Ingat Rusia, Ingat Perjalanan Tahun 1992 ke Moskow

Oleh Dasman Djamaluddin

Hari Selasa, 14 Juli 2020, "VIVA Militer," mengunduh sebuah kapal selam berpeluru kendali nuklir Rusia, Orel (K-266).

Hanya berselang beberapa hari pasca kapal perang Angkatan Bersenjata Federasi Rusia, "Pyotr Velikiy" atau yang lebih dikenal dengan "Peter the Great" muncul di Laut Barents, kini giliran kapal selam peluru kendali nuklir, Orel (K-266), yang membuat masyarakat dunia tercengang.

Kekuatan militer Rusia terlihat begitu canggih. Kapal selam peluru kendali nuklir Rusia itu tertangkap kamera tengah melewati Jempatan Sabuk Besar (The Great Belt Bridge), sebuah jembatan yang menghubungkan dua pulau di wilayah timur Denmark.

Dalam sebuah akun Twitter bernama @RALee85, ada dua foto yang memperlihatkan kapal selam peluru kendali nuklir Orel K-266 tengah melintas di Selat Skagerrak, bagian tenggara Denmark.

"Foto Proyek Orel K-266 dari Armada Utara 949A kapal selam bertenaga nuklir transit di Selat Skargerrak," bunyi pernyataan akun Twitter tersebut.

Kutipan singkat tersebut menggambarkan Rusia hari ini. Kecanggihan teknologi militer Rusia bisa juga disaksikan ketika membantu pemerintah Suriah, sehingga negara itu gagal diserang oleh pasukan Amerika Serikat tidak sebagaimana yang terjadi di Irak.

Rusia tidak hanya terpaku dengan kekuatan militernya, terapi negara itu merupakan negara komunis yang sangat menghargai kerukunan antar umat beragama. Ingatlah kita, ketika otoritas Rusia untuk wilayah Chechnya pada Jumat, 23 Agustus 2019, meresmikan sebuah masjid yang diklaim sebagai masjid terbesar di Eropa ?

Masjid itu bernama "Prophet Mohammed" yang terletak di kota Shali, Chechnya, Rusia, di mana acara peresmiannya dihadiri oleh pejabat tinggi perwakilan negara asing dan masyarakat sekitar.

Dikutip dari uk.reuters.com, Sabtu, 24 Agustus 2019, masjid itu berlantai marmer yang bagian dalam masjid mampu menampung lebih dari 30 ribu jamaah dan digambarkan oleh otoritas Chechen sebagai masjid terbesar dan paling indah di Benua Eropa.

Umat Muslim Rusia pun pernah memperoleh hadiah berupa peresmian masjid terbesar di Rusia, "Masjid Agung Moskow" atau "Moskovskiy Soborniy Mecet" oleh Presiden Vladimir Putin.

Dalam keterangan pers KBRI Moskow waktu itu, acara peresmian disiarkan langsung TV setempat. Indonesia diwakili Duta Besar RI Djauhari Oratmangun.

Hadir dalam peresmian masjid itu Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan dan Presiden Palestina Mahmoud Abbas. Dalam pidato pembukaan, Presiden Putin mengucapkan selamat kepada seluruh umat Muslim Rusia atas pembukaan masjid yang telah lama direkonstruksi.

Putin menyatakan keyakinan masjid tersebut akan menjadi pusat kerohanian penting dan menjadi sumber penyebarluasan ide-ide humaniter.

"Setulusnya saya ucapkan selamat atas pembukaan Masjid Agung Moskow. Ini merupakan peristiwa penting bagi umat Muslim Rusia," kata Putin.

Pengalaman di Moskow

Bagaimana pun Rusia adalah negara besar. Bertetangga dengan Republik Rakyat China (RRC). Bulan Desember biasanya selalu saya ingat menjadi kenangan tersendiri untuk pribadi saya, karena pertama kali mengunjungi Uni Soviet (sekarang Rusia) dalam perjalanan menuju Irak. Saya waktu itu diutus almarhum B.M. Diah (Burhanuddin Mohammad Diah) mengunjungi Irak. Tetapi di dalam perjalanan ke "Negara Seribu Satu Malam" itu, saya melalui Uni Soviet (sekarang Rusia), karena ini merupakan permintaan saya secara pribadi untuk melihat berbagai perkembangan baru di sana.

