Mencari Strategi Percepatan Perekonomian Era New Normal

Oleh:Hidayat Tri Sutardjo 

Berubahnya aktivitas masyarakat membuat dunia usaha semakin sepi sebagai dampak Pandemi Covid-19. Berdiam di rumah atau kerja dari rumah dinilai tidak bisa selamanya diterapkan untuk menjaga keseimbangan perekonomian.

Untuk itu, secara bertahap diupayakan pemulihan aktivitas di luar rumah, sekolah juga diproyeksikan dibuka kembali pada Juli 2020. Inilah pola hidup normal baru atau new normal.

New Normal adalah perubahan perilaku untuk tetap menjalankan aktivitas normal, namun ditambah menerapkan protokol kesehatan guna mencegah terjadinya penularan Covid-19. Penerapan kenormalan baru bertujuan mempercepat penanganan Covid-19 dalam aspek kesehatan dan sosial-ekonomi.

Menjalankan kenormalan baru ini sangat penting untuk kehidupan masyarakat yang meliputi edukasi dan komitmen yang terkait dengan mengubah perilaku sekarang dan di masa mendatang. Oleh karena itu WHO menegaskan, penerapan kenormalan baru harus memenuhi beberapa syarat. Antara lain, penularan penyakit terkendali; sistem kesehatan dapat mendeteksi, menguji, mengisolasi serta menangani setiap kasus dan melacak setiap kontak; risiko zona merah diminimalkan di tempat-tempat rentan, seperti panti jompo, sekolah, tempat kerja, dan ruang-ruang publik lainnya yang telah menetapkan langkah-langkah pencegahan; risiko mengimpor kasus baru dapat dikelola dan masyarakat telah sepenuhnya dididik, dilibatkan, dan diberdayakan untuk hidup di masa kenormalan baru.

Fase kenormalan baru tidak bisa dihindari sebagai konsekuensi mengembalikan roda perekonomian. Apabila sektor ekonomi tidak dijalankan, maka krisis akan terjadi dan akan semakin parah. Pro dan kontra terhadap era kenormalan baru cukup kuat.

Tak sedikit masyarakat merasa pesimis terhadap kenormalan baru yang dianggap menjadi solusi untuk mengatasi krisis ekonomi. Sehingga pemerintah perlu membangun optimisme di tengah masyarakat untuk menghadapi new normal agar menunai keberhasilan. Hasil inilah yang menjadi bahasan menarik pada Silaturrahmi Virtual Masyarakat Bekasi yang digagas Pusat Kajian Manajemen Strategik (PKMS) yang didukung oleh Institut Bisnis Muhammadiyah (IBM) Bekasi dan Radio Suara Bekasi 855 AM pada Selasa 9 Juni 2020.

Menurut Dr. Jaenuddin, Rektor IBM Bekasi mengungkap bahwa “pada masa sulit seperti sekarang ini, jangan mengabaikan Pendidikan, karena pedidikan merupakan sumber kesuksesan di masa depan. Jangan sampai ada putus generasi dari pendidikan karena alas an ekonomi, manfaatkan peluang dari pemerintah dan lembaga pedidikan untuk tetap bisa sekolah dan berkuliah di masa sulit”.

Sedangkan Dr. Rahmat Effendi dalam kesempatan ini menegaskan bahwa “Prinsip strategi pemulihan dan pertumbuhan ekonomi di Kota Bekasi meliputi strategi yang mampu menyeimbangkan kebutuhan kesehatan, interaksi sosial, dan ekonomi dan strategi bukan saja diarahkan untuk memulihkan perekonomian namun harus dapat menjadi momentum fase transformasi menuju format ekonomi baru yang lebih maju”.

Walikota Bekasi juga menegaskan bahwa “agenda kerja pemulihan dan pertumbuhan ekonomi meliputi 3 hal yang mendasar. Pertama, reaktivasi kegiatan usaha, meliputi tujuh sektor (pasar tradisional, pasar modern, hotel, restoran, wisata, PTSP, transportasi umum). Kedua, penguatan kontribusi PDRB, meliputi empat kontributor (manufaktur, perdagangan dan jasa, konstruksi dan transportasi) dan Ketiga, pendayagunaan potensi ekonomi baru dengan produk dan layanan baru (online service, produk perlengkapan individu pelindung diri, alat cek kesehatan dan lain-lain)”.

Siswadi, pendiri PKMS mengungkapkan bahwa “PKMS akan siap mendukung langkah dalam upaya mengatasi dan menuntaskan masalah Covid-19 ini dengan langkah-langkah yang seharusnya tetap dilakukan di masa new normal ini yakni, memakai masker, jaga jarak, cuci tangan, hidup sehat, memelihara imunitas diri dan rajin berdoa.

Di sisi lain tetap dilakukan pelatihan manajemen pelayanan protokol kesehatan Covid-19m Sertifikasi/Stikerisasi Kesiapan YanProKes Covid.19 dan perlu digelar deklarasi untuk memantik semangat bersama dalam satu tujuan menegakkan disiplin protokol kesahatan di era new normal, sehingga wabah ini segara berlalu dari Kota Bekasi”.

Program pemulihan ekonomi perlu didesain dengan memperhatikan juga sektor usaha kecil dan tidak sebatas pada industri berskala besar yang bersifat konglomerasi. Pembukaan aktivitas perekonomian harus dilakukan dengan hati-hati sehingga sektor bisnis, sektor usaha, sektor riil tetap bisa bertahan meskipun dengan aktivitas ekonomi yang terbatas. 

Kita sepakat bahwa roda perekonomian harus tetap berputar, tetapi yang harus terus diperhatikan adalah keselamatan masyarakat dengan terus melakukan edukasi penerapan protokol kesehatan yang ketat dan senantiasa berdo’a. Oleh karenanya, kolaborasi antara pemerintah, sektor swasta dan masyarakat dalam proses recovery berpeluang dicapai lebih cepat.

*) tulisan ini adalah catatan penulis dalam mengikuti Silaturrahmi Virtual Warga Bekasi, 9 Juni 2020.