Riwayat Panjang Sindikat Bali Nine

Bali (855.news.com) -- Renae Lawrence, warga negara Australia, yang menjadi terpidana kasus narkoba bebas dari Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Bangli, Bali, Rabu 21 November 2018. Kepala Bagian Humas Direktorat Jenderal Pemasyarakatan (Ditjen PAS) Kementerian Hukum dan HAM Ade Kusmanto mengatakan proses pembebasan WNA yang kasusnya dikenal dengan istilah sindikat Bali Nine itu dilakukan hari ini pada jam kerja.

"Ini sedang proses di sana (Bangli, Bali). Setelah proses pembebasan selesai, Renae akan langsung dibawa ke kantor imigrasi untuk proses deportasi ke negaranya," kata Ade, Rabu 21 November 2018.

"Langsung dideportasi. Itu nanti urusan imigrasi. Yang jelas dari rutan (rumah tahanan) akan diserahterimakan, selanjutnya urusan imigrasi," kata dia.

Ade pun menegaskan pembebasan terpidana Bali Nine itu tak akan dilakukan dengan proses istimewa. Begitu pula saat diserahkan dari pihak rutan ke imigrasi. Biasa saja, tak ada yang istimewa. Seperti terpidana lain yang bebas.

Sementara itu, Kepala Humas Ditjen Imigrasi Kemenkumham Theodorus Simarmata, menyatakan Renae langsung diproses deportasi hari ini.

"[Terpidana bebas] diterima dari pihak rutan, dan akan langsung diproses untuk deportasi. Untuk paspor sudah klir, tinggal menunggu tiket [pesawat] pemulangannya. Itu sedang berkoordinasi dengan pihak kedutaan dan konsulat [Australia]," ujar Theo.

Dalam kasus Bali Nine, Renae divonis bersalah dan dijatuhi hukuman penjara seumur hidup. Hukumannya lalu dipotong hingga 20 tahun dalam proses peradilan lebih tinggi.

Dia telah menjalani hukuman lebih dari 13 tahun dan dijadwalkan bebas hari ini setelah mendapatkan berbagai pengurangan hukuman seperti remisi HUT Kemerdekaan dan hari raya keagamaan.

Ia akan menjadi anggota Bali Nine pertama yang dibebaskan. Sebelumnya, dua pentolan Bali Nine yang juga warga negara Australia, Andrew Chan dan Myuran Sukumaran, sudah dieksekusi mati pada 2015. Satu anggota Bali Nine lainnya, Tan Duc Thanh Nguyen, meninggal dunia karena kanker tahun ini.

Jejak Sindikat Narkoba Internasional

Renae Lawrence adalah salah satu anggota dari sembilan orang sindikat penyelundupan narkoba yang dibongkar pada 2005. Otak sindikat yang juga warga Australia yakni Andrew Chen dan Myuran Sukumaran telah dieksekusi mati pada 2015 silam. Satu anggota Bali Nine lainnya, Tan Duc Thanh Nguyen, meninggal di dalam tahanan akibat sakit kanker pada tahun ini.

Upaya penyelundupan heroin dengan berat lebih dari 8 kg terkuak pada April 2005 silam setelah Indonesia mendapatkan informasi dari polisi Federal Australia. 

Pada 17 April 2005, Renae Lawrence bersama empat orang lain yakni Andrew Chan, Scott Rush, Michael Czugaj, dan Martin Stephens ditangkap di Bandara Ngurah Rai, Denpasar. Dari tangan mereka didapatkan 8,3 kilogram heroin.

Secara terpisah, Myuran Sukumaran, Tan Duc Thanh Nguyen, Si Yi Chen, dan Matthew Norman ditangkap di Kuta saat hendak menyelundupkan heroin tahap dua ke Australia. Proses persidangan atas mereka pun dimulai pada 11 Oktober 2005.

Dalam proses peradilan, Sukumaran dan Chan, divonis hukuman mati di Pengadilan Negeri Denpasar pada 14 Februari 2006. Dua otak Bali Nine itu mencoba melakukan banding hingga kasasi, namun semuanya ditolak.

Sementara itu, tujuh terpidana lain termasuk Renae divonis hukuman bui dengan jumlah maksimal seumur hidup.

Pada Juli 2007, Perdana Menteri Australia kala itu, John Howard sempat menjalin komunikasi dengan Presiden RI yang masih dijabat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) terkait sindikat Bali Nine.

Upaya permohonan grasi yang dilakukan dua terpidana itu kepada Presiden SBY pada 2012 silam. Namun, permintaan grasi itu pun ditolak Presiden RI yang telah dijabat Joko Widodo (Jokowi) 2014 silam.

Pada awal 2015 silam, PM Australia yang telah dipegang Tony Abbot mendekati Presiden Jokowi agar membatalkan eksekusi dan memberikan pengampunan ke Sukumaran dan Chan. Namun, eksekusi mati tetap dilakukan kepada dua terpidana tersebut di Nusakambangan pada akhir April 2015.

Tidak hanya pemerintah Australia yang mengecam eksekusi tersebut, warga Australia juga turut serta memprotes. Berbagai macam protes dilakukan baik melalui aksi di depan KBRI Canberra maupun di media sosial salah satunya lewat tagar #BoycottBali.

Renae sendiri bisa bebas pada 21 November 2018 setelah mendapatkan pemotongan hukuman dalam proses peradilan yang lebih tinggi. Selain itu, pria yang telah menjalani hukuman lebih dari 13 tahun itu mendapatkan pengurangan hukuman seperti remisi HUT Kemerdekaan RI dan hari raya keagamaan.(*/im).