Soeharto pun Pernah Marah seperti Jokowi tetapi Selalu Tersenyum

Oleh Dasman Djamaluddin

Presiden Republik Indonesia (RI) Joko Widodo (Jokowi) marah. Berita itu menjadi bahan diskusi warga minggu ini.

Kalau kita membaca buku yang disusun St. Sularto: "Syukur Tiada Akhir Jejak Langkah Jacob Oetama " (Jakarta: Penerbit Buku Kompas, 2011) setebal 660 halaman, sudah tentu kita agak kaget, karena ternyata di balik senyuman Presiden Soeharto, tersimpan ketidaksukaan kepada berita-berita di harian "Kompas." Intinya Soeharto juga pernah marah.

Ternyata di buku biografi Jacob Oetama ini, terungkap sifat asli Soeharto sebagai seorang presiden. Tidak seperti yang pernah diungkapkan Putri mantan Presiden Soeharto, Siti Hardiyanti Rukmana atau Mbak Tutut turut ketika berbicara dalam rangka 20 tahun ayahnya berhenti dari kursi presiden pada 21 Mei 1998.

Pada tahun 1998, masa jabatan Presiden Soeharto berakhir setelah mengundurkan diri pada tanggal 21 Mei 1998, menyusul terjadinya kerusuhan Mei 1998 dan pendudukan gedung DPR/MPR oleh ribuan mahasiswa. Soeharto merupakan orang terlama yang menjabat sebagai presiden Indonesia.Soeharto digantikan oleh B.J. Habibie.

Tutut memulai cerita dengan mengingat kembali sang ayah menyatakan berhenti berkuasa pada 21 Mei 1998. Bagi Tutut, peristiwa itu tidak akan pernah dilupakannya.

Sebelum menyatakan berhenti, kata Tutut, ayahnya memanggil semua anaknya. Soeharto ingin menyampaikan niatnya itu sebelum benar-benar menyatakan berhenti sebagai presiden.

Semua anak Soeharto mulanya tak rela ketika ayahnya memilih berhenti lantaran didesak oleh banyak kelompok masyarakat serta politikus secara masif.

"Kami terus terang pada saat itu agak tidak rela, kenapa Bapak yang sudah bekerja seluruh hidupnya untuk bangsa dan negara ini diperlakukan demikian," tulis Tutut.

"Kami memohon Bapak untuk menunda dulu keputusan beliau," lanjutnya.

Ucapan ayahnya yang sangat penting, ujar Tutut : "Dan satu hal Bapak minta pada kalian semua, jangan ada yang dendam denga kejadian ini dan jangan ada yang melakukan balas dendam karena dendam tidak akan menyelesaikan masalah," tulis Tutut masih menirukan pernyataan sang ayah kala itu.

Pada satu sisi, nasihat seorang ayah (Soeharto) kepada anak-anaknya ini baik buat generasi berikutnya. "Jangan Ada Dendam." Tetapi tahukah kita, bahwa di buku biografi Jacob Oetama, terungkap jelas, betapa di balik senyumannya yang khas, Soeharto adalah seorang pendendam ?

Jangan Macam-macam

Kita baca di buku biografi Jacob Oetama, khusu di halaman 21, ada sub judul dalam bahasa Jawa, "Aja Meneh-meneh." Sudah tentu dalam bahasa Indonesia berarti: "Jangan Macam-macam."

Itulah bisikan Presiden Soeharto di telinga Jacob Oetama dalam acara peringatan Hari Pers ke-32, tanggal 9 Februari 1978 di Solo, ketika para wartawan dipersilahkan berjabat tangan dengan Soeharto, presiden selalu tersenyum. Uluran tangannya kepada Jacob berbeda. "Aja meneh-meneh," ujarnya kepada Jacob yang kaget mendengar kalimat yang diucapkan tersebut.

Jacob lantas melanjutkan kalimat Soeharto itu dalam hati. "Jangan lagi kamu lakukan, saya habisi kamu ! " Kalimat itu bersayap. Kata Jacob, "Pak Harto dikenal hemat bicara ! Dibesarkan dalam lingkungan Jawa pedesaan dan kalangan militer, ia cenderung tidak banyak bicara.

Itulah cerita Jacob Oetama tentang Soeharto di balik senyumannya yang khas. Lain pula cerita isteri Pak Nasution, Yohana Sunarti Nasution di Majalah "Tempo," edisi 28 Juli 2002 sebelum Nasution menerima jabatan sebagai Jenderal Besar bersama Soeharto dan Jenderal Soedirman :

" ... Pak Nasution dicekal dari tahun 1972 sampai 1993, sejak itu penjagaan dan fasilitas ditarik. Bahkan air PAM di rumah dicabut. "

Sejauh ini belum ada informasi yang mengatakan mengapa hubungan mereka baik kembali dan Nasution mendapat pangkat Jenderal Besar di masa pemerintahan Presiden Soeharto itu juga.

Tentang Soeharto tidak pernah dendam, ternyata Laksamana TNI (Purn) Soedomo berbicara lain. Hal ini terungkap ketika saya bertemu beliau pertama dan terakhir, di rumahnya, Pondok Indah, Senin 8 Februari 2010.  Pertemuan pertama, karena memang pertamakali saya berbicara empat mata atau secara khusus. Kedua, setelah itu tidak lagi bertemu hingga beliau meninggal dunia.

Pak Domo, panggilan akrabnya, tiba-tiba   bicara tentang peta perpolitikan menjelang Pak Harto lengser dari jabatan Presiden RI.

Diselingi humur- humor kecil, Pak Domo bercerita mengenai tiga orang yang sangat tidak disukai Pak Harto. Pertama, Harmoko, Kedua, B.J. Habibie dan ketiga, Ginanjar Kartasasmita.

Sebetulnya, saya tidak ingin mengetahuinya, karena fokus utama saya ke rumah Pak Domo, adalah menggali informasi tentang Letnan Jenderal TNI (Purnawirawan) Rais Abin (anak buah Soedomo) yang kemudian dimuat di halaman 218 dan 219 buku biografi tentang Rais Abin: ” Catatan Rais Abin," sehingga saya pun bersedia mendengarkannya.(*)