Kerinduan Kolektif Para Cucu

Oleh: Imam Trikarsohadi)*

Sudah lima kali lebaran terakhir, anak-anak saya dan juga anak-anak adik-adik saya yang merantau, agak susah diajak mudik lebaran. Alasannya nyaris sama: “malas sudah tidak ada mimi (nenek), gak seru.’

Kata mereka, sepeninggalan nenek, mudik terasa main ke kampung orang. Selidik punya selidik, saya mendapat gambaran situasi yang cukup menyentak bahwa semasa Ibu saya dan/ atau nenek anak-anak ini ada, mereka merasa mendapat hadiah yang luar biasa melimpah setiap mudik; senyum yang ceria menyambut cucu-cucunya, pelukan, ketelatenan mendengarkan curhat cucu-cucunya yang sedang galau, senda gurau, dan yang diluar dugaan—ini berdasarkan pengakuan para cucu; nenek mereka sangat hafal dan selalu menyiapkan secara paripurna makanan kesukaan masing-masing cucunya secara adil--tanpa diketahui orang tua para cucu.

Inilah kerinduan para cucu terhadap neneknya yang tak terjawab hingga kini. Sebab itu, tiap lebaran tiba, dari anak-anak saya, para keponakan yang silaturahmi ke rumah, topik utama mereka saat berkumpul adalah: nenek (mimi). Sebuah kerinduan kolektif yang saya pun (selaku “pengganti” kakek mereka) tak kuasa menjawab, dan tak tahu harus menjawab apa, kecuali kata-kata bahwa kehidupan akan silih berganti dan tak ada yang ajeg.

Meski bagi saya pun logika ini kadang tidak bisa diterima ketika rindu kepada ibu menyeruak dalam jiwa, dan ketika sebab sebuah urusan atau perjalanan dinas mampir sebentar ke kampung halaman, lalu merasakan ada yang hilang begitu banyak dalam jiwa ini sepeninggalan Ibu. Situasi benar-benar berubah drastis tanpa ampun. Sosok yang sederhana dalam pelbagai hal tapi bersahaja itu, benar-benar telah meruntuhkan sebagian kehidupan sepeninggalannya.

Dan tentu saja saya semakin memaklumi  bahwa rasa rindu para cucunya dan kerinduan saya kepada Ibu,  tidak akan berhenti di tahun-tahun selanjutnya.

Saya perkirakan, banyak anak manusia di dunia ini yang jika memiliki ibu/nenek yang selalu ingin memberi apapun (kasih sayang-red) yang ia punya kepada anak dan cucunya, akan mengalami  pengalaman yang sama yakni; kehilangan sosok seorang ibu/nenek yang krusial.

Pendidikan yang tinggi, kesuksesan karir dan kehidupan, popularitas dan bahkan mungkin kedalaman ilmu agama, tak akan mampu mengusir rasa kehilangan terhadap sosok ibu yang orang sekampung menjulukinya;” bunda ahli sodaqoh”. Semakin sosoknya kita doakan setiap ibadah tengah malam, maka kerinduan itu semakin menggerus dan menyadarkan bahwa Ibu  atau nenek yang hebat bukanlah sosok yang gilang gemilang dalam karir atau kehidupan, tapi sosok yang selalu mendoakan anak keturunannya lewat ibadah formal maupun muamalah, sonder mengharap balas jasa. Sosok yang meski sudah rentah akan segera, meski susah payah, dengan caranya,  hadir ditengah-tengah anaknya yang tertimpa masalah. Dari hati mendapatkan banyak hati.   

Ini mungkin sebuah tafakur bagi ibu atau orang tua, berilah hati kepada anak-anak dan cucu, siramlah mereka dengan doa, kuatkan masa depan mereka dengan amal-amal saleh kita, niscaya Tuhan akan membahagiakan kita di dunia dan akhirat, yang salah satu sebabnya; anak-anak dan cucu kita akan mendoakan kita secara bergelombang setiap saat.   

Jangan sekali-kali menempatkan posisi anak-anak, apalagi cucu, dalam kerangka hal ihwal soal keduniaan, sebab sudah banyak contoh bahwa hal yang demikian hanya akan mendatangkan sengketa, amarah, dan kekecewaan. Tuhan, dengan dalih apapun, tak akan pernah merestui hal itu. 

Jangan biarkan diri kita menjadi orang tua yang dikemudian hari terjebak dengan isi kepala penuh berandai-andai. Namanya juga andai-andai, ia tetap saja fatamorgana tanpa realita.

Kembali ke soal kehilangan ibu, maka kehilangan ibu yang penuh kasih sayang dan pusat segala doa, tentu bukan hal yang mudah. Sebab itu, setiap keadaaan, rasanya tetap saja, ada yang hilang, ada yang kurang, dan ada yang tidak terkatakan.

Jadi, jika punya ibu yang penuh kasih dan pusat segala doa, peluklah erat dia dan berbaktilah sebisa-bisanya, selagi ia masih hidup, sebab ia sesungguhnya energi kehidupan yang tak akan pernah terbarukan jika sudah tiada.  Wallahualam bissawab. (*).

#Mengenang mendiang Hj. Enah Bin Jumiah