Zaman De eR Es

Oleh: Imam Trikarsohadi.

Dulu, ketika saya masih kecil dan remaja, yang dijemur pagi hari adalah kasur (dalamannya kapuk) atau padi. Mulai akhir 2019 dan memasuki Tahun 2020, yang dijemur para manusia, ada juga yang telanjang dada.

Dulu, saat musim perawatan tanaman, entah padi atau palawija, para petani dan/ atau buruh tani sibuk menyemprot disinfektan hama  agar tanaman terjaga dan tumbuh berhasil guna. Pada zaman corona, yang disemprot justru manusia agar terhindar dari virus, sekaligus manusia juga dianggap virus, karena dicurigai oleh sesama, lalu: antar manusia saling ambil jarak.

Manusia juga seperti binatang piaraan atau ternak, jadi perlu dikandangkan, jalan-jalan kehidupannya di sekat sedemikian rupa agar sulit bergarak.

Lalu, nyali manusia juga berubah 360 derajat, tak takut lagi sama yang besar-besar dan sok kuat, tapi ngeri oleh yang kecil-–kecil dan tak terlihat.

Dasyatnya, para tentara dan polisi menarik diri ke garis belakang, karena senjata mereka tak berguna lagi, lalu, posisi garis depan diambil alih oleh dokter, perawat, para petugas rumah sakit dan para relawan dengan resiko mati tanpa sempat pamitan, dan/ atau sekedar menyanyikan lagu berjudul Salam Terakhir dari Group Band The Rollies.

Bagi umat Islam yang sejak melek ilmu diajarkan agar memperbanyak sholat berjama’ah dengan jarak yang berdekatan, maka corona seperti biang iblis yang mampu memaksa manusia sholat sendiri-sendiri di rumah, termasuk sholat yang wajib berjamaah.

Inilah zaman dimana akhirnya gelar yang laku hanya Drs (Di Rumah Saja).

Apa boleh  buat, karena jika bandel keluar rumah, apalagi berkerumun, bisa jadi urusannya masuk penjara, sebaliknya oleh sebab corona - yang dipenjara disuruh keluar.

Corona telah menjerembabkan manusia dalam situasi pasif dan tidak produktif: plantar- plintir di rumah, tidur, bangun, ngopi, makan, ngudud, ke toilet, makan lagi tidur lagi, sibuk dengan medsos, dan semakin hari-sang istri mulai agak sulit senyum karena pasokan uang belanja dan sejenisnya mulai tersendat. Efeknya, kerutan di jidat suami bertambah dengan cepat.

Mau berontak dan tak taat prosedur? Mana bisa, urusannya nyawa melayang, bahkan nyawa seluruh anggota keluarga.

Lalu seperti apa kedepan? Tak seorang pun tahu, termasuk manusia paling berkuasa di dunia sekalipun.

Wabah corona seperti penandasan bahwa manusia sejatinya lemah tak berdaya bila dihadapkan ketentuan Sang Penguasa Kehidupan. Buktinya diserbu  makhluk yang super mini dan tak terlihat saja, semua kalang kabut dan perlu nguras otak, nguras tenaga, nguras anggaran, nguras hati dan nguras kesabaran.

Maka,solusinya, taat ketentuan dan perbanyak berdoa memohon bantuan Tuhan YME. (*).