Virus Corona Hentikan Keinginan Perang AS-Iran

Oleh Dasman Djamaluddin

Peta ini sungguh mengkhawatirkan negara-negara di Timur Tengah. Beberapa pangkalan militer Amerika Serikat (AS) terdapat di kawasan itu.

Perang besar antara AS dengan Iran pasti terjadi jika pandemi corona tidak muncul. Waktu itu sejumlah besar pasukan AS yang mundur dari Suriah tidak dipulangkan ke tanah airnya. Mereka hanya dipindahkan dari Suriah ke Irak.

Dapat kita saksikan barisan tank AS memasuki Irak. Bukan tidak mungkin, bahwa AS sedang bersiap-siap menyerang Iran dari Irak, karena kedua negara, Irak dan Iran berbatasan langsung.

Tetapi semua terhenti karena merebaknya virus corona. Pasukan Australia di Irak yang selama ini membantu AS dikabarkan sudah dipulangkan ke Australia, karena takut tentaranya terjangkit virus corona.

Tidak hanya virus corona yang melanda AS. Juga AS baru-baru ini rusuh. Para demonstran kulit hitam dan yang bersimpai menyusul tewasnya George Floyd di Minneapolis, Minnesota, Amerika Serikat, hingga Sabtu dinihari, 30 Mei 2020, turun ke jalan dan membakar bangunan sebagai aksi protes.

AS mungkin berpikir ulang untuk terus melakukan invasi ke berbagai negara. Sebetulnya di Indonesia pada tahun 2002, khususnya di Majalah Mingguan AS "TIME," edisi 1 April 2002, Indonesia juga digambarkan sebagai Negara Daulah Islamiyah. Di dalam majalah itu diuraikan berbagai kemugkinan Indonesia  bisa saja bergerak atau membentuk Negara Daulah Islamiah Raya.

Pada tahun yang sama, tahun 2002 itu, AS sedang bersiap-siap menyerang Irak. Invasi AS ke Irak terjadi pada 20 Maret 2003. Presiden Irak Saddam Hussein ditangkap oleh AS pada 13 Desember 2003.

Hingga hari ini tidak seorangpun tahu mengapa Majalah "TIME ," menganggap Indonesia sebagai Negara Daulah Islamiah Raya? Mengapa pada akhirnya AS membentuk Negara Islam di Irak dan Suriah (ISIS) yang kemudian dianggap gagal dan dihancurkan sendiri, tetapi tidak di Indonesia seperti berita di Majalah "TIME" ? Apakah, penamaan Indonesia sebagai Negara Daulah Islamiah Raya, hanya berlatar belakang bahwa pernah ada gerakan Darul Islam/ Tentara Islam Indonesia di bawah Kartosuwiryo?

Jelas bahwa gerakan Islam oleh AS itu bukan dimulai dari Indonesia, tetapi yang kita lihat berawal dari Irak dan Suriah. Sebuah nama yang tidak asing didengar yaitu ISIS.

Begitu pula ketika kelompok Taliban berkuasa di Afghanistan setelah Uni Soviet (sekarang Rusia) menarik pasukannya tanggal 1989. Taliban dibentuk pada September 1994, dan yang jelas mendapat dukungan dari Amerika Serikat dan Pakistan. Terapi Dewan Keamanan PBB mengecam tindakan kelompok ini karena kejahatannya terhadap warga negara Iran dan Afghanistan.

Kelompok Taliban melakukan berbagai aksi pelanggaran Hak Azasi Manusi (HAM) di Afghanistan, meskil kelompok ini mendapat pengakuan diplomatik hanya dari tiga negara waktu itu, yaitu Uni Emirat Arab, Pakistan, dan Arab Saudi, serta pemerintah Republik Chechnya yang tidak diakui dunia.

Waktu itu, anggota-anggota paling berpengaruh dari Taliban, termasuk Mullah Mohammed Omar, pemimpin gerakan ini. Mereka adalah mullah desa (pelajar yunior agama Islam), yang sebagian besar belajar di madrasah di Pakistan. 

Gerakan ini terutama berasal dari Pashtun di Afganistan, serta Provinsi Perbatasan Barat Laut (North-West Frontier Province, NWFP) di Pakistan, dan juga mencakup banyak sukarelawan dari Arab, Eurasia, serta Asia Selatan.

Tetapi setelah AS ikut mengakui Taliban, juga setelah itu AS juga yang menggulingkan. Taliban digulingkan oleh AS, karena dituduh melindungi pemimpin Al Qaeda Osama Bin Laden yang juga dituduh Washington mendalangi serangan terhadap menara kembar WTC, New York pada tanggal 11 September 2001 bekerja sama dengan kubu Aliansi Utara.

