Bunga, Persahabatan dan Politik

Oleh: Imam Trikarsohadi)*

Ratusan ribu varietas bunga yang tumbuh di penjuru dunia dengan karakter dan ciri fisik yang berbeda-beda. Sejak ratusan tahun lalu, manusia  telah menghubungkan karakter bunga menjadi sebuah makna yang spesial.

Bunga bisa terkait dengan cinta, persahabatan, persaudaran, dan bahkan simbol pemberi semangat bagi yang sedang mengalami kepedihan.

Rangkaian bunga juga identik dengan menunjukkan rasa simpati atau belasungkawa atas musibah yang menimpa atau meninggalnya seseorang. Memberikan rangkaian bunga duka cita di upacara pemakaman cenderung bertujuan untuk memberikan semangat bagi anggota keluarga dan para pelayat yang hadir.

Mengirim bunga duka cita merupakan isyarat bermakna yang bisa memberi kenyamanan bagi yang berduka.

Pemandangan inilah yang saya dapatkan ketika melayat ke rumah duka Alhamrhumah Ibu Nafi’ah binti Thohir, Ibunda Ahmad Syaikhu di Ciledug, Kabupaten Cirebon.

Ada begitu banyak sekali kiriman bunga duka cita yang dikirim berbagai pihak; ada yang dari Presiden PKS M Sohibul Iman, Gubernur Jawa Ahmad Heryawan, Prabowo Subianto, Mayjend (purn) Sudrajat, dan puluhan nama-nama yang dikenal khalayak ramai.  

Dari deretan rangakain bunga duka cita itu, ada yang menarik perhatian saya yakni; bunga dari Ridwan Kamil (Kang Emil) dan Dr.Rahmat Effendi (Bang Pepen). Apa sebab? Jawabnya, Kang Emil adalah kompetitor Ahmad Syaikhu dalam Pilkada Jawa Barat 2018. Namun nampaknya, keras dan panasnya persaingan politik, masih mampu menyisahkan ruang untuk sebuah persahabatan.

Yang lebih menarik lagi adalah kiriman karangan bunga dari Walikota Bekasi, Dr. Rahmat Effendi. Selain sekaligus mengirim dua karangan bunga. Sebab menarik lainya adalah terkait situasi politik di Kota Bekasi.

Dalam 5 tahun terakhir, Rahmat Effendi adalah pasangan duet kepemimpinan Ahmad Syaikhu di Kota Bekasi. Kinerja keduanya diakui banyak pihak telah membawa perubahan dan perkembangan Kota Bekasi yang menjulang dibandingkan kepemimpinan periode-periode sebelumnya.

Keduanya telah mampu melakukan serangkaian perbaikan sistem pelayanan dan tata pengelolaan Pemkot Bekasi, berhasil menetapkan dan merealisasikan skala prioritas kebutuhan warga Kota Bekasi, menumbukembangkan kehidupan beragama yang mendamaikan, dan mampu memanegerial stabilitas denyut kehidupan Kota Bekasi dalam pelbagai aspek. Hasilnya, berbagai penghargaan datang bertubi-tubi silih berganti untuk Kota Bekasi.      

Meski kemudian, secara politik praktis keduanya harus “berpisah” oleh sebab partai politik tempat Bang Pepen dan Ustadz Syaikhu bernaung menetapkan langkah yang berbeda terkait Pilkada Kota Bekasi.

Parpol tempat Bang Pepen bernaung mengambil langkah yang memposisikan parpol tempat Syaikhu benaung sebagai kompetitor. Secara personal, keduanya tidak berkompetisi langsung, karena Syaikhu diputuskan parpolnya maju dalam gelanggang tingkat provinsi. Dan, ada banyak hal lain yang jika dituliskan terlalu panjang.

Tentu, sebagai warga Kota Bekasi dan sedikit banyak tahu ihwal korelasi keduanya, saya jadi tergoda, dan mulut pun yang pada awalnya terkunci, akhirnya bobol juga, lalu;” ..wah dari Bang Pepen Kang (panggilan saya ke Ahmad Syaikhu)..,” tanya saya ke Syaikhu seraya tangan ini menunjuk ke posisi karangan bunga dari Bang Pepen yang terjajar rapih.

“ Iya Kang (panggilan Syaikhu kepada saya), ada dua malah..,” jawab Syaikhu sambil senyum dengan tangan yang menunjuk ke posisi karangan bunga yang satunya lagi dari Bang Pepen.

Saya jadi terpantik, maka mulut ini makin nyerocos;” Si nganu, nganu, nganu…ada datang melayat, kok karangan bunganya pun tak ada,” tanya saya.

