Bukan Awal dari Akhir

Oleh: Imam Trikarsohadi

Hampir di benak  setiap orang berasumsi bahwa krisis COVID-19 akan segera berakhir jika kurva penyebaran melandai atau menurun tajam.

Asumsi ini sejatinya muncul oleh sebab rasa lelah yang mulai menelikung. Karena yang akan terjad justru sangat menyedihkan yakni, aneka macam krisis akan menyusul secara bergelombang usai dan/ atau tidak usainya  wabah virus Covid-19 secara tuntas.

Saat ini, memang kita masih direpotkan oleh krisis kesehatan yang disebabkan oleh pendemi virus corona dimana; tingkat infeksi di seluruh wilayah terus menerus bergejolak secara fluktuatif. Celakanya pula, semangat publik untuk melawan corona pun mulai terdistorsi dalam pelbagai bentuk dan rupa prilaku.

Para pengambil kebijakan di negeri ini, pun dibelahan negara lainnya, dengan optimisme yang samar-samar mengungkapkan bahwa pendemi ini akan melemah saat memasuki periode Juni 2020 dengan prasarat yang beraneka rupa. Betul atau meleset hitung-hitungan ini, tak satu pun yang berani menggaranti. Inilah yang saya maksud optimisme samar-samar.

Jadi, kalau pun pada Juni penyebaran virus Covid-19 benar-benar melemah, saya pikir hal itu bukan awal dari akhir wabah Cobid-19; tapi hanya akan menjadi akhir dari permulaan. Sebab, usai atau tidak usai--umat manusia-- termasuk bangsa Indonesia—sudah mulai dihadapkan begitu banyak masalah dibidang lain sebagai efek berganda wabah corona.

Mencari solusi dan berupaya guna menyudahi krisis kesehatan memang tak boleh melemah, semangat itu harus terus dipompa dengan berbagai cara, tapi kemudian jangan sampai menghabiskan energi ke titik zero, karena kita masih membutuhkannya guna menghadapi krisis ekonomi dan sosial yang tak kalah dasyat. Para ahli memprediksi bahwa krisis ekonomi akan lebih  buruk dibandingkan krisis keuangan 2008 dan krisis 1997.

Faktanya sudah terjadi, puluhan juta orang telah kehilangan pekerjaan, baik dalam bentuk dirumahkan maupun PHK. Ini merupakan bibit munculnya kemiskinan yang kelam. Potensi akan semakin banyak orang yang kehilangan pekerjaan bukanlah sesuatu yang mengada-ada, berbagai indikator ke arah itu semakin terang benderang. Dan jika ini benar-benar terjadi, maka tingkat pengangguran akan menjadi yang terburuk dibandingkan masa-masa sebelumnya. Apalagi jika tolok ukur penutupan bisnis benar-benar terprosentase dalam dua digit, maka situasi kehidupan akan sangat menyedihkan sekali.

Yang perlu juga disadari sejak dini adalah realitas bahwa seluruh jumlah hutang pemerintah yang dialokasikan guna menyelamatkan daya tahan hidup masyarakat dan potensi-potensi ekonomi selama pendemi Covid-19 berlangsung, suka tidak suka, akan menjadi warisan hutang generasi mendatang yang pelunasannya akan menghabiskan episode yang teramat panjang.

Apa boleh buat, kita sesungguhnya sedang hidup dalam perkiraan yang amat suram dan dalam skenario yang buruk. Sebab apa, karena negara dengan kinerja ekonomi terbaik sebelum wabah corona terjadi pun, hampir pasti akan mengalami situasi terbalik. Indonesia sendiri diprediksi akan mengalami konstraksi product domestik bruto (PDB). Maka, jika ada diskursus ihwal potensi kekurangan pangan, kita perlu amat serius mencermatinya.

Krisis sebab virus Covid-19 adalah sejenis krisis yang sangat menghujam dan tidak pernah terjadi sebelumnya. Tak ada satu pun pemerintahan yang sudah teruji atau berpengalaman mengatasi krisis ini, sekalipun negara sebesar China atau Amerika Serikat.

Sebab itu, tidaklah berlebihan jika ada prediksi bahwa akan ada cukup banyak pemerintahan yang gagal mengatasinya. Cara memprediksi adalah dengan melihat kondisi sebelum krisis, jika pemerintahan bersangkutan tidak mampu memulihkan perekonomian saat kondisi stabil sebelum wabah corona, maka hampir pasti akan gagal juga menjadi manajer krisis wabah virus ini.

Yang membuat cemas, dan sejarah mencatat hal itu, tiap terjadi krisis ekonomi yang akut dan berlarut, acapkali memantik krisis politik dan sosial.

Sebab itu, karena kehidupan kedepan tidak akan baik-baik saja, ada baiknya semua pihak di negeri ini, dari level apa pun, segera bersikap  terbuka dan jujur bahwa setelah krisis kesehatan akan muncul krisis ekonomi dengan dampak yang lebih luas.Tujuannya agar kita dalam sikap dan semangat yang sama menghadapinya.(*).