Bijak Berpublikasi

Oleh: Imam Trikarsohadi

Dampak ganda wabah virus Corona (Covid-19) telah memberangus lapangan pekerjaan jutaan pekerja di sektor industri, jasa, pariwisata dan lainnya. Bahkan sektor UMKM yang begitu tangguh saat krisis ekonomi 1998 kini tak kuasa—ikut rontok secara masif.

Kelak, jika wabah corona telah berlalu--dan tak satu pun diantara kita yang bisa memastikannya, bahkan manusia tercerdas di dunia pun--maka, bukanlah perkara gampang untuk kembali menormalkan daya serap lapangan pekerjaan bagi jutaan warga yang kini kehilangan pekerjaan.    

Pemerintah Pusat, dalam hal ini Presiden Joko Widodo sejak awal menyadari hal ini, sebab itu berbagai stimulus diberikan untuk sektor usaha, terutama bagi perusahaan-perusahaan yang tak mem-PHK karyawannya. Berbagai stimulus diberikan agar kita tak menjadi terjun bebas  sonder parasut lantaran ujian ini.

Semangat memelihara, hati-hati dan bijaksana terkait aspek ini, semestinya disadari pula oleh para pemangku kekuasaan di daerah. Persoalan kali ini tidak akan berhenti sampai pada bansos dan sejenisnya. Akan ada pekerjaan rumah bersama yang rumit dan panjang kelak nanti.

Bagi pihak perusahaan, dalam bidang apa pun itu, mem-PHK karayawan adalah mimpi buruk, karena sama halnya mendistorsi investasi Sumber Daya Manusia (SDM). Karena sebagaimana kita ketahui bersama, mayoritas SDM di negeri ini, ketika mereka diterima kerja dalam level apapun—tidak dalam kapasitas siap pakai, tetapi siap didik.

Artinya, perusahaan mesti melakukan pelatihan lebih dulu sebelum sang karyawan baru siap dilepas di pekerjaan sesungguhnya, ini berarti cost investasi SDM. Nah pundi-pundi investasi ini lalu seperti terpreteli begitu saja oleh sebab efek berganda wabah corona.

Kelak, bila situasi kembali normal, tentu perlu re-invetasi SDM lagi yang akan memakan proses transfer teknologi, skill, waktu dan tentu biaya. Jadi, ini persoalan terbilang akan cukup menguras banyak energi.

Pada sisi lain, ketika semua perusahaan atau usaha UMKM tutup lantaran tak mampu survival sebab efek berganda wabah corona, maka daya pelemahannya berlipat-lipat, ya pekerja itu sendiri, anak istrinya, orang tuanya, saudara-saudaranya, dan pelbagai usaha lain oleh sebab amblasnya daya beli.

Belum lagi sensitifitas yang ditanggung perusahan-perusahaan yang sudah go public, tentu lebih pelik lagi persoalannya. Sebutir saja informasi tak akurat muncul ke publik, maka harga sahamnya bisa bergoyang-goyang, dan itu akan berdampak amat panjang sekali.

Dengan itu semua, melalui tulisan ini, saya ingin mengajak para pemangku tugas publikasi terkait virus corona di daerah untuk bijak dan berhati-hati saat me-release pemberitaan corona jika sudah menyangkut  sektor-sektor usaha. Tabayun seoptimal mungkin akurasi datanya, ajaklah pihak perusahaan untuk berdiskusi  bagaimana sebaiknya informasi disajikan agar tidak berdusta tapi juga tidak merusak sektor usaha yang saat ini sedang sesak napas akut.

Para pemangku tugas publikasi di daerah-daerah yang didalamnya terdapat banyak kawasan industri, pariwisata, jasa, UMKM dan sektor-sektor bisnis  lainnya, hendaknya memiliki interes terhadap persoalan ini.

Agar kemudian, setelah situasi normal, para pengusaha/perusahaan-perusahaan dapat segera menata diri untuk kembali menyediakan lapangan pekerjaan. (*).