Khutbah Idul Adha 1439 H / 2018 M, Pendidikan Ala Nabi Ibrahim AS

Oleh: Ahmad Syaikhu (Founder ASYIKpreneur)

الله أكبر الله أكبر الله أكبر، الله أكبر الله أكبر الله أكبر ،لله أكبر الله أكبر الله أكبر، ولله الحمد
الْحَمْدُ للهِ الذي صَدَقَ وَعْدَهُ وَنَصَرَ عَبْدَهُ وَأَعَزَّ جُنْدَهُ وَهَزَمَ اْلأَحْزَابَ وَحْدَهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ لاَ نَبِيَ بَعْدَهُ، اللهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى هَذَا النَّبِيِّ الْكَرِيْمِ وَعَلَى الِهِ وَصَحْبِهِ وَأَتْبَاعِهِ
بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ اْلقِيَامَةِ، أمَّا بَعْدُ: فَيَا عِبَادَ الله، أُوصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَا الله فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. وقالَ الله تعالى: (رَّبَّنَا إِنِّي أَسْكَنتُ مِن ذُرِّيَّتِي بِوَادٍ غَيْرِ ذِي زَرْعٍ عِندَ بَيْتِكَ الْمُحَرَّمِ رَبَّنَا لِيُقِيمُوا الصَّلَاةَ فَاجْعَلْ أَفْئِدَةً مِّنَ النَّاسِ تَهْوِي إِلَيْهِمْ وَارْزُقْهُم مِّنَ الثَّمَرَاتِ لَعَلَّهُمْ يَشْكُرُونَ)

Allahu Akbar 3X Walillahilhamdu.
Jamaah Shalat Idul Adha Yang Dimuliakan Allah.

Hari ini kumandang takbir, tahlil dan tahmid menggema membelah angkasa, menghiasi jagad raya. Gema takbir membahana menembus petala langit dan bumi, disimak malaikat dan menggetarkan musuh-musuh agama. Hari ini lebih dari satu koma enam miliar kaum muslimin menyatakan rasa gembira dan syukur karena Allah menjadikannya sebagai umat terbaik di tengah manusia lainnya.

Di pagi penuh berkah ini mari kita tolehkan perhatian kita pada jejak langkah penuh pesona Nabi Ibrahim yang mulia, suri teladan bagi kita semua umat manusia. Sosok Nabi yang berkarakter sempurna dalam menorehkan sejarah hidupnya. Nabi Ibrahim yang menjadi “ummat’ dalam kesendiriannya, yang menjadi figur teladan bagi generasi sesudahnya. Keteladanan yang diabadikan dalam firman Allah :
قَدْ كَانَتْ لَكُمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِي إِبْرَاهِيمَ وَالَّذِينَ مَعَهُ
“Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia” (QS. Almumtahanah : 4)

Negeri ini membutuhkan manusia-manusia yang bersemangat dalam menapaktilasi keteladanan Nabi Ibrahim AS agar bangsa yang setengah “merana” ini kembali berjaya menjadi sebuah negeri yang makmur, aman dan sentosa sebagaimana yang pernah dipanjatkan oleh Nabi Ibrahim AS :
وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ رَبِّ اجْعَلْ هَٰذَا بَلَدًا آمِنًا وَارْزُقْ أَهْلَهُ مِنَ الثَّمَرَاتِ مَنْ آمَنَ مِنْهُم بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ قَالَ وَمَن كَفَرَ فَأُمَتِّعُهُ قَلِيلًا ثُمَّ أَضْطَرُّهُ إِلَىٰ عَذَابِ النَّارِ وَبِئْسَ الْمَصِيرُ
“Dan (ingatlah), ketika Ibrahim berdoa: "Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini, negeri yang aman sentosa, dan berikanlah rezeki dari buah-buahan kepada penduduknya yang beriman diantara mereka kepada Allah dan hari kemudian. Allah berfirman: "Dan kepada orang yang kafirpun Aku beri kesenangan sementara, kemudian Aku paksa ia menjalani siksa neraka dan itulah seburuk-buruk tempat kembali”. (QS. Al-Baqarah : 126)