Tanggal 10 Desember 1992, saya meninggalkan Jakarta ke Moskow dengan pesawat Uni Soviet, Aeroflot. Pesawat mengudara selama 13 jam dan di Moskow dijemput oleh koresponden harian "Merdeka" Svet Zakharov.

Hari Minggu, 13 Desember 1992, saya meninggalkan Moskow menuju Baghdad. Tiga malam, saya di Moskow dan menginap di rumah koresponden harian "Merdeka, " Svet Zakharov, warga negara Rusia yang fasih berbahasa Indonesia.

Saya diantar Svet Zakharov ke Bandara Moskow. Udara dingin disertai salju yang turun tidak mematahkan semangat saya menuju Baghdad, ibu kota Irak. Saya ke Baghdad dulu dan  kemudian kembali lagi ke Moskow. Itulah rute perjalanan yang telah digariskan  atas kerja sama Harian Merdeka dengan Perusahaan Penerbangan Uni Soviet, Aeroflot.

Waktu itu Irak sedang mengalami larangan terbang, saya atau tamu siapa saja, entah pejabat tinggi atau rendah, terpaksa melalui Jordania, satu-satunya negara tetangga yang membuka perbatasannya dengan Irak.

Saya menempuh jalan darat dari ibu kota Jordania ke ibu kota Irak, Baghdad sepanjang 885 kilometer yang ditempuh selama 13 jam. Melelahkan, sekaligus menyenangkan, karena melewati hanya padang pasir yang luas. Jalannya rata hingga ke Baghdad.

Tanggal 22 Desember 1992, saya kembali dari Irak. Dari Amman, Jordania, saya kembali ke Moskow.

Udara di kota Moskow ketika saya kembali lagi di Moskow dari Irak, sangat dingin. Salju mulai turun. Saya hadir di sana saat-saat negara itu sedang dalam peralihan. Mikhail Gorbachev yang disebut-sebut sebagai tokoh pembaruan Uni Soviet (nama Rusia waktu itu), ketika itu tidak lagi berada di kantornya. Peralihan kekuasaan  secara damai sedang berlangsung di sana.

Sudah tentu keadaan masyarakat juga sedikit terganggu. Ada di antara mereka acuh tak acuh dengan pembaruan yang dikumandangkan Gorbachev. Yang jelas, sejak dikumandangkannya pembaruan di Uni Soviet, rakyat terjebak ke arah perbedaan pendapat. Di berbagai kota di Moskow, saya menyaksikan dari dekat banyaknya para pengemis dan  kaki lima-kaki lima penjual pakaian bekas. Menyedihkan.

Waktu itu, memang Gorbachev, mengenalkan konsep pembaharu dan ia adalah penganut Lenin yang setia mengumandangkan kosep Perestroika, dan merumuskan prinsip dasar-dasarnya.

Pada akhirnya, rakyat Uni Soviet tidak memahami apa yang dilakukannya. Ia pun mengundurkan diri sebagai presiden pada Desember 1991. Banyak yang mengatakan bahwa ia mengundurkan diri karena masalah kesehatan.

Gorbachev kemudian digantikan oleh Yeltsin. Jadi kepergian saya  ke  Uni Soviet, berada di bawah kepemimpinan  Yeltsin.  Akhirnya Yeltsin pada tanggal 31 Desember 1999, di bawah tekanan internal yang besar, pun mengumumkan pengunduran dirinya, meninggalkan kursi kepresidenan dan menyerahkan pimpinan Rusia ke tangan Perdana Menteri Vladimir Putin . 

Terpilihnya Putin sangat tepat bagi Rusia. Mikhail Gorbachev ketika bertemu dengan Putin pada bulan Agustus 2000 memastikan dia tidak akan merusak Demokrasi Rusia. Begitu pula Boris Yeltsin menyatakan Putin kepada seluruh rakyat Rusia bahwa "Dia dapat mengulangi kejayaan Rusia yang baru pada abad 21".

Ternyata benar, Putin mampu membawa kembali kejayaan Rusia.(*)