Virus Memang Liar

Oleh: Imam Trikarsohadi

Ibarat peperangan, maka upaya memutus mata rantai penyebaran virus corona (covid-19) telah memasuki level-1 dan/ atau A. Situasi ini akan semakin menguras seluruh energi, pikiran dan tentu saja biaya.

Disatu sisi, korban semakin hari kian berjatuhan, termasuk para pahlawan di garda terdepan (para dokter dan tenaga medis). Derita juga semakin berlipat ganda berupa terpuruknya; daya tahan ekonomi masyarakat, goyahnya mental dan semakin menipisnya hope (harapan).

Agar kita semua memenangkan peperangan ini dengan segera--tanpa banyak mengorbankan banyak hal ihwal, ada baiknya upaya-upaya evaluasi pada semua aspek dilakukan secara terus menerus, kalau perlu dari setiap kejadian yang muncul;

(1). Ihwal bansos/BLT, dsb, ada baiknya diberikan kepada semua penduduk, tanpa terkecuali, sehingga ketegangan menyangkut persoalan ini yang telah muncul di berbagai level dapat segera distop, dan energi dapat kembali difokuskan untuk memerangi pendemi corona.

Saya pikir tidak masalah warga kelas menengah pun dapat bantuan, tak perlu terlalu didikte, karena mereka pun akan mengerti, dan diharapkan secara kuat paham bahwa bantuan yang diterimanya kemudian disalurkan ke warga lain di sekitarnya yang kurang mampu, dan seterusnya.

(2). Ihwal penegakan disiplin PSBB, para petugas dilapangan dan juga para penjaga di lingkungan-lingkungan terkecil seperti perumahan, RT, RW, dst, harus terus menerus dicerahkan agar mengutamakan sikap persuasif, sopan dalam berkata-kata, dan sabar dalam menganalisa serta mengambil keputusan pada tiap persoalan yang ada.

Mereka juga harus dibekali tool, misalnya stok masker, cairan disinfektan dan alat lain yang diperlukan, sehingga jika ada warga yang lalai, tak perlu berbicara banyak yang bisa jadi memantik konflik, cukup beri dan "paksa" si pelanggar memakai masker, dst. Kenapa saya berpendapat demikian, karena sudah mulai banyak muncul ketegangan dilapangan yang sebab musababnya beragam.

(3). Semua aparatur dari level terendah hingga presiden, tentu, semuanya berkomitmen   dapat segera memenangkan peperangan melawan virus corona ini, kita semangati saja dan dukung. Tak ada guna dan keterlaluan jika kemudian tetap memposisikan beliau-beliau ini  sebagai “dia kami” versus “itu mereka”, apalagi kemudian menghinanya dengan aneka macam hoaks.   

Biarkan saja beliau-beliau ini membantu dengan tempelan nama dan/atau partainya, selama itu tidak menggunakan  anggaran negara (APBN) dan/atau APBD.

Justru kalau ditelisik, itulah salah satu bantuk tanggungjawab moral mereka  sebagai  politisi,pejabat publik, partai politik dan/atau kaum dalam kerangka sistem demokrasi. Makin banyak mereka  membantu, makin baik dan kian banyak warga yang tertolong. Tidak usah risih dan nyinyir.

(4). Seluruh pemangku kekuasaan di berbagai level, wajib rasanya membuka komunikasi sebanyak-banyaknya dengan semua unsur dalam masyarakat, agar diperoleh data valid dan update tentang segala perkembangan yang terjadi untuk kemudian diterjemahkan dalam kebijakan yang tepat sasaran. 

Sebab, peperangan ini tidak akan berhenti sampai dengan virus corona ditarik peredarannya oleh Tuhan, tapi akan ada pekerjaan lanjutan yang sama repotnya yakni, pembenahan berbagai aspek kehidupan sebagai dampak wabah ini—seperti membangun kembali reruntuhan sebab perang .  

(5). Yang perlu selalu dingat adalah kenyataan bahwa kita semua sejatinya tidak siap dengan gempuran wabah virus Corona, apalagi masyarakat biasa. Maka, jika ada pelanggaran disana-sini, itu bukan tindakan kriminal, tapi lebih karena tidak siap, maka pendekatannya bagaimana membuat mereka paham dan siap.  Ini memerlukan implementasi manajemen krisis yang mumpuni dan sabar dalam merealisasikannya, sambil terus menerus melakukan berbagai perbaikan di semua aspek dari waktu ke waktu.

Memenangkan peperangan melawan virus corona memang harus, tapi menjaga harmoni, persatuan dan kesatuan bangsa juga wajib. Maka, perlu banyak kesabaran dan keihklasan dalam prosesnya.

Semoga kita segera memenangkan peperangan ini, bravo negeriku. (*).