Kemunculan negeri yang didambakan ini tidak secara tiba-tiba, namun perlu dipersiapkan dengan menempa SDM-SDM melalui pendidkan yang unggul. Inilah yang dilakukan oleh Nabi Ibrahim mendidik dan mencetak SDM unggul, seperti Nabi Ismail AS. Ismail adalah seorang anak yang menjadi teladan sepanjang sejarah kemanusiaan dalam ketaatan kepada Allah dan kepada orang tuanya. Ketika Nabi Ibrahim ingin menyembelihnya atas perintah Allah, ia dengan tegas menyatakan kesiapannya. Apa rahasia Keberhasilan Nabi Ibrahim dalam mendidik Ismail? Tentu saja banyak faktor yang menetukan, di antaranya adalah cara beliau mendidik. Metode pendidikan ala Ibrahim AS terumuskan dalam doa yang dikumandangkannya kepada Allah SWT ketika akan meninggallkan istri dan anaknya di lembah yang tidak ada tumbuhan dan kehidupan.
رَّبَّنَا إِنِّي أَسْكَنتُ مِن ذُرِّيَّتِي بِوَادٍ غَيْرِ ذِي زَرْعٍ عِندَ بَيْتِكَ الْمُحَرَّمِ رَبَّنَا لِيُقِيمُوا الصَّلَاةَ فَاجْعَلْ أَفْئِدَةً مِّنَ النَّاسِ تَهْوِي إِلَيْهِمْ وَارْزُقْهُم مِّنَ الثَّمَرَاتِ لَعَلَّهُمْ يَشْكُرُونَ
“Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, ya Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezekilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur”. (QS. Ibrahim : 37)

Hadirin, jamaah idul adha yang dimuliakan Allah SWT.

Nabi Ibrahim yakin betul bahwa ia meninggalkan anak dan istrinya di lembah yang tidak ada air, tidak ada tumbuhan dan tidak berpenghuni sama sekali adalah untuk mendekatkan diri kepada Allah dengan mendirikan shalat. Walaupun secara logika yang seharusnya diperlukan oleh Nabi Ibrahim AS untuk anaknya adalah logistik berupa makanan dan minuman agar bisa survival. Tetapi ternyata beliau justru meminta kepada Allah agar anak dan istrinya menjadi orang-orang yang mendirikan shalat. Perhatikan juga pada QS. Ibrahim : 40 :
رَبِّ اجْعَلْنِي مُقِيمَ الصَّلَاةِ وَمِن ذُرِّيَّتِي رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ دُعَاءِ
"Ya Tuhanku, jadikanlah oku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan shalat, ya tuhan kami, perkenankanlah do’aku."

Inilah bentuk pendidikan penanaman aqidah yang mendalam. Di tengah padang pasir di mana tidak ada tempat untuk meminta kebutuhan hidup selain menggantungkan diri kepada Allah SWT, Dzat yang memberikan kehidupan.

Nabi Ibrahim AS yakin betul dengan dekatnya seseorang kapada Allah SWT maka Allah yang akan memberikan rezeki dan kemudahan kepadanya. Perhatikanlah firman Allah SWT pada surat Ath-Thalaq : 2-3 :
وَمَن يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَل لَّهُ مَخْرَجًا وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ
"Barangsiapa bertakwa kepada Allah, nisaya Allah akan memberikan jalan keluar (pada setiap masalah yang dihadapinya) dan Dia akan memberi rezeki padanya dengan tanpa diduga."

Sikap seperti ini juga pernah dilakukan oleh Khalifah Umar bin Abdul Aziz ketika disarankan oleh para staffnya untuk mulai mengumpulkan harta untuk anak keturunannya. Dengan tegas Umar bin Abdul Aziz menolak ide itu dan berkata "Kalau seandainya mereka (anak cucuku) adalah orang yang bertakwa maka Allah yang akan menjamin kehidupannya dan kalau seandainya mereka adalah orang-orang yang fasik (tidak taat beragama) maka aku tidak ingin membantu mereka dalam kefasikannya dengan harta yang kuwariskan."

Dengan penegakkan sholat akan berdampak pada pembentukan akhlak dan karakter manusia yang sempurna. Allah berfirman :
إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنكَرِ
"Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar" (QS. Al-Ankabut : 45)

Di samping menyerahkan secara totalitas kepada Allah SWT, Nabi Ibrahim AS, sebagai orang tua juga menggantungkan masa depan anaknya kepada Allah yang tercermin dalam do'a-do'anya. Ini upaya untuk mengkondisikan anak dalam kebersamaan dengan orang-orang yang shalih dan menciptakan lingkungan yang shalih. Lingkungan yang shalih sangat diperlukan agar seorang anak bisa tumbuh kembang secara sempurna. Allah SWT berfirman menyebutkan do'a Ibrahim alaihissalam :

