Beirut Meledak, Ada Apa ?

Oleh Dasman Djamaluddin

Beirut, ibu kota Lebanon, ada apa? Itu sebuah pertanyaan yang menarik, tetapi sulit menjawab penyebabnya.

Pertama, Beirut dan wilayah disekitarnya sejak lama telah menjadi arena pertarungan. Jangan sebut sejak ratusan tahun yang lalu, mulai saja sejak konflik ini berawal pada tanggal 12 Juli 2006, ketika Hizbullah menyerang kota Shlomi di Israel utara dengan rudal Katyusha, kemudian pasukan Hizbullah menyusup ke wilayah Israel.

Itu dikarenakan wilayah Lebanon berbatasan dengan Israel. Tidak mengherankan jika konflik perbatasan sering terjadi.

Beirut memang merupakan ibu kota negara Lebanon dan juga menjadi kota terbesar di negara tersebut. Kota ini didiami oleh 1,2 juta jiwa, tetapi bila daerah metropolitan disekitarnya dihitung menjadi 2,1 juta.

Sebelum Perang Saudara, Lebanon pecah, kota ini mendapat julukan "Paris di Dunia Timur" karena suasana kosmopolitannya. 

Insiden di Lebanon tidak hanya terjadi antara tentara Israel dengan tentara negara tersebut, juga sering terjadi antara warga Lebanon dan kelompok warga Palestina. Sebut saja, peristiwa di Ain ar-Rummanah, Beirut pada bulan April 1975, yang merupakan titik awal pertikaian warga Lebanon dan Palestina yang kemudian menjadi pemicu perang saudara ke seluruh wilayah Lebanon.

Perang  tersebut  melibatkan  kelompok-kelompok yang bersaingan, dan didukung oleh sejumlah negara tetangga. Orang-orang Kristen Maronit, yang dipimpin oleh partai Phalangis dan milisi, mula-mula  bersekutu dengan Suriah, dan kemudian dengan Israel, yang mendukung mereka dengan senjata dan latihan untuk memerangi fraksi PLO (Organisasi Pembebasan Palestina).

Sementara itu fraksi-fraksi lainnya bersekutu  dengan Suriah, Iran dan negara-negara lain di wilayah itu. Sejak 1978 Israel telah melatih, mempersenjatai, memasok dan menyediakan seragam bagi tentara Kristen Lebanon Selatan, yang waktu itu dipimpin oleh Saad Haddad.

Pertempuran dan pembantaian antara kelompok-kelompok ini mengakibatkan korban hingga ribuan orang. Beberapa pembantaian yang terjadi selama periode ini termasuk pembunuhan di Karantina Januari 1976 oleh pihak Palangis terhadap para pengungsi Palestinia, pembantaian Damour pada Januari 1976 oleh Organisasi Pembebasan Palestina (PLO) terhadap orang-orang Maronit dan pembantaian oleh Tel el-Zaata, Agustus 1976  oleh Palangis terhadap orang-orang pengungsi-pengungsi Palestina.

Dua penyerbuan besar atas Lebanon oleh Israel  (1978 dan 1982), juga ikut andil menghancurkan Lebanon. Waktu itu, 20.000 orang tewas, kebanyakan kaum sipil Lebanon dan Palestina. Jumlah korban keseluruhan selama masa perang saudara ini di perkirakan sampai 150.000 orang.

Perang itu juga menambah jumlah imigran Lebanon yang eksodus ke luar negeri di mana diperkirakan mencapai 14 juta jiwa.

Pada tahun 1989 semua wakil kekuatan politik, partai dan sekte keagamaan sepakat mengadakan rekonsiliasi nasiaonal yang di kenal dengan “Taif Agreement” di bawah sponsor Arab Saudi dan Suriah.

Dengan Taif Agreement itu, perang saudara berakhir.  Kehidupan berpolitik dan bernegara diatur dengan formulasi baru berdasarkan konstitusi yang mengalami perubahan yang disepakati dalam rekonsiliasi nasional.

Mungkin setelah melihat perkembangan situasi di Lebanon selama ini, kita melihat faktor keduanya. Kita kutip dulu pernyataan dari Presiden Lebanon, Michel Aoun. Ia mengatakan, peristiwa yang menewaskan sedikitnya 135 orang dan melukai lebih dari 5.000 lainnya itu akibat dari meledaknya 2.750 ton amonium nitrat yang disimpan secara tidak aman di sebuah gudang selama enam tahun.

Banyak dari masyarakat Lebanon menuduh kejadian itu akibat dari pihak berwenang melakukan korupsi, penelantaran dan salah urus. Pemerintah pun telah memberlakukan keadaan darurat selama dua minggu ke depan.

"Beirut menangis, Beirut menjerit, orang-orang histeris dan orang-orang lelah," kata pembuat film Jude Chehab kepada BBC, dan meminta pihak yang bertanggung jawab untuk diadili.

Oleh karena itu, untuk sementara waktu, pernyataan resmi dari Presiden Lebanon inilah yang kita jadikan dasar, meski nanti penyebab utamanya tidak akan pernah diketahui. Sama halnya dengan penyebab terbunuhnya wartawan Arab Saudi Jamal Khashoggi, di Konsulat Arab Saudi, Turki. Meski pemerintah Arab Saudi telah menjatuhkan hukuman mati kepada lima orang, tetapi tetap saja peristiwa sebenarnya tidak pernah terungkap.

Lebanon memang daerah konflik. Tahun 2008, pasukan perdamaian Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dari Indonesia yang bertugas di Lebanon Selatan juga mengalami peristiwa ledakan bom.

Waktu itu, bom meledak di sebuah lahan, sekitar 1 KM dari markas Satgas Yon Mekanis TNI Kontingen Garuda (Konga) XXIII B di Adshit Al Qusayr, Lebanon Selatan. Bom ini menewaskan warga Lebanon, Hisham Gamir Ghossain (36) dan melukai seseorang yang berasal dari Suriah, Turki Ahmad El Houssain (33). 

Bunyi ledakan sangat keras. Getarannya terasa hingga ke seluruh penjuru 'Soekarno Base' (sebutan khas untuk Markas Kontingen Indonesia). Pratu (Marinir) Maret Gunawan yang sedang melaksanakan Dinas Jaga Pos Pengamat bahkan sampai terhentak dari posisi berdirinya. 

"Keras sekali, pak...seakan-akan meledak persis di depan  saya," ucap Pratu Maret seperti siaran pers Konga XXIII B/UNIFIL.(*).