Kanye West Muncul Mendukung Trump

Oleh Dasman Djamaluddin

Rapper Kanye West mencalonkan diri sebagai kandidat Presiden AS 2020-2024. Ternyata keinginan ini mendapat dukungan dari CEO Tesla Elon Musk. Bahkan perkembangan terakhir, ia banyak memperoleh dukungan dari berbagai pihak.

Elon Musk sendiri memberikan dukungannya dengan membalas cuitan Kanye West soal pencalonan dirinya sebagai Presiden AS dan bertarung melawan Donald Trump dan Joe Biden.

Sebenarnya yang terjadi nanti, jika Kanye West maju sebagai calon independen, ia tidak mungkin menganggu Pilpres AS antara Donald Trump (Republik) dan Joe Biden (Demokrat). Suaranya sudah pasti akan diserahkan kepada Trump.

Kanye Omari West adalah seorang musisi, rapper dan produser rekaman AS. Ia memiliki perusahaan rekaman Good Music. Kanye West dilahirkan di Atlanta, Georgia, di mana ia tinggal bersama kedua orangtuanya. Ketika ia berusia tiga tahun, mereka bercerai, lalu ia dan ibunya pindah ke Chicago, Illinois. 

Ini langkah Donald Trump untuk memenangkan kursi orang nomor satu di AS untuk periode empat tahun berikutnya.

Tetapi berita terakhir mengungkapkan, bahwa keponakan dari Donald Trump, Mary L Trump, akan menerbitkan buku barunya, berjudul "Too Much and Never Enough," yang bercerita tentang latar belakang Presiden Amerika tersebut. Namun, Mary tidak bercerita tentang sisi positif Trump, melainkan sisi buruknya. 

Sama seperti buku karya mantan panasehat kemanan nasional Amerika, John Bolton, buku Mary Trump juga menggambarkan Trump sebagai figur bermasalah. Saking bermasalahnya, Mary Trump sampai menganggap Trump berbahaya bagi Amerika, bahkan dunia. 

"Ia adalah pria yang mengancam dunia, kestabilan ekonomi, serta ikatan sosial," ujar deskripsi buku Mary Trump terhadap pamannnya tersebut, sebagaimana dikutip dari CNN, Selasa, 7 Juli 2020. 

Awalnya, buku Mary Trump akan diluncurkan pada 28 Juli nanti. Namun, karena tingginya minat terhadap buku tersebut, penerbit Simon & Schuster memutuskan untuk mempercepat peluncurannya. Buku Mary Trump dijadwalkan meluncur ke toko buku pada 14 Juli nanti. 

Sejauh ini, pemesanan buku tersebut sudah mencapai 75 ribu kopi. Di Amazon, buku Mary Trump bahkan mencapai peringkat pertama, mengalahkan buku John Bolton, "The Room Where It Happenned."

Mary Trump mendeskripsikan isi bukunya sebagai hasil observasi langsung terhadap Donald Trump. Ia ingin menyampaikan apa saja yang membentuk Trump sebagai figur yang "berbahaya" seperti sekarang. Mary Trump berkata, semua itu bermula dari masa kecil Donald Trump yang sudah bermasalah. 

Donald Trump jelas langsung bertindak atas buku Mary Trump, sama seperti responnya terhadap John Bolton dulu. Keluarga Donald Trump memperkarakan Mary ke pengadilan karena dianggap telah melanggar kesepakatan terkait rahasia Donald Trump. Mary Trump adalah psikolog Trump sebelumnya. 

Hasil persidangan tidak memperbolehkan Mary Trump untuk memberikan komentar apapun soal Trump. Namun, bukunya tetap diperbolehkan untuk terbit atau sebaliknya.

Terlepas dari buku Mary Trump, di buku John Bolton, "The Room Where It Happenned," Donald Trump diceritakan minta bantuan China untuk menang pemilu 2020.

Menurut kutipan buku John Bolton yang diterbitkan oleh Wall Street Journal, Trump meminta China menggunakan kekuatan ekonomi untuk membantunya memenangkan pemilu AS 2020.

