Tamu kok semena-mena

Oleh: Imam Trikarsohadi

Manusia hanya tamu dengan durasi dalam  hitungan tahun di dunia

Bisa jadi beroleh mimpi indah, tapi berubah setelahnya.

 

Tiba-tiba hampir semua hasil karya yang dibanggakan, dijauhi dan dilarang

Lalu, kita jauhi pesawat terbang

Kita kosongkan gedung-gedung nan megah

Kita lupakan mall-mall yang menggoda itu

Kita sunyikan lokasi-lokasi wisata, sekolah, tempat kerja, bahkan rumah ibadah...

 

Seisi penghuni rumah pun saling waspada seperti musuh dalam selimut

Lebih mengenaskan lagi, kita mencurigai diri kita sendiri

Cium tangan, pelukan dan belaian pun seperti kutukan

Menolak kunjungan silaturahmi lantas seperti kewajiban

 

Tiba-tiba, dari kaum terendah hingga kepala negara sama takutnya

Yang kaya dan si miskin pun sama gelisahnya

Yang pintar dan yang bodoh sama paniknya

Yang mempesona dan buruk rupa sama ngerinya

Semuanya seragam rasa: takut mati secara misterius sebab virus corona.

 

Tapi bumi seperti berseri-seri,  sebab ia tak lagi dijejali polusi

Pantai-pantai mulai disesaki  burung-burung dan bukan manusia-manusia yang nyaris telanjang bulat.

Dan, suara dengkur jangkrik pun terdengar lagi

Ya ..bumi seperti melenggok gemulai sebab corona

Tapi tidak dengan manusia yang terpaksa mengisolasi diri

 

Tentu dari tiap kejadian ada pesan didalamnya

Pesan kali ini adalah penandasan bahwa manusia telah begitu lalai sebagai khalifah

Lalu, terhukum oleh dirinya sendiri sebagai terdakwa kehidupan

Sebab itu, nyaris tak boleh berbuat apa-apa

 

Kelak, bila sanksi atas kelalaian ini telah dicabut

Maka perlu diingat bahwa bumi tercipta lebih dulu dibandingkan manusia

Sebagai senior, bumi wajib dihormati, dihargai dan dirawat

Tentu, dengan tidak melakukan hal ihwal yang melampaui batas

 

Jadi tamu jangan semena-mena, resikonya bisa diusir secara paksa.(*)