“...gak ada kang, ..wah Kang Imam mulai deh…..,” jawab Syaikhu, dan kami pun tertawa bersama sebagai pertanda sama-sama memahami ihwal situasi dan kondisi yang sebenarnya tentang level kualitas persahabatan orang-orang yang saya tanyakan, yang tentu, terkait situasi dan kondisi politik Kota Bekasi.          

“ iya Kang Syaikhu, saya tahu dan paham..,” gumamku hanya dalam hati.

Saya tak meneruskan pembicaraan tersebut, dan menggantinya dengan berbagai topik yang tujuannya menghibur dan menyemangati Ustadz Ahmad Syaikhu, termasuk joke-joke ala santri sarungan.

Diluar itu, tentu diam-diam, dan tak saya utarakan ke Syaikhu (meski seperti biasanya Syaikhu segera tahu apa yang ada dalam benak saya); saya kagum terhadap Rahmat Effendi, dan ini sebagai salah satu penanda bahwa dalam lima tahun terakhir  keduanya telah mampu saling mempengaruhi secara positif.

Dalam situasi dan kondisi persaingan politik Kota Bekasi yang bisa dibilang panas, karena juga diwarnai “hujan” fitnah dan hoax. Pepen mampu melihat peta situasi dan sumber-sumber hal ihwal secara cermat dan teliti, sebab itu ruang dadanya untuk Ahmad Syaikhu begitu lapang.

Bang Pepen, setidaknya telah menampakan beberapa butir ciri-ciri sahabat bagi Ahmad Syaikhu sebagaimana disampaikan Imam al-Ghazali;” ..Sahabat sejati; Jika kesusahan datang menimpa dirimu, maka ia akan berbuat sesuatu untuk meringankan kesusahan mu itu.

Makna dan/ atau nilai yang dapat dipetik dari koneksitas Rahmat Effendi dan Ahmad Syaikhu adalah bahwa dalam dunia politik; kawan dalam kurun waktu tertentu, bisa jadi kompetitor di waktu lain, pun sebaliknya. Karena itulah karakter kompetisi dunia politik. Tapi, hal itu tidak kemudian menghanguskan persahabatan, menguburkan tentang histori kerjasama penuh berkah dalam memajukan masyarakat, atau kemampuan pengendalian diri terkait perbedaan  pendapat yang tidak diperuncing jadi konflik, dan sebagainya.

Ini tentu saja sebuah teladan dalam berpolitik, yang jika semakin banyak para pelaku politik menerapkannya, maka niscaya akan menjadi salah satu modal bagi semakin baiknya kualitas politik di Kota Bekasi, dan Indonesia pada umumnya.

Maka, secara pribadi, saya paling tidak suka dengan perilaku politik yang menghalalkan fitnah dan hoax sebagai cara, apalagi dengan menyeret dan mengkerdilkan ekistensi Tuhan. Sebab yang demikian sama saja dengan upaya bunuh diri dan tak paham arah tujuan politik. Tentu, sangat menyedihkan.

Kompetisi, apapun itu, tak akan berlangsung terus menerus, ada akhir. Tapi; kehidupan, kebaikan, silaturahim, adab, persahabatan, persaudaraan, cinta dan kasih sayang, tata kelolah hidup bersama yang memerlukan harmoni, dan sebagainya, akan terus kita butuhkan sampai ajal menjemput.

Akan halnya ajal. Setiap manusia pasti akan merasakan mati. Menghadapinya hanya tinggal menghitung waktu dan menunggu giliran saja, karena berbeda-beda nasib dan ketentuan waktunya. Untuk itu, mengingat kematian adalah suatu keniscayaan agar kita segera memperbaiki diri dan mempersiapkan diri untuk menghadapi hari esok yang sebenar-benarnya.

Salah satu cara untuk kita bisa mengingat kematian dan menghayati bahwa manusia sejatinya hanya hidup sementara di dunia adalah dengan cara melayat orang yang meninggal atau melakukan tazkiah. Dengan menghadiri pada orang yang meninggal sebelum dikubur dan juga melihat proses penguburannya, kita akan kembali teringat bahwa suatu saat kita akan seperti itu.

 “Sesungguhnya adalah hak Allah untuk mengambil dan memberikan sesuatu, segala sesuatu di sisi-Nya ada batas waktu yang telah ditentukan, oleh karena itu bersabarlah dan berharaplah pahala dari Allah (dengan sebab musibah itu)” (HR Bukhari dan Muslim). (*).