Invasi yang dilakukan Aliansi Utara dukungan AS ini dimulai pada bulan Oktober sampai dengan bulan November 2001 dengan secara mengejutkan sehingga pihak Taliban langsung keluar dari ibu kota Afganistan, Kabul. Pihak AS relatif cepat dan mudah menguasainya. Akan tetapi beberapa tahun setelahnya "American Free Press" mengungkapkan hal sebaliknya, yaitu keterlibatan CIA dan agen intelijen Israel, Mossad dalam peristiwa serangan 11 September 2001 hanyalah skenario untuk mengakuisisi negara-negara Arab, dalam hal ini Irak dan Afghanistan.

Selama kelompok Taliban berkuasa, mereka merusak patung-patung agama Budha di lembah Bamiyan. Lembah ini terkenal dengan keindahan alamnya. Ia terletak di Afghanisan tengah dan berjarak sekitar 130 km barat laut dari Kabul, ibukota Afganistan, dan berada di ketinggian 2.590 mdpl. 

Di masa lampau, lembah ini termasuk ke dalam Jalur Sutra yang termashur itu. Menghubungkan perdagangan antara Asia Selatan, Asia Tengah, Cina hingga ke Kekaisaran Romawi. Banyak pelancong sekaligus pedagang yang singgah di lembah Bamiyan, menjadikannya sebagai tempat pemberhentian dan istirahat.

Para pedagang dari China penganut Buddhisme ini kemudian mendirikan biara-biara peribadahan, tempat pertapaan, termasuk patung-patung keagamaan yang unik dan rumit. Unsur seni klasik dan unik bercorak Buddha kemudian berpengaruh kuat di wilayah lembah Bamiyan. Dalam perkembangannya kemudian, wilayah lembah Bamiyan menjadi saksi bagaimana lanskap budaya dan peninggalan arkeologis Buddhisme di Afganistan pernah berjaya di rentang abad ke-1 hingga ke-13. 

Menurut catatan ensiklopedia Britannica, Bamiyan pertama kali disebutkan dalam sumber-sumber manuskrip China abad ke 5, dan diketahui dikunjungi oleh para biksu Buddha China dan pelancong asal Faxian dan Xuanzang. Saat itu, tempat ini juga menjadi pusat perdagangan di Jalur Sutra dan basis Buddhisme. Maka, tak heran jika ada dua patung raksasa dari sosok tokoh Buddha. Mereka adalah Buddha Wairocana atau yang populer disebut "Solsol" dengan ketinggian 53 meter sekaligus yang terbesar, dan Gautama atau "Shahmama" setinggi 35 meter yang diketahui dibuat pada abad ke 4 dan 5. Karya bercorak Buddhisme di tebing-tebing Bamiyan ini bukan hanya dua patung raksasa itu saja. Banyak juga mural yang mirip dengan yang ada di Xinjiang, China.

Analisis terhadap mural-mural tersebut mengungkapkan bahwa penggunaan cat berbasis minyak pada abad ke-7 menjadi contoh awal lukisan minyak di dunia. Tidak heran apabila kemudian peninggalan arkeologis dan landmark budaya masa lampau di sepanjang jalur lembah Bamiyan, termasuk keberadaan patung Buddha raksasa yang dianggap terbesar di dunia ini, terdaftar sebagai Situs Warisan Dunia oleh UNESCO meski warna corak di dinding-dinding tebing terus memudar digerus waktu. Patung-patung ini yang kemudian dirusak Taliban.

Inilah persoalan mendasar saat ini, di mana ISIS atau Taliban tidak menunjukkan ciri khas Islam sesungguhnya. Di samping tidak mengikuti ajaran Islam sesungguhnya. Nabi Muhammad SAW itu selain nabi, beliau juga Panglima Perang. Ketika memasuki wilayah yang ditaklukkan, tidak ada satu pun rumah-rumah ibadah agama lain.

Dikutip dari NUOnline: "Dalam kitab at-Tabaqt karya Ibnu Sa'd dikisahkan bahwa ketika datang utusan Kristen dari Najran berjumlah enam puluh orang ke Madinah untuk menemui Nabi, Nabi menyambut mereka di Masjid Nabawi. Menariknya, ketika waktu kebaktian tiba, mereka melakukan kebaktian di masjid. Sementara itu, para sahabat berusaha untuk melarang mereka. Namun Nabi memerintahkan: da'hum 'biarkanlah mereka'."(*).