رَبِّ هَبْ لِي مِنَ الصَّالِحِينَ ﴿١٠٠﴾ فَبَشَّرْنَاهُ بِغُلَامٍ حَلِيمٍ ﴿١٠١﴾
“Ya Tuhanku, anugrahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang shaleh. (100). Maka Kami beri dia kabar gembira dengan seorang anak yang amat sabar. " (101) (QS. Ash Shaaffaat : 100)

Harapan-harapan dalam do'a nabi Ibrahim alaihissalam ini, adalah visi yang menandaskan beliau menghendaki adanya lingkungan yang kondusif, lingkungan yang bisa mendekatkan pada Allah, lingkungan yang bisa menjauhkan anak dan keturunannya dari keterjerumusan dalam dosa syirik dan melanggar aturan-aturan Allah. Meski banyak aral rintang yang menghalangi terciptanya lingkungan yang baik yang diharapkan itu, tapi Ibrahim alaihissalam tetap optimis melalui usaha dalam misi atau target yang beliau susun. Dalam misi itu, Nabi Ibrahim alaihissalam menargetkan anak keturunannya adalah orang-orang yang mendirikan shalat, disukai oleh masyarakatnya, mendapat rizki yang baik dan menjadi orang-orang yang bersyukur.

Dengan keshalihan inilah, seorang anak siap untuk menghadapi beban dan tanggung jawab yang besar, yang diperintahkan Allah. Itulahbyangvterjafi pada Babi Ismail AS yang siap menghadapi resiko meskipun harus mengorbankan nyawny karena disembelih. Perhatikanlah firman Allah SWT :

فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَى فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانظُرْ مَاذَا تَرَى قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ سَتَجِدُنِي إِن شَاء اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ ﴿١٠٢﴾
"Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata. ‘Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!’ Ia menjawab, ‘Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar’. (QS. Ash-Shaffat : 102)

Seorang anak shalih, yang terbina dalam keimanan dan ketakwaan, bisa memberi keyakinan kepada orang tuanya, untuk lebih memilih ketetapan Allah, kehendak Allah, keinginan Allah. Lebih tunduk kepada Allah dibandingkan tunduk kepada logika berpikir yang menggoyahkan keyakinan kepada Allah. Lebih mendahulukan Allah ketimbang berbagai kepentingan lain yang belum tentu kemaslahatannya. Lebih mengedepankan, mementingkan Allah SWT, ketimbang hal lain yang justru bisa membawa arah hidup kepada kesuraman, ketidakjelasan, bahkan kegelapan. Ismail, putra Ibrahim alaihimassalam mengatakan, "Wahai ayahku, kerjakanlah apa yang Allah perintahkan kepadamu. Insya Allah engkau akan mendapati aku termasuk orang-orang yang sabar." Subhanallah.


الله أكبر الله أكبر الله أكبر، الله أكبر الله أكبر الله أكبر ،لله أكبر الله أكبر الله أكبر، ولله الحمد

Hadirin hadirat, kaum muslimin muslimat yang berbahagia

Dalam surat Al-Baqarah ayat 131 - 133 Allah menggambarkan bahwa penanaman aqidah ini harus diestafetakan kepada anak keturunan, jangan hanya dinikmati sendiri oleh seorang ayah.

وَوَصَّى بِهَا إِبْرَاهِيمُ بَنِيهِ وَيَعْقُوبُ يَا بَنِيَّ إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَى لَكُمُ الدِّينَ فَلا تَمُوتُنَّ إِلا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ (١٣٢) أَمْ كُنْتُمْ شُهَدَاءَ إِذْ حَضَرَ يَعْقُوبَ الْمَوْتُ إِذْ قَالَ لِبَنِيهِ مَا تَعْبُدُونَ مِنْ بَعْدِي قَالُوا نَعْبُدُ إِلَهَكَ وَإِلَهَ آبَائِكَ إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ إِلَهًا وَاحِدًا وَنَحْنُ لَهُ مُسْلِمُونَ

"Dan Ibrahim mewasiatkan ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Ya'qub. (Ibrahim berkata): "Wahai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini untukmu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan muslim". Apakah kamu hadir ketika Ya'qub hendak dijemput oleh maut, ketika dia berkata kepada anak-anaknya, "Apa yang kamu sembah sepeninggalku?" Mereka menjawab: "Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu, yaitu Ibrahim, Ismail dan Ishaq, (yaitu) Tuhan yang Mahaesa dan Kami hanya tunduk patuh kepada-Nya"

