Sepakbola

Oleh: Imam Trikarsohadi)*

Liga Champions Eropa 2018 usai sudah, Real Madrid jadi juara dengan kemenangan 3-1 atas Liverpool. Laga ini diwarnai beberapa catatan menarik; Mohamed Salah yang keluar lapangan lantaran cedera di menit 30, dan ini seperti mengindikasikan Liverpool bakal kalah. Ronaldo yang gagal mencetak gold dan nampak tidak begitu suka cita, serta beberapa blunder kiper Liverpool  Loris Karius yang bikin gawangnya bobol.

Apa boleh buat, laga sepakbola kelas dunia selalu saja memantik minat miliaran penonton di seluruh dunia. Sebab itu, cerita tentang sebuah pertandingan bisa berhari-hari, berbulan-bulan bahkan tahunan jadi pembahasan. Contoh saat Maradona menang melawan Inggris di Piala Dunia 1986, dengan gol tangan Tuhannya. Sampai saat ini drama kontroversial tersebut jadi bahan obrolan penggila bola lintas zaman. Banyak lagi drama yang terjadi di pertandingan sepak bola berbagai ajang internasional, yang selalu jadi bumbu penyedap olahraga paling populer di seantero jagat ini. Sekarang, cukup banyak publik sedang tersedot oleh pesepakbola asal Mesir, Mohamed Salah.

Bicara sepakbola, sejatinya tidak melulu kalah menang, sebab didalamnya terdapat instrumen yang efektif bagi kemanusiaan. Tidak saja bagi upaya mewujudkan perdamaian, tapi juga penghormatan terhadap nilai-nilai kemanusiaan itu sendiri.

Rasanya sulit menemukan sebuah event yang mengundang dan menyita perhatian banyak orang dari berbagai belahan dunia selain sepakbola. Sejarah membuktikan bahwa sepakbola sanggup memelihara suasana persahabatan dalam hitungan abad. Ketika dunia politik masih belajar demokrasi. Tatkala dunia manajemen memerlukan berbagai regulasi dan etika tertulis, sepakbola  lancar-lancar saja hanya dengan kesepakatan, dan kelaziman.

Sepakbola pada hakikatnya adalah miniatur kehidupan. Sudah tentu, ini tidak dimaksudkan untuk melakukan simplifikasi. Tapi setidaknya, esensi-esensi dasar dari kehidupan manusia dalam keseharian dapat kita temukan di dalamnya. Ambil contoh persaingan sepanjang kehidupan, seolah manusia itu ditakdirkan untuk saling bersaing menjadi yang terbaik. Mulai awal proses terjadinya manusia, persaingan sudah nampak. Lihatlah bagaimana sel sperma bersaing dengan jutaan sel sperma untuk membuahi sel telur. Mereka bersaing, berkompetisi untuk menjadi yang terkuat dan tercepat untuk menembus sel telur. Esensi juga akan terjadi ketika anak manusia memasuki sekolah, mendapatkan pekerjaan, meraih jabatan, dan termasuk didalamnya persaingan politik.

Pendek kata, persaingan menjadi sesuatu yang tak bisa dihindarkan dalam kehidupan manusia, dan esensi tersebut menjadi ciri utama sepakbola, yaitu kompetitif. Barangkali dalam keseharian adalah hal biasa, yang perlu menjadi perhatian adalah bagaimana ketika orang atau sekelompok orang berkompetisi dilakukan secara fair, mematuhi aturan main yang ada, dan menjunjung tinggi nilai moral dan keadilan.

Di tengah carut-marutnya nilai-nilai persahabatan dan persaudaraan bangsa ini yang terpecah belah oleh kepentingan politik, di mana banyak orang bersaing merebut kekuasaan, jabatan, pengaruh, dan lainnya. Rasanya diperlukan nilai-nilai kepatuhan dalam pertandingan sepakbola sebagai cermin; persaingan berproses, kemenangan diburu, pelbagai taktik dan strategi diupayakan, tapi keputusan wasit tetap dijunjung tinggi dan aturan main dihargai.

Bahkan, ketika ada pemain lawan dari tim yang kalah menangis karena sedih usai pertandingan, para pemain dari tim yang menang berusaha menghibur, bukan meledek dan menistakan.

Final Liga Champions antara Real Madrid versus Liverpool memang menyajikan individu-individu yang menjunjung tinggi nilai-nilai moral kemanusiaan. Tapi tentu, untuk mewujudkan semua itu, diperlukan individu-individu yang berkarakter dan memegang teguh nilai-nilai. Dalam kontek inilah sepakbola menularkan nilai positif, dan tentu  menjadi bagian penting, sebagai satu instrumen pembentukan nilai dan karakter.

Sepakbola, jika dinikmati dengan elegan dan logika yang dibuka; maka sejatinya  mengajarkan pada banyak orang ihwal  kedisiplinan, jiwa sportivitas, tidak mudah menyerah, mempunyai jiwa kompetitif yang tinggi, semangat bekerja sama, mengerti akan adanya aturan, berani mengambil keputusan. Pendek kata, sepakbola akan membentuk manusia dengan kepribadian yang sehat. Ini relevan dengan pemikiran Baron P de Coubertin, penggagas olympiade modern bahwa tujuan olahraga terletak pada fungsinya.

Olahraga juga membina manusia menuju kesempurnaan. Sesungguhnya bukan hanya terletak pada bagaimana memenangkan pertandingan,  namun makna sesungguhnya menunjukkan kualitas mental orang per orang dan sebuah kesebelasan/tim mampu mengambil keputusan lebih cepat dan lebih cerdas.

Akan halnya persaingan dalam sepakbola, hal itu dapat dimaknai sebagai mekanisme Tuhan melalui khalifahnya di dunia yaitu; manusia untuk menciptakan keseimbangan, keteraturan agar setiap orang berusaha memperbaiki diri, all out, menjadi lebih baik dari hari ke hari.

Bayangkan bila di dunia ini hanya ada satu produsen yang memonopoli di satu pasar, maka yang terjadi adalah harga yang tinggi, tidak ada inovasi/kreasi karena hanya dia satu-satunya produsen yang menguasai pasar. Konsumen tidak diberi pilihan lain.

Jika ada persaingan, maka produsen-produsen akan berusaha untuk melakukan inovasi, menghasilkan produk yang lebih baik, dengan harga yang lebih kompetitif. Sehingga pada akhirnya konsumen akan memiliki banyak pilihan. Dengan adanya mekanisme persaingan maka akan timbul keseimbangan.

Tuhan menciptakan dunia ini luas, cukup untuk semuanya. Sedangkan manusia terlahir unik, jadi kita tidak perlu takut disamakan. Takut dengan persaingan.Yang perlu kita lakukan adalah menggali keunikan kita untuk menghadapi persaingan.

Kerangka berpikir yang harus kita pahami adalah bahwa pesaing bukanlah musuh tetapi menjadi tolak ukur kita untuk perbaiki diri. Perlakukan kompetitor sebagai benchmark, cermin dan sekaligus guru.

Persaingan itu jangan memikirkan merebut posisi untuk kepentingan pribadi tetapi memikirkan untuk kebaikan bersama. Bersaing bukan untuk ego sendiri tetapi untuk all out memberikan yang terbaik.

Kalau kita adalah satu-satunya orang terpintar dan terkuat dalam satu kelompok, maka kita bermasalah. Karena kita merasa paling pintar, maka kita akan stagnan dan tidak ada tolak ukur untuk perbaikan.

Adapun esensi dari sebuah kompetensi itu adalah melawan diri kita yang kemarin.

Salam Sepakbola, juga pilkada. (*)