Syiar Singkat

Oleh: Imam Trikarsohadi)*

Setiap Ramadhan tiba, termasuk Ramadhan 1439 H/2018, ada kegiatan tambahan bagi saya yakni; bermusik sambil menyantuni yatim piatu, juga kaum duafah. Uniknya, pada ramadhan kali datang bertubi-tubi ajakan kerjasama dan panggilan bermusik untuk acara amal santunan yatim piatu. Setidaknya 3 kali dalam sepekan.

Tentu, kami yang berlatarbelakang grup music rock klasik, harus mempersiapkan diri secara matang guna membawakan lagu-lagu religi sejak dua pekan sebelum Ramadhan tiba, pun selama ramadhan. Yang berarti jadwal kegiatan kami berderet selama ramadhan, dan ahamdulillah Allah Swt memberikan kami nikmat sehat kepada saya dan teman-teman, meski acapkali  kami berlatih masih dengan kain sarung nempel di badan karena baru saja usai sholat tarawih.

Dan saya yang bertindak sebagai vokalis, yang tentunya setelah disetujui teman-teman se-grup, selain memperbanyak stok lagu religi, juga menyusun tema-tema lagu yang disesuaikan dengan; siapa si penyelenggara? tema acara? siapa para tamu?,  yatim dari yayasan/pesantren atau dari rumah-rumah penduduk?. Tujuannya agar lagu terskema menjadi sebuah pesan, utamanya memotivasi dan “merangkul, membelai” yatim piatu.

Dalam perjalanan waktu, beberapa penyelenggara pun minta saya untuk menyampaikan syiar singkat di awal atau disela-sela antar lagu. Nah ini tentu saja diluar dugaan, kok saya diminta syiar? piye toh. Tapi apa boleh buat, yang namanya ibadah, apapun itu, selama mampu dilakukan, ya bismillah aja.

Meski dalam persiapannya tidak semudah yang ditulis. Saya selalu bertanya kepada panitia yang mengundang RSB 855 Band; penyelenggaranya dari komunitas apa?, kalangan profesi apa?, adakah penyantun yang non muslim?, dan seterusnya.  Data ini penting bagi saya guna menentukan topik syiar maupun susunan lagu yang akan dibawakan. Dan luar biasa, 7 dari 11 event santunan yatim piatu di Kota Bekasi, ada rekan-rekan non muslim yang terlibat secara intensif. Ini pertanda bahwa sesungguhnya toleransi beragama di Kota Bekasi telah terbangun dengan baik, khususnya dalam bidang-bidang kepedulian sosial.

Maka, jika saja para pemangku kepentingan, tidak saja di Kota Bekasi tapi juga di seluruh Nusantara, lebih fokus untuk memberdayakan potensi kepedulian sosial sebagai sarana membangun dan memperkuat toleransi, maka saya pikir; toleransi di Indonesia kedepan akan semakin kuat. Sebab selalu ada persamaan dibalik perbedaan, maka persamaannya yang ditumbuhkembangkan, bukan sebaliknya.   

Akan halnya RSB 855 Band, setelah terbentuk 5 tahun lalu, dan kemudian “menghibahkan” diri untuk acara-acara amal setiap Ramadhan tiba, saya dan teman-teman merasakan semakin banyak pertolongan dan anugerah Allah Swt yang datang tanpa diduga-duga.

Mungkin itulah berkah dibalik langkah kami untuk turut menyayangi yatim piatu. Soal saya yang akhirnya di Ramadhan kali ini melakukan syiar singkat, tak perlu dibahas, anggap saja itu penguat lirik-lirik lagu yang saya bawakan.  (*).