Dua Nabi Allah, Ibrahim dan Ya'qub alaihimassalam benar-benar khawatir terhadap masa depan anak-anaknya bila mereka jauh dari ajaran Allah SWT. Mereka menegaskan agar anak-anak mereka tidak sampai terjerumus dalam kekufuran setelah mereka beriman kepada Allah. "Jangan kalian mati kecuali dalam keadaan Muslim," demikian nasihat dua Nabi Allah tersebut kepada anak-anak mereka. Mereka bahkan ingin lebih detail mendapat jawaban dari anak-anak mereka, tentang keimanan ini. Mereka berpikir panjang, apabila kelak Allah SWT memanggil mereka dan meninggalkan anak-anak mereka, "Apa yang kalian sembah bila aku telah tiada?" Dan anak-anak yang telah lama ditanamkan aqidah keimanan kepada Allah SWT itu pun menjawab bahwa mereka akan tetap menyembah Allah SWT sebagaimana yang dilakukan oleh orang tua mereka yang shalih.

الله أكبر الله أكبر الله أكبر، الله أكبر الله أكبر الله أكبر ،لله أكبر الله أكبر الله أكبر، ولله الحمد
Hadirin hadirat, sidang shalat Idul Adha yang dirahmati Allah

Demikianlah. Al-Qur'anul Karim telah mengajarkan kepada kita, kepada keluarga kita, khususnya kepada ayah, untuk turun aktif berdialog dan langsung berinteraksi dengan anak-anak. Rangkaian dialog antara ayah dan putranya di dalam Al-Quran ini menegaskan peran ayah sangat penting dalam pembentukan karakter seorang anak. Ayah harus terlibat aktif dalam pengasuhan anak, bukan hanya ibu. Dari ayah, anak belajar berani, bertanggung jawab, realistis, mudah bergaul dengan dunia luar. Sedangkan dari ibu, anak belajar kepekaan rasa dan kasih sayang. Dalam keluarga, ayah bukan hanya pencari nafkah dan pemberi izin ketika menikah, tetapi juga harus menjadi pendidik anak-anak, apalagi saat usia anak berada pada usia emas.

Di akhirat nanti, yang dihisab pertama mengenai anaknya adalah ayah, bukan ibu. Jadi, jika anak tidak baik dan tidak beriman, ayahnya pun akan dimintai pertanggungjawaban. Namun, jika anaknya saleh dan beriman, ayahnya dapat merasakan kenikmatan di akhirat berkat doa anak-anaknya walaupun ibadah ayahnya biasa saja. Ada tiga hak yang harus dipenuhi seorang ayah kepada anaknya, yaitu ibu yang baik, nama yang baik dan pengajaran tentang Al-Qur'an. Jika sikap anak tidak baik, harus ditinjau lagi, hak manakah yang belum dipenuhi oleh ayahnya.

Benar, bahwa berbakti kepada orang tua adalah kewajiban bagi anak dan durhaka kepada orang tua adalah salah satu dosa besar yang terbesar. Tetapi jangan lupa bahwa Islam tidak melihat satu sisi saja lalu melalaikan sisi lain. Islam juga mewajibkan bagi orang tua untuk berbuat baik kepada anak-anaknya, dan juga tidak durhaka kepada mereka.

Dalam kitab "Tanbiihul Ghafilin" dituliskan kisah seseorang yang datang kepada Umar bin Al-Khaththab radhiallahu anhu dan mengadukan perihal anaknya, “Anakku ini benar-benar telah durhaka kepadaku.”
“Apakah engkau tidak takut kepada Allah dengan durhaka kepada ayahmu, Nak? Karena itu adalah hak orang tua,” kata Umar kepada sang anak.
“Wahai Amirul Mukminin, bukankah anak juga punya hak atas orang tuanya?”
“Benar, haknya adalah memilihkan ibu yang baik, memberi nama yang bagus, dan mengajarkan Al-Quran.”
“Demi Allah, ayahku tidak memilihkan ibu yang baik. Ibuku adalah hamba sahaya yang dibelinya dari pasar seharga 400 dirham. Ia tidak memberi nama yang baik untukku. Ia menamaiku Ju’al. Dan dia juga tidak mengajarkan Al-Quran kepadaku kecuali satu ayat saja.” Ju’al adalah sejenis kumbang yang selalu bergumul pada kotoran hewan.