"Trump kemudian, secara menakjubkan, mengalihkan pembicaraan ke pemilihan presiden AS mendatang, menyinggung kemampuan ekonomi China dan memohon kepada Xi untuk memastikan dia menang," tulis Bolton.

Bolton juga mengungkap, dirinya sudah menulis kata-kata yang persis diucapkan Trump kala mereka berdiskusi tentang permusuhan dengan China di AS, tapi proses pra cetak membuat keputusan untuk menghilangkannya.

Buku Bolton bisa juga tidak akurat lagi dengan memanasnya situasi di Laut China Selatan antara AS dengan China. Bahkan diramalkan akan terjadi Perang Dunia III. Tetapi boleh jadi juga, pernyataan Bolton ini benar. Menghangatnya situasi di Laut China Selatan memang direkayasa. Tidak akan terjadi apa-apa, sekedar menutupi dukungan RRC untuk AS.

Di buku Donald Trump, juga mengisyaratkan terbuka untuk menghilangkan batasan masa jabatan presiden

Dalam buku John Bolton, diceritakan juga tentang Xi Jinping yang merasa senang bekerja sama dengan Trump selama ini. Xi mengungkap "ingin bekerja dengan Trump 6 tahun lagi" yang langsung disetujui oleh Trump.

"Xi mengatakan dia ingin bekerja dengan Trump selama enam tahun lagi dan Trump menjawab bahwa batas konstitusional dua masa pada presiden harus dicabut untuknya," tulis Bolton.

"Xi mengatakan Amerika Serikat memiliki terlalu banyak pemilihan, karena dia tidak ingin meninggalkan Trump, yang mengangguk setuju," tulis Bolton.

Untuk semua itu, Donald Trump tawarkan bantuan pada pemimpin otoriter

Dalam bukunya, John Bolton kembali membuka mata dunia dengan mengungkap kasus di mana Trump mencoba membunuh penyelidikan kriminal sebagai bantuan kepada para pemimpin otoriter.

Salah satunya, seperti yang diterbitkan di "Washington Post" ketika Trump dan Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan berdiskusi di tahun 2018. Erdogan memberi memo pada Trump dan mengklaim perusahaan Turki yang sedang diselidiki AS tak bersalah.

"Trump kemudian memberi tahu Erdogan bahwa dia akan mengurus beberapa hal, menjelaskan bahwa jaksa distrik selatan bukan orangnya, tetapi orang Obama, masalah ini akan 'diperbaiki' ketika mereka digantikan oleh rakyatnya."

Selanjutnya, Donald Trump memuji kamp-kamp interniran China

Menurut John Bolton, Donald Trump juga menyetujui ketika Xi membela interniran China Muslim Uighur di kamp-kamp penahanan. Trump berkata bahwa itu adalah hal yang tepat.

"Menurut penerjemah kami," Bolton menulis, "Trump mengatakan bahwa Xi harus melanjutkan pembangunan kamp-kamp, yang menurut Trump adalah hal yang tepat untuk dilakukan."

Berdasarkan data dari dokumen partai Komunis yang bocor yang diterbitkan pada bulan November, setidaknya 1 juta Muslim Uighur ditahan di kamp tersebut.

Dengan berbagai perkembangan di AS jelang Pilpres AS bulan November 2020, Joe Biden bernama lengkap Joseph Robinette Biden, Jr. dari Partai Demokrat juga merasa optimis untuk menang. Ia adalah Wakil Presiden ke-47 AS, wakil Presiden Barack Obama. Pria yang lahir di Scranton, Pennsylvania ini juga merupakan seorang politikus dan pengacara.

Pria lulusan Universitas Delaware dan Universitas Hukum Syracuse ini sebelumnya sudah menjabat sebagai Senator AS dari Delaware selama 36 tahun (1973-2009). Joe pernah mengalami tragedi menyedihkan saat dirinya baru terpilih sebagai senator. Dirinya harus kehilangan istri dan anaknya yang masih bayi akibat kecelakaan mobil. (*)