Pada Akhirnya Terbatas

Oleh: Imam Trikarsohadi

Ditengah wabah Covid-19 yang tak kunjung mengisyaratkan tanda-tanda menjauh—dengan segala dampak yang ditimbulkan, termasuk persoalan pekerjaan, ekonomi dan sosial, maka hal yang  paling serius dalam politik nasional hari ini adalah harapan.

Kalau pun sebab pendemi Covid-19 sejarah kehidupan umat manusia di berbagai belahan dunia, termasuk di negeri ini menjadi sebuah cerita dengan susunan kalimat berubah-ubah dan cenderung semrawut, itu tidak berarti sia-sia.

Jika pada akhirnya, akal budi dan upaya manusia—setelah dengan susah payah dalam sebuah situasi dimana antara kelelahan, kecamuk, emosi yang terpantik dan derita yang tak ringkas—lalu, apa boleh buat, harus menyesuaikan diri dengan corona yang tak kenal kalah, maka tentu, tidak berarti manusia sepenuhnya takluk terkulai. Kalau pun kemenangan mutlak melawan corona tak didapat, tak berarti harapan kebaikan tak lagi layak diperjuangkan.

Sebab itu, energi politik di tanah air, baik yang sedang berkuasa maupun yang kebagian giliran beroposisi, dengan cara dan stylenya masing-masing harus berjuang guna memelihara harapan seluru rakyat Indonesia. Meski kita tak tahu pasti hasil perubahan itu hanya bergeser beberapa centi saja kedepan, tapi tetap mesti diperjuangkan.

Kenapa demikian? Jawabnya meski catatan sejarah kedepan tak sepenuhnya bisa diprediksi, tapi setidaknya tak ada catatan dalam sejarah bangsa ini kedepan—bahkan satu kalimat pun—riwayat tentang bangkrutnya sebuah harapan hidup bersama yang patut.

Dalam sebuah negara demokrasi, politik adalah kanal-kanal yang menentukan ada tidaknya harapan yang layak, dan sebab itu para pihak yang secara sadar melibatkan diri dalam politik praktis wajib hukumnya untuk mampu memelihara harapan seluruh rakyat, tentu harapan dan kenyataan yang lebih baik dari waktu ke waktu.

Tentu saja, harapan tak perlu terlalu dilambungkan terlalu tinggi, apalagi dengan pelbagai halunisasi, seperti ketika tema reformasi didesak-usungkan pada Tahun 1998. Kehidupan bersama hanya perlu sebuah harapan yang layak, yang pencapaianya—meski tahap demi tahap—tapi terasa.   Sebab apa? Karena hidup di zaman global yang terintegrasi, tak ada satu negara pun yang bisa lari ngacir sendirian, jadi sekali lagi tak perlu  melambungkan harapan berlebihan karena faktanya selalu ada ambang batas menjangkaunya.

Untuk itu semestinya semua upaya perubahan dilakukan dengan cara sah dan rendah hati. Bangsa ini dalam sejarah panjangnya tidak memerlukan radikalisme, revolusi, segala yang berbau keganasan dan represif, atau khayal yang melampaui batas, dan seterusnya.

Toh dengan hadirnya wabah virus corona saja, daya jangkau kita jadi sangat terbatas dan tertatih.  

Jadi, kedepan, agar harapan tak habis-habis, kita perlu kerja keras dan militansi untuk hal ihwal yang nampaknya kecil tapi direalisasikan secara optimal.(*).

.