Umar menoleh kepada sang ayah dan berkata,
قد عققت ابنك قبل أن يعقك ، وأسأت إليه قبل أن يسيء إليك
“Engkau telah durhaka kepada anakmu sebelum ia mendurhakaimu. Engkau telah melakukan kejahatan kepada anakmu sebelum ia melakukan kejahatan kepadamu." (As-Samarqandi, Tahbihul Ghafilin, 130)

Dengan demikian, sosok ayah adalah sosok yang sangat krusial dalam perkembangan anak. Harus ada sosok ayah (laki-laki) dalam pengasuhan anak. Kerusakan pada anak-anak, penyebab utamanya adalah AYAH. Jadi, jika anak tidak baik, yang dipertanyakan adalah ayahnya, bukan ibunya.

Betul jika dikatakan, ibu adalah madrasah bagi anak-anaknya, dan ayah adalah kepala sekolah atau kepala madrasahnya. Tugas kepala sekolah adalah menentukan visi misi pendidikan anak didiknya, mengontrol serta mengevaluasi perkembangan guru dan juga anak-anak yang ada di dalam sekolah. Maka begitulah fungsi ayah di dalam keluarga, membentuk dan mengarahkan visi misi istri dan juga anak-anaknya.

Hadirin hadirat sidang shalat Idul Adha yang dirahmati Allah SWT,

Mari tingkatkan perhatian kepada anak-anak kita dan juga anak-anak di lingkungan kita. Terlalu banyak bahaya yang terus mengancam mereka. Kita disodorkan sebuah data bahwa jumlah perokok pemula meningkat, dan peningkatan jumlah perokok pemula itu semakin muda secara usia. Jika beberapa waktu lalu, perokok pemula bertambah di kalangan anak usia 14 tahun, kini usia perokok pemula meningkat di kalangan anak usia 10 tahun.

Kita juga disodorkan berita dari BNN yang menyebutkan, bahwa saat ini mafia narkoba punya modus baru untuk mengedarkan obat terlarang. Para bandar menggunakan pelajar dan anak-anak di bawah umur sebagai kurir maupun pengedar narkoba. Anak-anak belum mampu berpikir secara matang layaknya orang dewasa. Anak masih belum bisa memahami hukum sebab akibat. Keluguan ini jadi celah para bandar memanfaatkan anak-anak. Dan dalam penelitian BNN beberapa waktu lalu disebutkan 70 % dari pengguna narkoba adalah anak-anak usia sekolah.

Satu lagi, kabar yang begitu memprihatinkan kita dan melecut kesadaran kita. Banyaknya kasus asusila yang dilakukan oleh anak-anak di bawah umur. Kita juga menjadi prihatin banyak anak-anak yang manjadi korban prostitusi.

Harus ada yang kita lakukan, harus ada yang kita perbaiki.

الله أكبر الله أكبر الله أكبر، الله أكبر الله أكبر الله أكبر ،لله أكبر الله أكبر الله أكبر، ولله الحمد

Kaum Muslimin dan Muslimat sidang shalat Idul Adha yang berbahagia,

Hadirin sidang shalat Idul Adha yang Allah rahmati,
Sebenarnya, tak hanya anak yang membutuhkan bimbingan dan nasihat kita sebagai orang tua. Sebab kita orang tuapun tak kalah membutuhkan peran anak kita tentang kondisi kita di dunia dan terlebih di akhirat, sebagai orang yang memiliki jalur khusus dalam do’a kepada Allah. Sabda Rasulullah SAW yang menyebutkan, terputusnya seluruh jalur amal seorang manusia setelah meninggal, kecuali tiga, dan salah satunya adalah anak yang shalih. Tidak sekedar berstatus anak. Tapi disebutkan dalam hadits tersebut adalah anak yang shalih. Keshalihan lah yang menjadikan do’a dan munajat seorang anak bisa mengalir kepada orang tua yang tak lagi hidup di dunia. Maka, keshalihan lah yang kemudian menjadi orientasi pembinaan, pendidikan, perawatan, nasihat, bimbingan orang tua kepada anaknya.
Mari, di hari yang penuh suka cita dan kedekatan pada Allah ini, kita menengadahkan tangan, bermunajat, berdo’a kepada Allah SWT untuk seluruh kebaikan hidup kita di dunia maupun di akhirat. Termasuk do’a semoga Allah SWT memberikan kita keluarga dan keturunan yang shaalihin dan shalihat.
الله أكبر الله أكبر الله أكبر، لاَ إلَهَ إِلاَّ الله والله أكبر، الله أكبر ولله الحمد
الَّلهَمَّ اغْفِرْ لَنَا وَلِوَالِدِيْنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِلَّذِينَ ءَامَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ، رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ

Ya Allah, ampunilah dosa-dosa kami, kedua orang tua, guru-guru kami, dan saudara-saudara kami, kaum Muslimin semua, baik yang masih hidup maupun yang sudah wafat. Ya Allah, hanya kepada-Mu, kami mengabdi. Hanya kepada-Mu, kami shalat dan sujud. Hanya kepada-Mu, kami menuju dan tunduk. Kami mengharapkan rahmat dan kasih sayang-Mu. Kami takut azab-Mu, karena azab-Mu sangat pedih.

