Man Jadda Wajada

Oleh: Imam Trikarsohadi)* 

Man Jadda, Wajada; siapa bersungguh-sungguh, pasti bakal berhasil meraihnya.

Di malam-malam ramadhan, ada waktu yang saya alokasikan untuk melakukan refleksi, termasuk refleksi file-file dokumen dalam laptop saya.

Ada satu folder yang berisi video-video aksi-aksi spionase, film-film spionase, video-video latihan pasukan elite berbagai negara, dan lainnya. Tapi yang paling ASYIK tetap saja melihat video-video pasukan  elite TNI; baik yang TNI saja atau yang latihan bersama dengan tentara negara lain.

Dalam berbagai video latihan bersama; banyak adegan dimana tentara negara lain (tak menyebut negara dengan pertimbangan etik-red); kewalahan, pucat pasih, ketakutan luar biasa atau melongo oleh kehebatan prajurit-prajurit elite TNI yang secara personal memiliki aneka macam ketrampilan dan daya tahan melampaui batas standar tentara dimanapun.

Ya..ketrampilan dan daya tahan yang sangat tinggi. Sulit untuk memiliki ketrampilan selevel mereka. Sebab, mereka masih punya daya diri dalam situasi yang bahkan mengancam jiwanya sekalipun. Ini yang dimaksud manusia unggul, tentu dilingkungan TNI.

Menjadi manusia unggul sehebat pasukan elite TNI, sejatinya bisa pula diterapkan dalam bidang-bidang lain; dunia usaha, dunia kerja, dunia karir birokrasi, sosial, budaya, dan seterusnya.

Sayangnya, acapkali kita terhenti hanya sampai menggagumi sebuah kehebatan, padahal kita pun mampu menjadi hebat. Sumber penyakitnya adalah alam bawah sadar kita yang belum apa-apa sudah mencurigai diri sendiri ; tidak mampu melakukannya.

Kebanyaka dari kita masih terjebak persepsi bahwa seseorang harus memiliki bakat untuk menjadi sangat terampil dalam suatu bidang tertentu. Persepsi ini yang kemudian dijadikan alasan pembenar kemalasan endemik;”..ah nggak ah..soalnya aku gak ada bakat.”

Itu sama sekali tidak benar, sebab setiap manusia bisa mengoptimalkan potensi dirinya menjadi hebat. Kuncinya; melatih diri sampai bisa!. Sebab mereka yang kita kagumi dan kita sebut hebat itu; selalu melalui sebuah proses melatih diri yang sulit dan berat hingga kemudian sampai pada pencapaian tertinggi.

Kehebatan ditentukan oleh deliberate practice; latihan yang sungguh-sungguh, gigih dan konsisten. Ukuran dasarnya: dispilin dan konsisten. Menurut penelitian, untuk menjadi terampil setidaknya harus menghabiskan waktu latihan sebanyak 10.000 jam latihan dengan penuh disiplin.

Tapi, persoalannya bukan 10.000 jam itu. Akarnya soalnya adalah kita ini  dibekali Allah Swt dengan potensi yang kira-kira sama dengan orang lain. Allah itu adil. Tapi. Kegigihan dan kesungguhan untuk melatih diri agar potensi itu bisa dikonversi menjadi keterampilan tingkat tinggi, itulah yang menjadi penentu; siapa yang terampil dan siapa yang terkilir. (*/berbagai sumber).