Bobad

Oleh: Imam Trikarsohadi)*

Darimana datangnya kehancuran semua kaum/bangsa/negara? Jawabnya adalah ketika semakin banyak manusia hidup dengan tipu daya, dimana pendusta dipercaya dan orang jujur didustakan, pengkhianat diberi amanah dan orang yang amanah dikhianati.

Kehancuran itu akan datang lebih cepat lagi bila ditambah sebuah realitas dimana orang-orang bodoh  berbicara dalam masalah umum (kepentingan hajat hidup orang banyak). Gejala itu kini nampak melalui hilir mudiknya pelbagai pendapat orang-orang yang tak paham masalah tapi berkomentar secara ngotot melalui saluran-saluran media sosial.

Efek destruktif dari situasi tersebut adalah pudarnya nilai-nilai kebenaran hakiki oleh sebab semakin banyak manusia yang  tidak lagi bisa membedakan mana yang hak dan mana yang bathil. Maka, tak perlu heran, bila saat ini semakin banyak saja manusia-manusia nista yang janji dan akhlak yang amburadul, janji kemarin hari ini sudah lupa.

Seiring dengan itu, kehidupan seperti memanen setiap detik berbagai informasi yang penuh dengan unsur  fitnah, dusta, dan tak bermanfaat sama sekali. Dengan mudahnya kita dapatkan informasi-informasi yang penuh dengan  tipu menipu, berita bohong, berita palsu, atau informasi dusta sistemik.

Melalui daya jangkau media sosial yang mampu menembus hingga garis-garis pertahanan terdalam dari setiap keluarga, setiap saat kita dicekoki berita dan informasi  penuh dusta, kebohongan, dan palsu. Bagi masyarakat awam, maka akan  semakin sulit untuk membedakan mana berita yang asli dan mana berita gombal.

Ini pertanda bahwa derasnya informasi melalui media-media sosial, di satu sisi akan memudahkan mendapatkan informasi yang dibutuhkan, di sisi lain akan merusak akal sehat dan qolbu jika  tak berhati-hati dalam mengkonsumsi informasi yang kian ramai dan semakin tak terbendung.

Apa sebab? Karena ada banyak pihak dan kepentingan yang justru sengaja  memproduksi  informasi penuh dusta guna   menunjang kepentingan-kepentingan tertentu, oleh kelompok dan golongan tertentu.

Dalam sejarah manusia, fenomena semacam ini selalu ada, tapi yang terjadi sekarang ini jauh lebih kreatif sekaligus destruktif. Sebab dalam tiap informasi dusta yang diproduksi selalu dilengkapi dengan aksi lapangan sebagai penandasan; sungguh sangat destruktif.

Maka tidak heran jika dalam tiap tarikan nafas kita ada kemungkinan besar unsur turut terhirup yang dusta dan imitasi.

Ini zaman peres gajebo alias wadul alias bobad: penuh dusta dan ngawur.(*)