Ya Allah, jagalah kami dengan Islam dalam keadaan berdiri. Ya Allah, jagalah kami dengan Islam dalam keadaan duduk dan jagalah kami dengan Islam dalam keadaan tidur. Jagalah kami dengan Islam saat kami sehat maupun saat kami sakit. Jangan cabut nyawa kami kecuali kami dalam kondisi benar-benar beragama Islam.

Ya Allah, Engkau yang menyelamatkan nabi Nuh dari taufan badai dan banjir yang menenggelamkan dunia, Engkau yang menyelamatkan nabi Ibrahim dari kobaran api menyala, Engkau yang menyelamatkan Isa dari salib kaum durjana, Engkau yang menyelamatkan Yunus dari gelapnya perut ikan, Engkau yang menyelamatkan Nabi Muhammad dari makar kafir Quraisy, Yahudi pendusta, munafik pengkhianat, pasukan Ahzab angkara murka. Ya Allah, hancurkanlah orang-orang yang tak suka dengan Agama-Mu, yang menghina Kitab-Mu, Yang mempermainkan Syariat-Mu.

Ya Allah persatukanlah kami kaum Muslimin, untuk mengamalkan dan menegakkan Agama-Mu. Dan, karuniakanlah kepada kami keberkahan dari langit dan bumi.

لَّا إِلَٰهَ إِلَّا أَنتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنتُ مِنَ الظَّالِمِينَ. 3x

Ya Allah, yang mendengar rintihan hamba lemah dan banyak dosa. Ya Allah, lindungi kami, masyarakat kami, dan anak-anak kami dari berbuat dosa dan dari godaan Setan.

Ya Allah, tolonglah saudara-saudara kami yang sedang dilanda kesedihan, dan musibah, para janda, anak-anak yatim, kaum lemah, dan para fakir-miskin akibat musibah gempa di Lombok. Sembuhkan mereka yang masih menderita sakit. Mudahkanlah mereka dalam membangun kembali rumah tinggal mereka. Anugerahkan kebahagiaan kepada mereka. Siramilah mereka dengan rizki yang melimpah dari sisi- Mu yang penuh berkah. Kami lemah tak begitu berdaya membantu dan menyantuni mereka. Ampuni kami, ya Allah.

Ya Allah, kumpulkanlah hati-hati kami di atas dasar kecintaan kepada-Mu, pertemukanlah di jalan ketaatan kepada-Mu, satukanlah di jalan dakwah-Mu, dan ikatlah di atas janji setia demi membela syariat-Mu. Ya Allah, padukanlah jiwa-jiwa ini sebagai hamba-hamba-Mu yang beriman dan bertaqwa.

Ya Allah, lepaskanlah dan jauhkanlah dari kami penguasa-penguasa zhalim, fasik, dan kafir. Anugerahkan kepada kami pemimpin-pemimpin yang beriman dan bertakwa, jujur dan amanah, yang menjadikan Kitab-Mu sebagai landasan kepemimpinannya, menerapkan Syariat-Mu, dan membawa kami ke jalan yang benar, jalan yang Engkau ridhai.

Ya Allah, selamatkanlah kami, anak-anak kami, keluarga kami, daerah kami, negeri kami, dan umat kami dari gempa, badai krisis, fitnah, bencana, dan dosa yang membinasakan.

Ya Allah, janganlah Engkau goyahkan hati kami setelah Engkau beri petunjuk dan tetapkan hati kami di atas agama-Mu.

Ya Allah, jadikanlah hari terbaik kami sebagai hari pertemuan kami dengan-Mu, jadikanlah amal terbaik kami sebagai pamungkasnya, dan jadikan usia terbaik kami sebagai akhir ajal kami. Ya Allah, limpahkanlah rahmat, ampunan, dan hidayah-Mu kepada kami semuanya. Aamiin.. aamiin ya Rabbal ‘alamin..

رَبَّنَا اتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلاخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ، سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزِّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ وَسَلاَمٌ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ وَالْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ.(*)