Tenggang Rasa

Oleh: Imam Trikarsohadi.

Orang Indonesia, dan salah satunya oleh sebab kurang bijaknya media massa dalam memberitakan dan/ atau memilih “penajaman” topik, maka, apa boleh buat, mulai menggemari : “senang jika orang lain menderita atau tertimpa musibah”. Nihilnya tenggang rasa juga acapkali dilakukan aparat bewenang saat memberikan pernyataan di media.

 

Contoh terakhir misalanya ihwal kecelakaan yang melibatkan putra bungsu Ahmad Danny dan Maia, Abdul Qodir Jaelani (Dul), yang menyebabkan 6 orang wafat dan lainnya terluka parah, termasuk Dul pada Minggu (dini hari) 8 September 2013. Amat disayangkan, ketika prosesi pengurusan korban meninggal dan luka-luka, bahkan luka kritis, masih dalam proses, dan seluruh keluarga korban dalam situasi bersedih, media justru sudah meramaikan ihwal penindakan hukum dan/ atau “mendorong” keluarga korban via wawancara untuk “marah” kepada keluarga Ahmad Danny.

Fenomena ini sama halnya tidak punya kepedulian atau empaty terhadap orang lain yang sedang sedih, menderita, kalut, lelah jiwa raga oleh sebab tertimpa musibah. Celakanya, bahkan, mereka yang sedang bersedih, disengaja atau tidak, “didorong” untuk saling “menekan” atau “menuntut”. Dan, pejabat yang berwenang pun acapkali tidak menempatkan empaty dalam skala prioritas, maka, matilah seluruh potensi tenggang rasa di negeri ini.

Entah sebab apa, di zaman ini, kesadaran dan kepedulian manusia terhadap sesama sudah sangat berkurang. Hanya sebagian kecil saja yang mau peduli. Sehingga tidak jarang hal tersebut dapat membawa kita semua seolah-olah tak mengenal ajaran Tuhan. Efeknya; senang melihat orang lain menderita, saling mengucilkan dan jauh dari sikap tenggang rasa.

Padahal, sejatinya, kita sebagai manusia adalah makhluk sosial, yang tidak dapat hidup sendiri tanpa bantuan dari orang lain. Sehingga dipelukan suatu hubungan yang harmonis agar kita dapat menjalani kehidupan ini dengan baik. Disinilah peran sikap tenggang rasa sangat diperlukan, di mana untuk mewujudkan suatu hubungan yang harmonis antar sesama, kita harus bisa saling menghargai dan menghormati perasaan orang lain. Soal penegakan hukum, tentu harus ditegakkan, tapi tidak harus terburu-buru “menghukum” melalui pernyataan terbuka di media massa, sementara proses penyelidikan masih berjalan, dan belum sampai pada titik kesimpulan.

Sikap tenggang rasa adalah suatu sikap hidup dalam ucapan, perbuatan, dan tingkah laku yang mencerminkan sikap menghargai dan menghormati orang lain, apalagi ketika orang lain sedang tertimpa musibah. Kita harus dapat bergaul dengan siapa saja, dimana saja, dan kapan saja. Dengan tenggang rasa kita dapat merasakan atau menjaga perasaan orang lain sehingga orang lain tidak merasa tersinggung atau merasa “dikeroyok”. Sikap tenggang rasa merupakan sikap yang memiliki nilai budi pekerti yang baik. Dengan memiliki sikap tenggang rasa ini, kita bisa menempatkan diri pada lingkungan pergaulan dengan benar sehingga tercipta suasana yang rukun, harmonis, serasi, selaras, dan seimbang.

Manusia diciptakan Tuhan sebagai makhluk individu dan makhluk sosial. Sebagai makhluk individu, manusia mempunyai hak-hak yang tidak dapat di ganggu- gugat oleh orang lain. Seperti misalnya, hak untuk memeluk agama dan menjalankan ibadah sesuai dengan kenyakinan dan kepercayaan yang dianutnya masing-masing. Sedangkan sebagai makhluk sosial atau makhluk bermasyarakat, manusia selalu ingin hidup bersama dengan manusia lainnya. Dorongan masyarakat yang dibina sejak lahir akan selalu menampakan dirinya dalam berbagai bentuk, karena itu dengan sendirinya manusia akan selalu bermasyarakat dalam kehidupannya. Manusia dikatakan sebagai makhluk sosial, juga karena pada diri manusia ada dorongan dan kebutuhan untuk berhubungan (interaksi) dengan orang lain, manusia juga tidak akan bisa hidup sebagai manusia kalau tidak hidup di tengah-tengah manusia. Sehingga dengan mengembangkan sikap tenggang rasa, manusia dapat bersosialisasi dan menjalankan kodratnya sebagai makhluk individu dan juga makhluk sosial.

