Karbala, 10 Muharram dan Perjalanan Bersejarah Tak Terlupakan

Oleh :Dasman Djamaluddin

Inilah Padang Karbala. Tulisan ini, saya kerjakan pada hari Kamis, 20 September 2018, bertepatan dengan 10 Muharram, ketika umat Islam sesuai sabda Nabi Muhammad Sallalallahu Alaihi Wassalam dianjurkan berpuasa. Tahun 2019, 10 Muharram bertepatan dengan hari, Selasa, 10 September 2019.

Memang banyak peristiwa yang terjadi pada 10 Muharram, di antaranya para Nabi selamat dari ujian Allah Subhanahu Wata'ala. Di antaranya Nabi Yunus Alaihi Salam keluar dari perut ikan.

Tetapi ada pula peristiwa menyedihkan, di mana anaknya Ali Radiallahu Anhu (RA) pada 10 Muharram terbunuh di Padang Karbala, Irak. Foto di atas,  saya abadikan ketika pada tahun 2014, hari Minggu, 21 September,  berada di Padang Karbala, Irak.

Sekarang memang Padang Karbala itu, tidak seperti masa lalu, disebut "padang," karena merupakan lapangan atau tanah yang juga bisa disebut gurun pasir yang sangat luas.

Sekarang banyak bangunan di atasnya. Pun di dalam bangunan di atas, banyak makam para pahlawan perang di Karbala. Apakah di sana terdapat pula makam Hussein, anaknya Ali RA?  Tidak seorang pun bisa menjawab.

Di dalam bangunan di Karbala, saya menyaksikan banyak warga dari berbagai negara datang. Apalagi pemerintah Irak telah membangun Bandara di sekitar tempat itu, sehingga tidak harus melalui ibu kota Irak, Baghdad, seperti yang saya alami. 

Waktu itu, saya memang diundang Duta Besar Indonesia di Irak, Letjen TNI (Marinir) Safzen Noerdin, sehingga saya bersama staf kedutaan berangkat dengan mobil anti peluru ke Karbala.

Situasi di Irak pada tahun 2014 itu berbeda ketika saya ke Irak pertama kali pada bulan Desember 1992, karena Presiden Irak Saddam Hussein masih hidup. Pada tahun 1992 boleh dikatakan aman.

Foto ini menggambarkan kunjungan saya ke Irak pada tahun 1992. Hanya bedanya jika tahun 1992, saya ke Baghdad sebagai wartawan "Merdeka," pimpinan Burhanudin Mohamad (B.M) Diah, tetapi tahun 2014, saya mendapat undangan khusus dari Duta Besar Indonesia di Irak.

Kembali ke perjalanan keduakalinya ke Irak, saya berkunjung ke Padang Karbala. Saya sempat menitikan air mata mendengar para pengunjung berbagai negara berkali-kali meneriakan nama Hussein.

"Hussein, oh Hussein," terdengar silih berganti. Memang Hussein meninggal secara menyedihkan. Lehernya dipancung musuh dan dijadikan arena permainan kaki-kaki kuda musuh. 

Pada peristiwa di Karbala itu, pasukan Hussein dengan 70 orang,  30 berkuda dan 40 berjalan kaki, memang awalnya tidak dipersiapkan untuk berperang, melawan 103 orang dengan 10.000 pasukan bersenjata lengkap, memang tidak seimbang. Hussein dijebak. Tewasnya Hussein terjadi pada 10 Muharram.

Setelah peristiwa Karbala, umat yang marah justeru penduduk Hijjaz, Madinah dan Mekah. Di bawah pimpinan Abdullah bin Zubair, mereka mengangkat senjata dan  menuntut ditegakannya qisas. 

Berkaitan dengan perjalanan saya ke Padang Karbala, hal itu tidak dapat dilepaskan dari serangkaian perjalanan saya ke Irak. Di mana sebelumnya pada hari Sabtu, 20 September 2014, saya bersama staf Kedubes RI di Irak berkunjung ke Masjid Ali RA, Masjid al-Kufa atau al-Kufah.

Di samping masjid inilah, Ali r.a  melaksanakan tugasnya sebagai Khalifah dan di dalam masjid ini pula beliau tewas ditikam, ketika sedang salat subuh. Innalillahi wainnailaihi Rajiun.(*)