Ihwal Harapan Politik

Oleh: Imam Trikarsohadi)*

Hal yang  paling serius dalam politik Tahun 2019 adalah terwujudnya harapan yang tidak palsu dan pulihnya moral para penyelenggara pemerintahan, pun pejabat publik.

Apa boleh buat, kita dan termasuk emak-emak masih betah berjuang lewat jalur politik demi terwujudnya perubahan kehidupan berbangsa dan bernegara yang lebih baik, meski kita merasakan Indonesia hanya bergeser beberapa inci sejak era reformasi. Tapi maju beberapa langkah dalam mengulang-ulang kesalahan, terutama soal korupsi, memanjakan emosi dan ambisi.   

Jika mau belajar dan melakukan evaluasi, memang tidak ada yang sia-sia, meski ada yang mengatakan bahwa sejak era reformasi catatan kehidupan bersama cenderung acak-acakan. Meski moral belum juga menang serta kebebasan berpendapat masih penuh dengan catatan kaki atau garis bawah dengan warna merah.  

Reformasi sempat melejitkan berbagai harapan, tapi hanya sesaat, hanya satu tarikan nafas saja, sesudahnya; kita menyadari betapa pendeknya daya jangkau perubahan. Tapi kita belum kapok dan masih terus mencari cara agar kelak terbukti bahwa demokrasi konstitusional, dengan parlemen yang dipilih, adalah ikhtiar perbaikan yang layak dan bermoral.

Tapi, keyakinan itu kemudian bercampur dengan pesimistis, sebab  perangai para pejabat publik di daerah dan di pusat, termasuk partai-partai politik acapkali seperti pelesit yang menghisap darah dari tubuh demokrasi.

Demikian halnya dengan DPRD, DPR-RI, MPR-RI, Lembaga-lembaga penegakan hukum, para pemimpin daerah dan bahkan media, masih saja diintervensi orang kaya dan/ atau hasrat menjadi kaya dengan cara apa saja. Inilah yang sesungguhnya menjadi musuh utama Presiden Joko Widodo selama ini; kawan dan lawan seolah tak henti hendak menikam dengan hasrat menjadi kaya dengan pelbagai cara.

Kini, aneka harapan bertaburan seperti bintang dilangit, baik terkait Pilpres maupun Pileg, tapi apakah kita ingat bahwa harapan tak akan terwujud sebelum adanya tindakan/perbuatan.

Politik harapan adalah jalan menuju fatamorgana, sebab itu jangan terlalu dipercaya. Tak ada obat mujarab yang bisa menyembuhkan aneka macam persoalan dalam jangka waktu yang ditakar. Tak perlu terlalu melambung, mabuk, dan apalagi emosional.  

Sebab, sejatinya the political adalah semangat dan tindakan nyata melawan berbagai kebekuan dan kebebalan, termasuk bebalnya para koruptor yang tetap saja agresif dan represif.  

Jadi, ganti atau tidaknya presiden tidak lantas menjadikan Indonesia sebagai surga. Sebab itu, kita harus cermat dalam menyelaraskan apakah yang ditawarkan sesuai kebutuhan kita atau tidak, terutama sesuai kebutuhan kehidupan bersama sebagai sebangsa dan senegara.

Sebab apa? Karena kita hanyalah makhluk yang diwajibkan untuk selalu berharga dan bermanfaat bagi diri sendiri dan sesama. Dengan demikian pilihan politik kita adalah pilihan etik dalam perbuatan yang berguna, bukan menafsirkan, apalagi menentukan surga atau neraka.

Jalan politik kita adalah aksi nyata yang berguna dan bernilai, bukan mengubah seluruh Indonesia berdasarkan ambisi sepihak atas dasar referensi atau literasi yang lapuk, dan tak siap mental menghadapi yang tak terduga.  

Demokrasi adalah ikhtiar bersama agar kehidupan semakin baik,  bermutu dan tidak sia-sia, sebab itu mensyaratkan kompetisi didalamnya sebagai jalan memastikan kualitas.(*).