Sikap tenggang rasa juga disebut Tepo Seliro merupakan sebuah ungkapan dari Bahasa Jawa, yang memiliki arti kita merasakan apa yang orang lain rasakan. Dalam pergaulan kita wajib persaudaraan dan persahabatan agar dalam hidup berkeluarga, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara tetap terjalin rasa persatuan dan kesatuan yang menjelma menjadi kerukunan. Dan kerukunan itu akan tetap berjalan baik, selama kita saling menghormati dan memupuk sikap tenggang rasa antar sesama.

Hal-hal penting yang harus kita miliki dalam pergaulan yang baik adalah sikap tenggang rasa. Pelaksanaan sikap tenggang rasa dapat kita wujudkan dalam menghormati hak-hak orang lain; kerelaan membantu/memahami/memberi ruang sebentar saja kepada orang lain yang mengalami musibah; kesediaan menjenguk teman yang sedang sakit; kemauan mengendalikan sikap, perbuatan, dan tutur kata yang dapat menyinggung atau melukai perasaan orang lain.

Kita perlu menyadari bahwa setiap orang mempunyai hak dan kewajiban asasi yang sama. Karena itu, kita harus bertenggang rasa terhadap orang lain agar mereka mendapatkan kesempatan menerima hak-haknya dan melaksanakan kewajibannya dengan sedang baik-baiknya. Kita wajib menjaga dan menghormati hak dan kewajiban orang lain agar hak dan kewajiban kita juga dihormati oleh orang lain.

Sikap tenggang rasa dapat kita kembangkan melalui beberapa bentuk. Misalnya, apabila teman kita mendapat musibah, kita harus berusaha memberikan pertolongan atau bantuan semampu kita. Kita harus dapat ikut merasakan penderitaan yang dialami oleh orang lain. Apabila teman kita sedang sakit, kita harus segera menjenguknya agar hatinya terhibur sehingga cepat sembut. Di dalam berteman kita harus selalu mengendalikan sikap dan tingkah laku serta tutur kata agar tidak menyinggung atau menyakiti orang lain, sehingga hubungan antarteman akan terjalin terus dengan baik.

Sikap-sikap bijaksana yang bermanfaat untuk mewujudkan tenggang rasa, antara lain; jika kita tidak senang dihina orang, janganlah kita menghina orang lain, jika kita tidak senang dianggap remeh orang, jangan pula kita menganggap remeh orang lain, jika kita tidak mau hak kita diganggu, janganlah mengganggu hak orang lain.

Sikap tenggang rasa merupakan suatu sikap yang sangat perlu untuk dikembangkan dalam kehidupan, baik di keluarga, masyarakat, bangsa dan negara. Jika sikap tenggang rasa tersebut senantiasa dikembangkan dalam kehidupan akan memberikan manfaat yang dapat menguntungkan diri sendiri dan juga orang lain. Manfaat-manfaat tersebut diantaranya: menumbuhkan rasa kasih sayang dan kepedulian terhada sesama, menciptakan suasana yang aman dan tentram dalam kehidupan antar sesama, mempererat rasa kekeluargaan dan keakraban antar sesama sehingga akan melahirkan suatu masyarakat yang maju, sejahtera dan ihsan, memupuk rasa tanggung jawab pada diri sendiri untuk melindungi dan membantu satu sama lain, serta memupuk rasa kebersamaan sehingga dapat menciptakan suatu kerukunan dalam kehidupan.

Ringkasnya, sikap tenggang rasa adalah suatu sikap hidup dalam ucapan, perbuatan, dan tingkah laku yang mencerminkan sikap menghargai dan menghormati orang lain. Sikap tenggang rasa ini tidak cukup hanya dipahami saja, melainkan harus dilaksanakan dan juga diterapkan dalam kehidupan di lingkungan keluarga, masyarakat, bangsa dan negara. Sikap tenggang rasa sangat perlu di pupuk dan dikembangkan dalam kehidupan sehingga dapat tercipta suatu kehidupan yang harmonis dengan sesama. Apabila dalam kehidupan sehari-hari sikap tenggang rasa tidak dikembangkan, maka akan mengakibatkan terjadi hal-hal yang negatif atau dapat menimbulkan dampak negatif yang dapat merugikan diri sendiri dan orang lain.(*).