Pemerintah Akan Pulangkan 14 ABK WNI Korban Eksploitasi Kapal China

Jakarta (855.news.com) -- Menteri Luar Negeri Retno Marsudi mengatakan pemerintah Indonesia akan memulangkan para Anak Buah Kapal (ABK) yang diduga mengalami eksploitasi di kapal pencari ikan China dari Korea Selatan. Proses pemulangan terhadap para ABK yang berjumlah 14 itu dari Korsel akan dilakukan besok (jumat 8/5).

"Langkah-langkah yang dilakukan memfasilitasi kepulangan 14 awak kapal, dan kepulangan akan dilakukan pada 8 Mei. Selain itu KBRI terus berkoordinasi untuk memfasilitasi kepulangan almarhum E yang direncanakan pulang 8 Mei 2020," tutur Retno dalam jumpa pers yang digelar secara daring, Kamis (7/5) petang.

Sebelumnya, Badan Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (BP2MI) menyatakan saat ini berkoordinasi dengan pihak Kementerian Luar Negeri RI, terutama KBRI di Seoul, Korea Selatan untuk mengurus kepulangan sebanyak 14 WNI Anak Buah Kapal (ABK) Kapal China yang diduga mengalami eksploitasi. Saat ini para ABK tersebut berada di Busan, Korea Selatan.

Selain itu, pihaknya juga masih melakukan penelusuran kasus kematian empat WNI ABK, dengan rincian tiga jenazah telah dilarung dan satu WNI yang meninggal di Rumah Sakit Korea Selatan akibat menderita pneumonia.

"BP2MI sedang melakukan koordinasi intensif dengan KBRI Seoul dan dengan Kementerian dan Lembaga terkait untuk kasus kematian ABK, dan juga ABK yang akan dipulangkan pada 8 Mei," kata Kepala Biro Hukum dan Humas BP2MI, Sukmo Yuwono dalam keterangan tertulis, Kamis (7/5).

Dijelaskan Sukmo, para ABK kapal yang diduga dieksploitasi dan mengalami pelanggaran HAM itu bukan berasal dari agen perusahaan Korea Selatan, namun berasal dari agen dari negara China. Alhasil, seluruh kebijakan dan hukum akan disesuaikan dengan pihak setempat. 

"Mereka bukan dipekerjakan oleh agensi Korea tapi oleh agency China jadi jenis visanya bukan E-9 maupun E-10, hanya mereka kebetulan bongkar muat di Korsel," paparnya.

BP2MI, lanju Sukmo, juga memantau persebaran WNI yang menjadi ABK di kapal asing. Khusus untuk kapal China, sejauh ini tercatat total tiga buah kapal dengan ABK WNI yang pernah bersandar di Korea Selatan, termasuk sebuah kapal yang ramai diberitakan.

Kemudian kapal kedua yang membawa 20 ABK kembali berlayar dengan kapal China, serta kapal ketiga yang menurut Sukmo telah memulangkan 14 ABK Indonesia sejak 24 April lalu. Total tiga kapal yang pernah bersandar di Korea membawa 48 ABK asal Indonesia.

Untuk perkembangan kasus, ia menyebut saat ini KBRI Beijing, China telah berusaha mengusut ini kepada pihak otoritas setempat.

"Informasi dari KBRI Beijing bahwa mereka telah mengirimkan nota diplomatik ke otoritas setempat untuk meminta klarifikasi kasus tersebut," urainya.   

Sebelumnya stasiun televisi Korea Selatan, MBC, menyiarkan laporan eksklusif mengenai dugaan menjurus ke perbudakan dan pelanggaran HAM yang dialami para ABK WNI di kapal berbendera China. Dilaporkan juga ada ABK yang tewas lalu jenazahnya dilarung ke laut, padahal kesepakatan awal dikremasi di darat lalu abu diberikan ke keluarga.

Sebelumya keberadaan ABK WNI yang diduga menjadi korban eksploitasi itu mencuat setelah stasiun televisi Korsel, MBC. Dalam berita yang ditulis MBC, diduga sejumlah WNI mengalami praktik eksploitasi bekerja hingga 18 sampai 30 jam sehari, kemudian sakit dan meninggal dunia.

Menurut pengakuan dua ABK WNI yang dirahasiakan identitasnya, seorang rekan mereka yang bernama Ari (24), meninggal karena sakit saat kapal tengah berlayar. Jasadnya dibuang begitu saja di tengah laut dengan upacara seadanya.

Dua ABK WNI lainnya, Alphata (19) dan Sepri (24), juga meninggal di atas kapal. Jenazah ABK WNI itu kemudian dilaporkan dibuang ke laut dengan upacara seadanya. Kemudian, seorang ABK dilarikan ke rumah sakit akibat mengalami sakit pada dada, tetapi meninggal dunia pada 27 April. (*/im).