Bersama Mayor TNI Angkatan Laut Irfan Hilmy ke Masjid al-Kufah, Padang Karbala dan Makam Nabi Ayub

Oleh Dasman Djamaluddin

Kenangan ketika berada di Irak pada bulan September 2014 itu, bagaikan baru saja terjadi, ketika saya dan Mayor TNI Korps Marinir Mohamad Irfan Hilmy saling melakukan layanan pesan singkat pada hari Jumat, 19 Juni 2020. Mengapa tidak? Karena selama kunjungan saya ke Irak, hanya Hilmy yang sering di dekat saya menemani, apa saja yang saya butuhkan di Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Baghdad, Irak.

Sudah tentu semuanya itu dikarenakan perintah dari Duta Besar Republik Indonesia di Baghdad, waktu itu dijabat Letnan Jenderal TNI (Marinir/Purnawirawan) Safzen Noerdin.
Siapa Letnan Jenderal TNI Mar. Safzen Noerdin? Ia adalah mantan Komandan Korps Marinir Ke-15. Sejak tanggal 9 November 2004 menggantikan Mayjen TNI A.Rifai. Ia pernah menjadi Perwira Observer Perserikatan Bangsa-Bangsa di Irak tahun 1988, Pasukan Perdamaian PBB di Kamboja tahun 1992. Lahir pada tanggal 25 Januari 1952 di Krueng Sabee, Aceh Jaya.

Ke Masjid al-Kufa (Kufah)

Kenangan berkesan selama di Irak bersama Hilmy, yaitu pergi ke Masjid Al-Kufa, di Kufa Irak. Pengalaman ini pernah saya tulis di Kompasiana, tanggal 3 April 2015.

Masjid Al-Kufa, di Kufa, Irak adalah perjalanan berkesan saya selama di Irak, September 2014, tepatnya hari Sabtu, 20 September 2014. Sebuah masjid yang dibangun Abad VII yang luasnya 11.000 persegi. Kufa atau Kufah merupakan sebuah kota di Irak. Jaraknya 170 km di selatan Baghdad.

Sudah dapat dipastikan memasuki Masjid itu saya sangat kagum. Masjid itu terawat dengan baik, bersih dan berlapiskan cahaya lampu. Di samping itu, saya bersama beberapa staf Kedutaan Besar RI di Baghdad, diajak berkeliling dan juga diperlihatkan di mana Sayidina Ali r.a, sahabat Nabi Muhammad SAW berkantor di dalam sebuah ruangan selama di sana. Staf kedutaan menyuruh saya melakukan sholat di sebuah tempat yang dianggap dekat makam sahabat Rasulullah tersebut.

Buat saya, persoalan shalat atau berdoa sebagai seorang Sunni tidak ada masalah. Memang ada perbedaan cara shalat antara Sunni dan Shi'ah dan sepertinya tidak perlu dibicarakan. Pun ketika ada yang mengatakan, bagi seorang Shi'ah, inilah tempat suci sebagaimana Masjidil Haram di Mekkah tempat suci ummat Islam Sunni. Saya berdoa dan shalat menurut ajaran yang saya anut sebagai seorang Sunni. Saya shalat karena diminta oleh staf Kedutaan Besar RI di Baghdad. Pun jika ada yang mengatakan, perjalanan saya hampir mirip naik haji seperti di Mekkah, itu pun tidak mempengaruhi saya. Insya Allah, saya tetap merencanakan naik haji ke Mekkah. Saya menghormati aliran di mana saya berada, tetapi tetap sebagaimana keyakinan saya sebagai seorang Sunni.

Pergi ke makam sahabat Rasulullah (Ali r.a) itu sebagai seorang manusia, pasti sedih. Beliau meninggal dibunuh. Sama halnnya dengan Khalifah sebelumnya, Usman. Saya menitikkan air mata, ketika pemandu bercerita tentang sahabat Nabi itu. Hanya yang menjadi perbedaan  antara Sunni dan Shi'ah adalah bahwa sebagai khalifah, pengganti Nabi Muhammad SAW itu   dipilih atau otomatis terpilih. Di sinilah perbedaan mendasar antara Sunni dan Shi'ah dalam hal siapa pengganti Rasulullah SAW. Si'ah berpendapat pengganti Rasulullah adalah Ali r.a, (otomatis) karena belaiulah yang tepat mengganti Rasulullah, bukannya Abu Bakar, Umar dan Usman yang dipilih secara musyawarah (Sunni). Banyak hal-hal lain yang tidak perlu dibicarakan dalam perjalanan ini.

Saya tidak membicarakan perbedaan ini selama di Masjid Kufah. Saya bersyukur sebagai seorang Sunni bisa melihat dengan jelas perbedaan antara Sunni dan Shi'ah.

Setelah berkeliling, saya pun kembali ke penginapan. Besok, pada Hari Minggu,21 September 2014 perjalanan akan dilanjutkan ke Karbala di mana anaknya Ali r.a, Hussein secara mengenaskan dibunuh dan kepanya lepas dari badan. Ada yang mengatakan kepalanya ditendang oleh kaki-kaki kuda musuh.

Setelah beristirahat di Kufah, kami melanjutkan perjalanan ke Karbala. Dulunya sebuah padang pasir di mana Hussein, anaknya Ali r.a terbunuh secara mengenaskan. Kalau dibaca secara mendalam, keluarga sahabat Nabi Muhammad SAW yang satu ini sungguh malang. Ali r.a dibunuh.Hassan, anak Ali r.a yang satunya meninggal dunia karena diracun. Hussein, kepalanya dipenggal oleh musuh.

Kami tiba di Karbala, dulunya disebut Padang Karbala, karena di sinilah tempat pertempuran, padang yang luas. Saya masuk ke gedung Karbala itu.Banyak yang berziarah dan berdo"a seraya menangis. Sebagai seorang manusia, air mata saya juga menetes. Saya ikut berdoa dikerumunan banyak orang di atas makam Hussein yang sudah tentu dipagari. Ini sebuah kehendak Allah SWT. Kepala Hussein dipenggal ketika bertempur dengan musuh. Bahkan ada yang mengatakan kepala Hussein di arak berkeliling dan ditendang ke sana kemari oleh kaki kuda musuh.Mungkin tidak banyak yang harus saya ceritakan tentang kematian Hussein. Kitab-kitab tentang kematian ini sangat banyak. Bagi Shi'ah, kematian Hussein selalu diperingati. Saya hanya bisa berkata, ini semua kehendak Allah SWT. Kita tak bisa menentukan bagaimana kita mati dan bagaimana cara kita mati.

Setelah dari Padang Karbala, kami melanjutkan perjalanan pulang. Di perjalanan kami singgah di makam Nabi Ayub a.s. Saya sempat berdoa lagi di sini. Ingat akan cerita Nabi Ayub a.s yang separuh hidupnya dicoba Allah dengan sakit dan tersingkir dari masyarakatnya. Nabi Ayub a.s menggambarkan sosok yang tabah dan redha akan cobaan Allah SWT. Tidak pernah mengeluh bahkan imannya kepada Allah SWT semakin kuat.

Inilah perjalanan saya selama di Irak. Tidak sempat ke tempat lain, karena situasinya darurat. Perjalanan di bulan September 2014. Alhamdulillah saya bisa membandingkan perjalanan ini dengan perjalanan pertama kali saya ke Irak pada Desember 1992. Sekarang kelompok Shi'ah yang berkuasa. Pada masa Saddam Hussein, Sunni yang minoritas berkuasa.(*)