Peace & Love (2); Membangun Konstruksi Sosial

Oleh: Imam Trikarsohadi)*

Untuk mewujudkan perdamaian sebagai  pilihan yang rasional dan spiritual bagi peradaban manusia Indonesia, diperlukan tekad bersama untuk merencangbangun kepedulian sosial, jika hal ini terwujud, maka akan terbentuk konstruksi sosial yang berkeadilan.

Dengan demikian, apa yang telah dilakukan dan akan dikembangan organisasi Peace & Love sesungguhnya hal yang dasyat.

Mungkin bagi para membernya tak berpikiran se-njlimet hal tersebut, karena bagi mereka dapat beramal kepada yatim piatu dan duafa adalah panggilan jiwa, yang secara diam-diam dapat pula membersihkan qolbu mereka dari hal ihwal yang mudharat.

Kenapa saya sebut dasyat? Karena peduli dengan sesama adalah memperhatikan dan memahami sesama manusia. Dan ini hal tersulit dilakukan manusia jika tidak terlatih dan tidak segera dimulai.

Kepedulian semacam ini, disadari atau tidak, menjadi sikap langka, apalagi yang benar-benar bebas kepentingan, termasuk kepentingan politik. Di era milenial seperti sekarang ini,  masyarakat cenderung hidup individual, terutama masyarakat di kota-kota besar. Hal ini di karenakan tuntutan hidup yang semakin tinggi dan kemudian tiap manusia  berlomba – lomba untuk mengejar target agar hidupnya dapat lebih baik dari hidup orang lain. Padahal, seperti yang dicontohkan Peace & Love; upaya mengejar target hidup bisa berjalan secara harmoni dengan upaya-upaya konkrit membangun kepedulian sosial.

Sebab, jika tiap manusia mengumbar syahwat egoisme pribadi dan cenderung mementingkan urusannya masing-masing. Hal ini dapat menimbulkan kesenjangan sosial dalam masyarakat. Padahal kepedulian terhadap sesama akan memberikan dampak positif tak hanya untuk orang di sekitar kita namun juga untuk diri kita sendiri.

Rasa peduli dapat digunakan sebagai alat pemersatu.  Dengan itu kita dapat mempererat keharmonisan dengan lingkungan yang akan memperkecil permusuhan di tengah berbagai macam perbedaan. Sikap peduli terhadap sesama juga akan menimbulkan rasa saling memiliki dalam lingkungan masyarakat, sehingga mereka akan saling melindungi satu sama lain.

Kepedulian terhadap sesama ini dapat di tunjukkan dengan membantu menyelesaikan permasalahan yang dihadapi orang lain dengan tujuan kebaikan, memberikan kenyamanan kepada orang lain, saling berbagi,  tidak memandang martabat, derajat dan memilih – milih siapa yang akan di bantu, karena pada dasarnya semua makhluk derajatnya sama di mata Sang Pencipta.

Inilah yang mampu diaplikasikan sahabat-sahabat terbaik di Peace & Love seperti DR.Novita Ika Sari,Ss.SE.Ms, Intan Elevina, Dessy Carlo, dan teman-teman pengurus Peace & Love di seluruh Nusantara.

Bagi para sahabat ku ini, tiap manusia  juga punya hak untuk berbahagia sama halnya dengan kita. Untuk itu, kita perlu membantu mereka yang kurang beruntung untuk mewujudkan haknya dengan menuangkan kepedulian kita seikhlasnya.

Kondisi nyata dalam kehidupan manusia yaitu adanya orang yang kaya–miskin, kuat –lemah, besar – kecil, dan seterusnya, itulah sunatullah kehidupan.Tidak hanya orang kaya, kuat, dan besar saja yang bisa membantu sesama, orang yang tidak punya, lemah, dan kecil pun bisa menolong orang yang sedang kesulitan selama dia bisa dan mampu melakukannya.

Rasa kemanusiawian tidak memandang kedudukan dan dapat di miliki oleh siapa saja. Semuanya tergantung kesadaran dari pribadi masing – masing bahwa kita juga membutuhkan manusia yang lain. Banyak dari kita tidak peduli terhadap orang lain karena kita merasa tidak pernah di pedulikan. Tanpa kita sadari kita ingin dipedulikan padahal kita belum pernah memperdulikan orang di sekitar kita. Rasa saling peduli tidak akan muncul sebelum ada kesadaran dalam diri kita sendiri untuk memulainya.

Manusia yang diciptakan sebagai makhluk yang paling sempurna harusnya memiliki sikap kepedulian yang paling tinggi kepada sesamanya. Namun demikian meskipun manusia makhluk yang paling sempurna, manusia tetap tidak akan bisa hidup sendiri. Manusia memiliki rasa saling ketergantungan yang sebaiknya diimbangi dengan rasa peduli yang diwujudkan dalam aksi nyata, bukan sekedar berkata “aku peduli” dan manusia haruslah manusiawi. (bersambung ke bagian-3).

# imam trikarsohadi adalah penulis yang sudah menghasilkan puluhan buku, diantaranya: Sosiologi Politik, Perilaku Politik, Politik Gerakan  Buruh, Ikhtiar Menggapai Sabar, Berpikir Positif dan lainnya. Ribuan tulisannya tersebar di berbagai media mainstrem maupun online.