Durhaka Kepada Ayah


Kisah anak durhaka kepada ayahnya ini menggambarkan perihal kerasnya hati seorang anak dan durhaka dengan melipakan seluruh perhatian, kasih sayang dan pengorbanan Ayahnya. Sudah pasti, anak yang demikian  akan mendapatkan hukuman di dunia sebelum ia mendapatkan sanksi di akhirat kelak.

Pada suatu ketika, ada seorang anak yang mendesak ayahnya yang hanya berstatus sebagai pedagang ‘ishomi, yakni pedagang yang tidak mewarisi harta benda, namun mencari permodalan sendiri, agar sang ayah mau menikahkannya dengan gadis yang sudah ia kenal dibangku perguruan tinggi.

Namun, ayahnya ternyata tidak setuju jika ia menikahi gadis itu, lantaran ia khawatir bila pernikahannya akan berakhir dengan kegagalan (tidak harmonis), sebab ia telah mengetahui karakter gadis yang hendak diperistri putranya itu.

Karena begitu keras kepalanya anak itu, akhirnya sang ayah pun menuruti permintaannya. Tak berhenti sampai disitu saja, anaknya juga meminta ayahnya agar mau membelikan rumah untuknya. Mendengar permintaan anaknya itu, lalu sang ayah menyarankan agar putranya membeli rumah yang besar, agar ia dan istrinya bisa menempati lantai atas, sedangkan ayah dan ibunya akan menempati lantai bawah saja.

Sesuai saran sang ayah, maka dibelilah rumah itu. Mereka semua akhirnya tinggal di rumah baru itu. Tak lama kemudian sang ibu wafat, maka tinggallah sang ayah sendirian, tanpa ada seorang pun yang mengurusinya dan memenuhi kebutuhan hidupnya, padahal usianya telah mencapai tujuh puluh tahun.

Setiap kali anak yang durhaka itu lewat bersama istrinya, ia melemparkan sisa-sisa makanan kepada ayahnya, layaknya binatang ternak. Akibat perbuatannya itu, maka tempat kediaman ayahnya menjadi semakin kotor, tanpa ada yang membersihkannya, sehingga ia pun terserang berbagai macam penyakit. Ketika sakitnya semakin parah, sang ayahpun meminta agar anaknya mau membawanya ke dokter, namun anak yang durhaka itu selalu menolak dan menolak. Sedangkan istri anak durhaka itu terus mendorong suaminya agar mengusir ayahnya dari rumah, sehingga ia bisa menguasai itu sepenuhnya.

Pada suatu malam yang dingin, sang anak hendak menemui ayahnya. Ia tak mendengar apapun dari ayahnya selain batuk yang tiada henti. Penyakit demam yang dideritanya seakan terus saja menggerogoti tubuhnya yang kerempeng itu. Sedangkan bau tak sedap senantiasa menyengat dari pakaiannya yang belum diganti lebih dari sebulan.

Anak durhaka itu benar-benar nekad melakukan perbuatan yang sangat tidak beradab! Setelah puas memakinya, mencacinya dan menendangnya, ia membungkus tubuh ayahnya dengan selimut, lalu melemparkannya keluar rumah.

Saat orang-orang selesai dari melaksanakan sholat subuh, tiba-tiba mereka dikejutkan dengan tergeletaknya sesosok jasad manusia yang terbungkus selimut di dekat bangunan besar. Tubuhnya telah membeku, lantaran udara sangat dingin dan hujan begitu deras. Ketika mereka membuka bungkusan selimut itu, mereka mendapatkan sesosok jasad yang sudah tidak bernyawa lagi, dimana darah keluar dari hidungnya dan membeku di kumis dan mulutnya.

Setelah dilakukan pemeriksaan oleh pihak kepolisian, terungkaplah pelaku pembunuhan laki-laki yang mereka temukan itu. Dan pelakunya yang ternyata anaknya sendiri digiring ke kantor polisi. Sesudah proses pengadilan, ia di vonis dengan hukuman penjara dua puluh tahun, padahal ketika itu istrinya sedang hamil satu bulan.

Anak durhaka itu pun melewati masa-masa dalam penjara secara sempurna. Sesudah habis masa hukuman yang panjang itu, istrinya ingin membuat kejutan pada suaminya dengan mempertemukan anaknya yang sudah berusia dua puluh tahun, yang tidak pernah dilihatnya selama ini. Di dekat pintu penjara sang istri bersama anaknya menunggu di dalam mobil yang dikendarai oleh anaknya yang sangat rindu ingin bertemu dengan sang ayah.

Ketika sang ibu melihat suaminya sedang keluar dari pintu, maka sang ibu pun menyuruh anaknya untuk menghampiri sang ayah dengan mobil. Namun, lantaran begitu gembiranya sang anak yang akan bertemu dengan ayahnya, ia keliru menekan gas, padahal ia hendak menginjak rem, hingga menyebabkan ayahnya tertabrak oleh mobilnya sendiri. Ketika sang anak turun dari mobil,ayahnya sudah tergeletak dengan wajah tertelungkup ke tanah, sedangkan darah mengucur dari hidung dan mengalir ke mulutnya.

Pemandangan itu persis seperti kematian kakeknya lantaran ulah ayahnya dulu, yang saat ini sedang ia saksikan di bawah roda mobilnya.

Maka, dalam tiap persoalan, berpatokanlah pada nilai-nilai yang sudah ditetapkan oleh Allah SWT, agar selamat dunia dan akhirat.(R4-mam/berbagai sumber).