Mendukung Prabowo-Sandi Tak Berarti PKS Aman di Pileg

Jakarta (855.news.com)--Presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Sohibul Iman mengatakan meski partainya merupakan salah satu pengusung Prabowo Subianto-Sandiaga Uno di Pilpres, tidak menjamin  suara PKS di pileg 2019 aman.

Menurut Sohibul, elektabilitas PKS tidak otomatis terangkat dengan mengusung Prabowo-Sandi di pileg yang digelar serentak dengan pilpres pada 17 April 2019 mendatang. Persoalan berat ini harus dihadapi PKS pada Pemilu 2019. PKS harus bekerja keras jika ingin suara di pileg aman.

"Ada persoalan berat yang menjadi implikasi pemilu serentak, yaitu bahwa partai-partai yang tidak memiliki capres dan cawapres mereka harus bekerja keras dan bekerja berkali-kali lipat," kata Sohibul Iman di Hotel Grand Sahid Jaya, Jakarta Pusat, Rabu (30/1).

Dijelaskan Sohibul, masalah ini bukan hanya dialami PKS, melainkan juga pada hampir semua partai yang tak memiliki capres dan cawapres. Mereka harus bekerja mati-matian untuk mempertahankan suara agar bisa menembus ambang batas 4 persen di pileg nanti. 

Hal itu berbeda dengan Partai Gerindra, misalnya, yang mengusung Prabowo sebagai capres, tentu saat kampanye capres, sudah sekaligus mempromosikan Gerindra. Begitu juga dengan PDIP dan PKB yang mengusung Jokowi-Ma'ruf Amin sebagai capres dan cawapres.

"Sebaliknya, kita memasarkan Prabowo dan Sandi tidak otomatis mengangkat PKS. Ini problem yang saya kira dihadapi semua partai yang tidak memiliki capres cawapres dari partainya sendiri," ujarnya. 

Sohibul juga menyebutkan bahwa nasib PKSa saat ini tak jauh berbeda dengan Partai Demokrat. Dia mengaku mendengar cerita dari Tim Materi dan Debat Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandi yang berkesempatan bertemu Ketua Umum Partai Demokrat, Susilo Bambang Yudhoyono beberapa waktu lalu. 

Kala itu, kata Sohibul, tim sempat meminta agar SBY turun lebih sering untuk memasarkan Prabowo-Sandi saat berkampanye. 

"Pak SBY diminta untuk lebih banyak turun ke bawah, jawaban Pak SBY adalah kami sedang setengah mati memikirkan memperjuangkan bagaimana Demokrat bisa tetap eksis," tutur Sohibul.

"Jadi saya kira ini adalah problem bersama partai yang tidak memiliki capres cawapresnya sendiri," katanya lagi. 

Sohibul menganalogikan koalisi Indonesia Adil Makmur sebagai satu buah bola. Bola tersebut, kata dia, tertulis Prabowo-Sandi, sehingga menurutnya hanya Gerindra yang otomatis terlihat daripada partai pengusung lainnya.

"Jika koalisi Prabowo-Sandi diumpamakan bola, bola itu tertulis Prabowo-Sandi. Di dalamnya ada Demokrat, PKS, PAN, Berkarya, nah di bawah Prabowo-Sandi itu sedikit nyempil ada Gerindra. Sementara partai lain tidak kelihatan dalam bola," katanya. (*/im)