Nasib Keluarga Pengawal Presiden Soekarno

Oleh Dasman Djamaluddin

Berbicara tentang nasib, sudah tentu hanya Tuhan yang mengatur. Termasuk nasib para keluarga mantan presiden, dalam hal ini Presiden Soekarno.

Hal ini terungkap ketika Presiden Joko Widodo (Jokowi) memberikan bantuan kepada istri pengawal Presiden RI pertama Soekarno, Elizabeth Koesno (93), yang sedang sakit dan dirawat di RSPAD Gatot Soebroto, Jakarta Pusat. Bantuan itu berupa bantuan uang sebesar Rp 50 juta.

"Pada hari ini, Minggu, 14 Juni 2020, Bantuan Presiden RI telah diberikan kepada Ibu Elizabeth Koesno (93 tahun) yang merupakan istri dari Alm Bpk R Koesno," ujar Sekretaris Pribadi Presiden, Anggit Nugroho, saat dimintai konfirmasi, Minggu, 14 Juni 2020.

Sersan Mayor Koesno meninggal dunia pada 1998. Karena dianggap berjasa oleh negara, suami Oma Elizabeth itu dimakamkan di TMP Kalibata.

Bantuan sebesar Rp 50 juta itu diserahkan ke keluarga di RSPAD Gatot Soebroto. Atas bantuan itu pihak keluarga merasa bersyukur.

"Bantuan sebesar Rp 50 juta tersebut telah diserahkan di RSPAD Gatot Soebroto, tempat Ibu Elizabeth Koesno dirawat saat ini. Ibu Elizabeth beserta keluarga juga menyampaikan terima kasih atas perhatian dan bantuan Presiden RI," katanya.

Pada Minggu, 14 Juni 2020 siang 3 orang staf Kepresidenan Joko Widodo (Jokowi) menjenguk istri pengawal Presiden pertama RI Sukarno, Elizabeth Koesno (Oma Koesno), yang dirawat di RSPAD Gatot Soebroto. Pihak keluarga mengungkapkan staf kepresidenan menyampaikan doa kesembuhan untuk Oma Koesno dari Jokowi.

"Iya betul tadi datang 3 orang dari staf kepresidenan besuk Oma Koesno," kata cucu Oma Koesno, Roland Anziano.

Mantan Pengawal Presiden Soekarno yang Saya Kenal

Sudah tentu banyak pengawal Presiden Soekarno semasa hidupnya, tetapi yang kita kenal sudah tentu hanya beberapa orang saja.

Saya adalah orang bernasib baik yang mengenal dari dekat salah seorang mantan pengawal Presiden Soekarno tersebut, yaitu Mayor Jenderal (Mayjen) TNI (Purnawirawan) Sukotjo Tjokroatmodjo. Ia meninggal dunia
pada hari Kamis, 16 Maret 2017, pukul 23.00 WIB di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Jakarta.

Ketika saya membantu Legiun Veteran Republik Indonesia (LVRI), sebagai Redaktur Pelaksana Majalah "Veteran," tahun 2010, sudah tentu bergaul sangat dekat dengan beliau, karena ia adalah Wakil Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat LVRI.

Suatu ketika, saya diberi buku tulisan dari salah seorang pengawal presiden yaitu Mangil Martowidjojo berjudul: "Kesaksian tentang Bung Karno 1945-1967" (Jakarta: Grasindo, 1999). Sudah tentu di dalam buku setebal 520 halaman tersebut, banyak mengutip nama Sukotjo Tjokroatmodjo.

Ada dua pernyaataan Mayjen TNI (Purnawirawan) Sukutjo Tjokroatmodjo yang diutarakannya kepada saya. Pertama, tentang Jenderal Soedirman. Kedua, tentang Pahlawan Nasional.

Pertama, tentang Jenderal Soedirman, ia mengatakan, sebagai seorang militer, Panglima Besar TNI Soedirman tidak pernah menangis. Hal ini membantah pernyataan, bahwa ada yang mengatakan bahwa Jenderal Soedirman menangis ketika Presiden Soekarno memegang pundak Soedirman ketika akan berpisah di Istana Presiden Yogyakarta.

Istana Kepresidenan Yogyakarta dikenal juga  dengan nama Gedung Agung atau Gedung Negara. Penamaan itu berkaitan dengan salah satu fungsi gedung utama istana itu, yaitu sebagai tempat penerimaan tamu-tamu agung. Istana ini  merupakan salah satu istana dari istana Kepresidenan lainnya, yang memiliki peranan amat penting dalam sejarah perjuangan kemerdekaan dan kehidupan bangsa Indonesia. Bahkan, salah seorang putri Presiden Soekarno, Megawati Soekarnoputri, lahir di istana ini.

" Jadi, bukan menangis, ujar Sukotjo Tjokroatmodjo, tetapi terharu karena setelah serangan Belanda tersebut, nasib bangsa semakin tidak menentu. Apakah negara yang baru didirikan itu akan bubar atau akan tetap langgeng. Disitulah keharuannya, jelas Soekotjo Tjokroatmodjo.

Sebelumnya Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat LVRI waktu itu, Letjen (Purn) Rais Abin, pun pernah pula mengomentarinya. "Sejarah jangan diputarbalikkan. Jenderal Soedirman bukanlah seorang melankolis. Dia seorang militer," ujar Rais Abin.

Pada waktu itu, Soekarno mengatakan: "Ingatlah, sekalipun para pemimpin tertangkap, orang yang di bawahnya harus menggantikannya, baik ia militer maupun sipil. Dan Indonesia tidak akan menyerah," kata Soekarno sambil memegang pundak Soedirman. Lelaki berusia 30 tahun yang bernafas dengan paru-paru sebelah itu, kembali ke pasukannya yang sudah bersiap.

Kedua, ketika Mayor Jenderal TNI Sukotjo Tjokroatmodjo, mantan pengawal Presiden Soekarno, mengatakan kepada saya pada tahun 2010, bahwa pahlawan itu ditentukan oleh waktu dan tempat.

Mayor Jenderal (Purn) Sukotjo juga menyaksikan pertempuran dalam Perang Kemerdekaan Indonesia 1945-1949. Dia kemudian menjadi asisten untuk kerja sama internasional dengan Menteri Pertahanan, antara 1978-1984. Lelaki kelahiran 18 Desember 1927 tersebut, memang patut juga dikenang sebagai salah seorang pengawal presiden lainnya, yang siap menyerahkan nyawanya demi membela keselamatan seorang presiden.(*)