Bangkitnya Organisasi Ekstrim di Masa Covid-19

Oleh Dasman Djamaluddin

Dunia internasional diingatkan ketika Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-bangsa (Sekjen PBB) António Manuel de Oliveira Guterres, GCC mengatakan tentang perkiraan semakin maraknya kegiatan kelompok ekstrim di berbagai negara di masa dunia dilanda Covid-19 sekarang ini.

Antonio Guterres mengatakan hari Selasa, 7 Juli 2020, bahwa kelompok-kelompok seperti ISIS, Al-Qaida, dan organisasi teroris lainnya dapat memanfaatkan peluang baru dari pandemi Covid-19. Tidak hanya teroris Islam tetapi juga Neo-Nazi, supremasi kulit putih, dan kelompok sejenis.

Memang masih terlalu awal untuk menilai implikasi pandemi virus corona terhadap terorisme. Tetapi kelompok-kelompok yang ingin mengeksploitasi perpecahan, konflik lokal, kegagalan pemerintah, dan kesulitan lainnya untuk tujuan mereka sendiri sedang mencoba muncul kembali.

Guterres menjelaskan, ISIS (Negara Islam di Irak dan Syam/ Suriah) sedang mencoba muncul kembali di Irak dan Suriah. Kelompok teroris itu sempat memiliki wilayah yang luas di dua negara tersebut.

Istilah Syam menunjukkan di antaranya Negara Suriah sekarang. Saat ini Syam yang dimaksud adalah selain Suriah adalah mencakup beberapa negara lainnya, seperti Lebanon, Yordania, dan Palestina.

Sementara, Duta Besar Tunisia untuk PBB, Kais Kabtani juga mengatakan, saat seluruh dunia memfokuskan perhatian untuk menanggulangi pandemi, kelompok-kelompok teroris juga mengincar keuntungan dengan mengabaikan otoritas pemerintah dan melancarkan serangan baru.

Pada bulan Mei lalu, Koordinator Kontra-Terorisme Uni Eropa  Gilles de Kerchove juga mengatakan, teroris sayap kanan dan milisi Islam mungkin akan melihat 'serangan terhadap petugas dan fasilitas medis akan sangat efektif'. Kerchove menambahkan sebab akan sangat mengejutkan masyarakat.  

"Teroris dan kelompok ekstremis ingin mengubah masyarakat dan sistem pemerintah melalui kekerasan, ingin mengeksploitasi krisis besar untuk meraih tujuan mereka," katanya dalam rapat dengan negara-negara Uni Eropa.

Teroris di Irak

Pernyataan Guterres mengenai ISIS sedang mencoba muncul kembali di Irak dan Suriah, sebenarnya tidak terlalu mengejutkan, karena di Irak lah awal terbentuknya Negara Islam Irak (ISI) dan kemudian berkembang ke negara tetangganya Suriah, sehingga dideklarasikanlah istilah ISIS (Negara Islam di Irak dan Suriah). Kelompok itu sempat memiliki wilayah yang luas di dua negara tersebut dan hal itu memang tercatat dalam sejarah.

Saya pernah menulis tentang ISIS ini di Kompasiana bulan Juli 2019, yaitu tentang Hoda Muthana, seorang perempuan berkewarganegaraan Amerika Serikat (AS) yang bergabung dengan gerilyawan ISIS di Suriah. Kekalahan ISIS di Suriah waktu itu, memaksanya untuk lari dari markas ISIS. Tetapi Hoda Muthana ditangkap pasukan Kurdi yang pro AS dan menahannya di kamp pengungsi di Suriah.

Cerita Hoda Muthana ini sudah banyak dipublikasi. Tetapi wawancara dengan "Fox News " dipublikasi hari Senin malam, 1 April 2019." Wawancara ini menarik, karena dilakukan di kamp pengungsi Suriah.

Lebih penting dari itu, ISIS ciptaan AS, yang dikutip dari berbagai sumber, tetapi kenapa Warga Negara AS yang bergabung dengan ISIS, juga jadi korban karena dilarang masuk kembali ke AS? 

Inti pokok wawancara Hoda Muthana itu tetap menginginkan agar pemerintah AS mau menerimanya untuk kembali ke AS, tanah kelahirannya. Ia memang lahir di New Jersey, AS.

New Jersey adalah sebuah negara bagian AS yang terletak di wilayah Atlantik Tengah dan timur laut Amerika Serikat. Negara bagian ini berbatasan di sebelah utara dengan New York, di sebelah timur dengan Samudera Atlantik di barat daya dengan Delawaredan, di barat dengan Pennsylvania. Bagian-bagian dari New Jersey terletak di dalam wilayah metropolitan New York dan Philadelphia. 

Keinginan kembali ke tanah kelahiran Hoda Muthana itu diungkapkannya kepada "Fox News," dan ia mengatakan tidak membenci warga negara AS dan berjanji tidak melakukannya lagi untuk bergabung dengan Negara Islam di Irak dan Suriah (ISIS) di Suriah.

Dilanjutkan oleh Hoda Muthana, bahwa tidak membenci warga AS. Kalimat ini bisa diartikan bahwa di masa lalu, memang ia sangat membenci warga negara AS.  Itu semasa ia bergabung dengan ISIS, bahkan dikaitkan dengan pencucian otaknya yang dilakukan ISIS. Inilah kegagalan strategi AS.

Sebelum saya datang, saya tidak pernah berbuat kejahatan, saya yakin saya tidak akan melakukan kejahatan di masa mendatang," ujar Hoda Muthana kepada "Fox News," dalam wawancara itu. Perlu dicatat, usianya sekarang relatif muda. Ia sekarang baru berusia 24 tahun, tetapi sudah berganti suami sebanyak tiga kali. Tidak dijelaskan, apakah perempuan yang dilahirkan di negara bagian New Jersey, AS itu tertarik bergabung dengan ISIS di usia 19 tahun.

Jika melihat berdirinya Negara Islam di Suriah, yaitu setelah berdiri di Irak, sangatlah mudah. Di Irak, pasukan Irak yang terkenal canggih itu lari menyelamatkan diri dari pasukan gerilyawan Negara Islam. Juga di Suriah, sehingga penggabungan kedua gerilyawan di Irak dan Suriah tersebut dinamakan gerilyawan ISIS.

Mula-mula di Irak berdiri tanggal 15 Oktober 2006 dan setelah itu di Suriah berdiri juga, maka resmilah gerakan ini menjadi Negara Islam di Irak dan di Suriah kemudian diresmikanlah sebagai ISIS pada 9 April 2013.

Hoda Muthana, tahun 2014 bergabung dengan ISIS di Suriah. Tetapi kalau membaca kalimat terakhirnya di "Fox News," ia mengubah opininya tentang AS. Apakah hal ini untuk mengambil simpati rakyat dan Presiden AS Donald Trump?

Menjelang Pemilihan Presiden AS, November 2020, istilah ISIS tidak lagi dipakai. Sebelumnya, ketika Barack Obama, mantan Presiden AS, yang dalam kampanya Presiden AS beberapa tahun yang lalu memunculkan Hillary Clinton (Partai Demokrat) bersaing dengan Donald Trump dituduh Trump (Partai Republik) , ia (Obama, Partai Demokrat) memang dituduh Trump menciptakan ISIS. Isu itu kemudian hilang. Sekarang persaingan antara Donald Trump (Partai Republik) dan Joe Biden (Partai Demokrat) mantan Wakil Presiden dari Obama, semakin ketat. Apakah isu bangkitnya ISIS dari Sekjen PBB ini akan menjadi tema kampanye dua calon Presiden AS periode mendatang?.(*)