan pihak manajemen Jakarta yang mengirim barang tersebut.

Hal ini menurut Nursyamsu sudah melanggar Ketetapan MPRS Nomor XXV/MPRS/1966 Tahun 1966

“Pembubaran Partai Komunis Indonesia, pernyataan sebagai organisasi terlarang di seluruh wilayah negara Republik Indonesia bagi Partai Komunis Indonesia dan larangan setiap kegiatan untuk menyebarkan atau mengembangkan faham atau ajaran Komunis/ Marxisme-Leninisme."

Untuk itu Pemuda Pancasila Kota Palembang akan melaporkan pelanggaran ini ke pihak yang berwajib.

Sebagai Ormas Nasional yang bertugas sebagai pengawal Pancasila akan tampil di garda terdepan dalam menghentikan setiap langkah langkah idioligi Komunis yang akan merusak Pancasila di NKRI

“Ini sudah melanggar ketetapan MPR, kami akan lakukan tindakan hukum terhadap Manajemen DIY” ujar Nursyamsu.

Sebelumnya Majelis Pimpinan Wilayah (MPW) Pemuda Pancasila sudah mengintruksikan untuk melaporkan kepihak yang berwajib apabila menemukan atribut atau lambang PKI beredar di masyarakat, melalui Amin Tras Ketua Badan Penyuluhan dan Pembelaan Hukum BPPH Pemuda Pancasila Sumsel melakukan Sidak di langsung ke PIM Palembang.

Sementara itu, Pulau Kemarau, Palembang, tercatat pernah menjadi kamp konsentrasi tapol PKI.

Orang-orang yang berhasil ditahan oleh aparat keamanan mengalami penyiksaan selama masa penahanan sebelum akhirnya dibunuh dan dihanyutkan ke laut.

"Ada juga yang ditenggelamkan hidup-hidup ke laut dengan cara diikatkan dengan pemberat, seperti besi," tutur Bejo.

Pulau Kemaro Saksi Pembantaian PKI

Sampai saat ini bukti sejarah Pulau Kemaro dijadikan penjara dan pembantaian PKI di Palembang masih terlihat jelas. 

Dikutip dari Sripoku.com, Sabtu, 23 September 2017 memuat jelas tentang pergerakan PKI di Sumatera Selatan. Diceritakan tentang peristiwa di Pulau Kemaro.

Pulau Kemaro, merupakan sebuah delta kecil di Sungai Musi, terletak sekitar 6 km dari Jembatan Ampera. Pulau Kemaro terletak di daerah industri, yaitu di antara Pabrik Pupuk Sriwijaya dan Pertamina Plaju dan Sungai Gerong. Posisi Pulau Kemaro adalah agak ke timur dari pusat Kota Palembang. 

Ada beberapa puing-puing bekas bangunan yang memperlihatkan pulau kecil di tengah Sungai Musi, Palembang, memang benar dijadikan tempat eksekusi anggota PKI.

Menara-menara penjagaan setinggi lima meter berdiri di setiap sisi penjara, kapal dan perahu juga tidak boleh sembarang mendekat.

Permukaan tanah di lokasi bekas penjara ini banyak berlubang.

Berdiameter satu sampai dua meter dengan kedalaman 20-50 centimeter.

Puing bangunan setinggi satu meter, menyerupai pos jaga masih terlihat jelas setiap orang memutari pulau menggunakan perahu motor (ketek).

Menurut sumber Sripo bernama Dolah, dikatakan jika Pulau Kemaro diperuntukkan bagi anggota PKI kelas A yang kebanyakan berasal dari Bangka.

Asal Palembang memang ada, tapi yang benar-benar "komandannya", bukan anggota biasa.

Masa itu menurut dia sudah biasa melihat darah mengalir di sungai.

Bahkan, mayat mengapung di sungai sudah bukan hal yang aneh.

Bahkan suara tembakan eksekusi anggota PKI juga dianggap hal yang biasa.

"Kami dulu tidak boleh mendekati penjara itu. Ada batasnya. Seratus meter dari penjara tidak boleh mendekati, kalau masih ngeyel ditembak. Begitu juga ketika ada mayat yang mengapung tidak boleh diurusi, kalau berani coba-coba ya dihajar benar," katanya yang mengaku tinggal lama di lokasi

Eksekusi yang dilakukan tidak selalu malam. Kata dia, tahanan disuruh memanjat pohon kemudian ditembak dari bawah. Ketika sudah demikian langsung dimasukkan dalam karung berukuran besar dan dibuang ke sungai.

"Setiap karung itu ada sekitar 10 sampai 15 orang. Kadang ada yang belum mati dimasukkan disitu. Kan karungnya dikasih pemberat besi, dibuang ke sungai. Beberapa hari mayatnya mengambang, timbul dan makanya banyak yang balik ke sungai kami sini lagi," kenangnya.

"Jadi ndak ada mayat yang dieksekusi itu di kubur. Mayatnya dibuang ke sungai semua, ditenggelamin," tambah dia.

Penjara di Pulau Kemaro akhirnya tidak digunakan lagi ketika pemberontakan PKI sudah reda.

Hingga akhirnya tidak terurus dan kini tinggal puing-puingnya saja. 

Kita yakin, PKI telah ditumpas, tetapi dengan munculnya video dan gejala-gejala munculnya PKI di Sumatera Selatan patut juga diwaspadai.(*).