Peace & Love (1)

Oleh: Imam Trikarsohadi)*

Sebab musababnya, apalagi dasar akutansinya, tak terpapar dengan  jelas hingga kini. Yang jelas, saya sudah berada diantara penggiat sebuah organisasi lintas batas dan sekat yang menamakan diri: Peace & Love.

Organisasi yang kini hampir tersebar di seluruh Provinsi se-Indonesia ini, terdiri dari manusia-manusia berhati mulia dari berbagai latarbelakang status sosial, suku dan agama. 99,9 persen membernya wanita. Sebab itu, bisa dibilang juga; ini organisasi nan lembut dan cantik.

Ihwal berbagi kepada sesama, maka gairahnya mirip suara adzan yang bila tiba waktunya; saling sahut menyahut tak henti antar DPC dan DPD Peace & Love. Telah begitu panjang catatan amaliyah yang ditorehkan Peace & Love dalam berbagi kepada sesama.

Jika bulan Ramadhan tiba, seperti Ramadhan 1439 H tahun ini dan tahun-tahun sebelumnya, maka grafik berbagi kepada sesama menunjukkan titik tinggi lewat agenda yang dinamakan Safari Ramadhan. Sasaran utamanya adalah “memeluk” para yatim piatu dan kaum dhuafa. Tak itu saja, hibah Al-Qur’an pun tak pernah terlewatkan.   

Ini yang mungkin tanpa disadari telah memantik saya untuk dengan sabar berada di tengah-tengah para wanita cantik (akhlak dan budi pekerti-red) ini. Sebab apa? Karena perdamaian dan cinta(Peace & Love) adalah kekuatan perekat di antara jiwa-jiwa manusia pada peradaban dunia kini dan mendatang. Hubungan antar manusia yang dilandasi kedamaian hati, niscaya hal ini akan mempersatukan antar manusia dengan berbagai latarbelakang dalam kedamaian.

Berada diantara mereka, semakin saya rasakan spirit dan tekad yang besar untuk menyebarkan pesan perdamaian, cinta dan keharmonisan antar umat manusia melalui aksi kepedulian sosial. Melalui mata rantingnya, Peace & Love terus berikhtiar dan memberdaya diri untuk mampu menjadi penghubung antar hati manusia dari berbagai latabelakang melalui aksi kepedulian sosial.

Harapannya, melalui aksi kepedulian social, seiring dengan waktu, Peace & Love juga mampu menjadi pembawa obor perdamaian ke seluruh Nusantara.

Kita semua adalah satu keluarga. Sebab secara  genetik manusia berasal dari “orang tua” yang sama, dan secara spiritual, sudah sejak lama diketahui, bahwa setiap manusia memang bersaudara; apa pun agama, suku, dan bangsanya. Karena itu perdamaian dan kepedulian sosial adalah pilihan yang rasional sekaligus spiritual bagi peradaban manusia Indonesia. (*).