Ipda Denny, Polisi Asal Cirebon Korban Bom Thamrin

Jakarta (855.news.com) -- Salah satu polisi korban bom Thamrin tahun 2016 silam adalah Ipda Denny Mahieu. Ia berasal dari Cirebon, dari keluarga santri. Meski sekujur tubuhnya terluka dan pendengerannya kini terganggu, Denny memaafkan Oman Rochman alias Aman Abdurrahman. Dalam persidangan beberapa waktu lalu, Denny merangkul Aman dan membisikan sebuah kata;" Saya bukan Thogut."

Pada persidangan di Pengadilan Jakarta Selatan, Jum'at 18 Mei 2018, dimana Aman didakwa hukuman mati, Ipda Denny kembali hadir. Ia duduk dikursi belakang ruangan sidang dan sengaja datang untuk menghadiri sidang kasus bom Thamrin dengan terdakwa Oman Rochman alias Aman Abdurrahman.

Kepada para wartawan, Ipada Denny kembali menceritakan momen pada sidang 23 Februari 2018 dimana ia memeluk Aman.

"Waktu sidang beberapa waktu lalu kenapa saya peluk Aman Abdurrahman,  saya bilang Aman itu orang Sumedang, sedangkan saya sendiri kan asli Cirebon. Berdasarkan itu sama-sama suku dari Jabar," kata Denny.

Tak hanya memperkenalkan asal diri kepada Aman. Denny juga mengaku membisikkan sesuatu kepada pimpinan Jamaah Ansharut Daulah (JAD) tersebut.

"Saya berikan pesan bahwa saya bukan thogut. Saya orang Islam. Karena pedomannya satu Alquran," tuturnya.

Denny menjelaskan kepada Aman bahwa dirinya bukanlah seorang pembunuh. Dia juga menjelaskan kepada Aman bahwa dirinya telah memaafkan Aman.

"Kalau saya membunuh, saya dibunuh wajar. Saya enggak melakukan pembunuhan, tapi saya juga dikasih bom. Saya kena bom saya maafin orang. Tapi sudahlah sudah terjadi," urainya.

Seperti diketahui, Ipda Denny sedang berpatroli saat bom Thamrin meledak 2016 silam. Ia terkena bom, sekujur tubhhnya, terutama bagian paha terluka parah. Syukur Alhamdulillah nyawa Ipada Denny selamat, meski luka di sekujur paha Denny membekas hingga sekarang. Ia juga kehilangan pendengaran kategori berat.

Aman Abdurrahman, sang penghancur sesama muslim itu, pada sidang Jum'at 18 Mei 2018 dituntut hukuman mati. Ia  disangkakan melanggar Pasal 14 juncto Pasal 6, subsider Pasal 15 juncto Pasal 7 UU Nomor 15/2003 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme dengan ancaman pidana penjara seumur hidup atau hukuman mati.

Aman juga disangka dengan Pasal 14 juncto Pasal 7 subsider Pasal 15 juncto pasal 7 UU Nomor 15/2003 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme dengan ancaman pidana penjara seumur hidup.(im).