Mimi

Oleh: Imam Trikarsohadi)*

Jum’at 8 Juni 2018. Selepas Sholat Jum’at dan menerima seorang tamu di kantor, saya menerima pesan lewat WA dari putri saya, Shavira Hadi;”..Dad..Mimi Pak De Syaikhu, wafat..”.

“Tahu dari siapa,” jawab saya.

“Coba lihat di instalgram,” balas putri saya.

Setelah saya periksa ternyata benar, baru beberapa saat saja Ibunda Ustadz Ahmad Syaikhu yang kini calon Wakil Gubernur Jawa Barat yakni; Mimi (Ibu)  Nafi’ah binti Thohir telah berpulang ke Rahmatullah. Innalilahi Wainailahi Rozio’un.

Tentu saja memantik rasa duka dan sedih. Sebab, saya acapkali berjumpa dengan Almarhumah dengan penuh rasa syahdu; bahasa tubuhnya yang santun, senyumnya yang ramah dan penuh kedamaian, rangkulan kasihnya terhadap putri saya yang bontot (Shavira Hadi) tiap kali berjumpa, dan kelantanganya meski sedang sakit, lantas terbayang dalam benak.

Pernah saya menjenguk ketika beliau di sebuah rumah sakit daerah Cijantung, Jakarta Selatan. Saat itu, saya yang datang tiba-tiba dan tidak memberi informasi ke siapapun. Saya, mendapatkan sebuah pemandangan yang menguras qolbu; Ustadz Ahmad Syaikhu tengah menyuapi dengan penuh kasih sayang sang Bunda.  

Bagi lingkungan dekat, semua tahu bahwa Ahmad Syaikhu sangat menyayangi dan berupaya optimal untuk berbakti kepada sang Bunda. Tiap ada kesempatan, tak perduli tengah malam, ia selalu menyempatkan diri menjenguk Sang Bunda yang tinggal di Ciledug, Cirebon.  

Pernah pada satu kesempatan, saya bersama Ahmad Syaikhu pergi ke Ciledug dimana Sang Bunda tinggal. Lagi-lagi saya tercengang karena mendapatkan sebuah fakta kesalehan seorang putra kepada Ibundanya; Syaikhu selalu memastikan ketercukupan semua keperluan Sang Bunda hingga detail.

Itulah sedikit catatan dan ingatan dari begitu luasnya  kasih sayang Ahmad Syaikhu kepada Ibundanya. Satu hal yang kadang terbaikan oleh banyak orang,apalagi bagi mereka yang sedang terperdaya nikmat dunia.  

 

Selamat Jalan Mimi...

Mimi...

Engkau kini telah pergi meninggalkan kami

Pergi..dengan seyum penuh kedamaian

Penyejuk rasa duka kami

 

Walau hati ini berat melepas kepergiaanmu...

Walau hati masih ingin melihat senyummu...

Walau hati ini masih ingin  merasakan pelukan dan kasihmu...

Tapi kami ikhlas, pasrah dan tawakal engkau pergi menghadap panggilan Allah SWT.

 

Waktu, akan berjalan dan berlalu

Sejak terakhir kami memandangmu..

Memandang wajah ayu, tenang, damai dan oenuh kasih sayang

 

Kami kehilangan dan sangat merindukanmu

Rindu akan panggilan sayangmu...kerinduan yang tiada tara

Membawa kenang yang indah

 

Pengabdian dan kesetian terhadap keluarga

Tabah dan teguh dalam menghadapi cobaan

Bersyukur atas segalah kurnia Allah SWT

Jujur, teguh berpendirian dan bersahaja

Telah menjadi pegangan hidupmu...

 

Begitu mulia ajaran yang kau tinggalkan

In Sya Allah itu akan kami laksanakan.(*)