Jaddid Hayataka

Oleh : Ahmad Syaikhu
(Founder ASYIKpreneur)

Perubahan dalam pandangan Islam adalah sebuah keharusan yang diakui untuk mencapai sesuatu yang lebih baik.
Islam sangat menginginkan umatnya dinamis, meningkatkan terus kebaikan dari waktu ke waktu.
Tentu saja perubahan yang terjadi di masyarakat akan sangat dipengaruhi oleh perubahan individu. Perhatikanlah firman Allah SWT :
لَهُ مُعَقِّبَاتٌ مِّن بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهِ يَحْفَظُونَهُ مِنْ أَمْرِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنفُسِهِمْ وَإِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِقَوْمٍ سُوءًا فَلَا مَرَدَّ لَهُ وَمَا لَهُم مِّن دُونِهِ مِن وَالٍ
“Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia.” (QS. Ar-Ra’du : 11)

Dari ayat di atas bisa diambil beberapa pelajaran :
- Perubahan bukanlah hak umat Islam saja tetapi hak seluruh umat manusia di dunia. Dalam ayat di atas Allah mengungkapkan dengan kalimat nakiroh “Qoum” sehingga mencakup semua kaum yang ada di muka bumi.

- Perubahan juga terjadi pada kelompok bukan pada individu. Allah mengungkapkan dengan kalimat “maa biqoumin” dan “ma bi anfusihim” yang menunjukkan pada masyarakat atau kaum dengan berbagai unsurnya. Ini menunjukkan pada sekelompok manusia secara kolektif. Perubahan akan terjadi di masyarakat bilamana dilakukan secara bersama-sama bukan atas dasar usaha individual yang tidak terorganisir, tidak terkoordinir apalagi jika usaha individual saling bertentangan. Perubahan adalah tanggung jawab kolektif kendati setiap individu juga harus berusaha untuk berubah.

- Tugas manusia dalam perubahan adalah berusaha untuk berubah. Sedangkan perubahan yang dilakukan oleh Allah adalah menciptakan hasil dari apa yang diusahakan manusia. Allah akan merubah keadaan suatu kaum bila mereka merubah apa yang ada dalam diri mereka sendiri.

Syaikh Muhammad Al-Ghazali, penulis buku “Jaddid Hayatak” (Segarkan hidupmu) mengingatkan “Banyak orang ingin berubah tapi mereka seringkali menunggu momen tertentu atau peristiwa tertentu atau peristiwa yang belum pasti. Misalnya, seseorang akan memperbaharui hidup jika tubuhnya kembali segar bugar atau jika ia meraih jabatan tinggi, dan sebagainya. Kadang-kadang menunggu waktu atau kesempatan khusus. Misalnya, ia akan berubah ketika berulang tahun atau ketika memasuki tahun baru, dan sebagainya.
Ia menunda langkah penting untuk berubah dan memperbaharui hidup karena menganggap bahwa situasi tertentu akan memicu turunnya energi langit. Ia berfikir, kekuatan dan anugerah Tuhan akan datang bersamaan dengan tibanya momen khusus yang dirancangnya itu. Ia yakin, jika momen itu datang ia akan lebih bersemangat, tekun, dan penuh harapan. Jika momen itu tak juga datang, ia akan tetap lemah, malas dan putus harapan. Ingatlah! Semua itu hanya prasangka dan angan-angan. Anda tidak akan mengubah hidup dengan bersandar pada momen tertentu. Ingatlah! Perubahan bersumber dari dalam diri kita”

Al-Qur’an menggambarkan, kapan saat yang tepat untuk melakukan perubahan, ya sekarang juga. Allah berfirman :
أَلَمْ يَأْنِ لِلَّذِينَ آمَنُوا أَن تَخْشَعَ قُلُوبُهُمْ لِذِكْرِ اللَّهِ وَمَا نَزَلَ مِنَ الْحَقِّ وَلَا يَكُونُوا كَالَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِن قَبْلُ فَطَالَ عَلَيْهِمُ الْأَمَدُ فَقَسَتْ قُلُوبُهُمْ وَكَثِيرٌ مِّنْهُمْ فَاسِقُونَ
“Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka), dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan Al-Kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka, lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik.” (QS. Al-Hadid : 16)

Allah menghendaki perubahan dilakukan saat ini juga dan jangan pernah menunda-nunda untuk berbuat baik.

Dalam semua lini kehidupan umat Islam diharapkan semakin dewasa menuju kesempurnaan. Beberapa perubahan utama yang harus dilakukan oleh umat Islam sebagai berikut.

1. Perubahan Menuju Kesempurnaan iman
Keimanan yang ada janganlah dibiarkan begitu saja tetapi harus dijaga, dipupuk dan ditingkatkan. Bila kita perhatikan Rasulullah dan para sahabatnya, peningkatan keimanan itu terus menerus dilakukan, bukan hanya pada tahap awal saat beliau berada di Makkah saja tetapi setelah beliau hijrah pun pengokohan keimanan terimus dilakukan. Perhatianlah firman Allah pada QS. Annisa : 136 :
“Wahai orang-orang yang beriman, tetaplah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan kepada kitab yang Allah turunkan kepada Rasul-Nya serta kitab yang Allah turunkan sebelumnya. Barangsiapa yang kafir kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, dan hari kemudian, maka sesungguhnya orang itu telah sesat sejauh-jauhnya.”
Ayat ini tergolong ayat Madaniyyah (diturunkan setelah Rasulullah) hijrah ke Madinah. Perintah ini ditujukan kepada orang yang beriman untuk tetap berada dalam keimanan.
Rasulullah juga mengingatkan fenomena cepatnya perubahan keimanan jika tidak dijaga, sebagaimana sabdanya “FAYUSBIHU MUMINAN WA YUMSI KAFIRAN WA YUMSI MUMINAN FA YUSBIHU KAFIRAN” Ada orang yang pagi hari masih beriman sore sudah kafir atau sebaliknya sore masih beriman paginya sudah kafir.
Dinamika iman harus terus kita tingkatkan sampai akhir hayat kita, jangan pernah stagnan.

2. Perubahan dalam peningkatan ilmu dan pemahaman
Islam sangat menginginkan umatnya memiliki pengetahuan yang mendalam dan memahami ilmu untuk diterapkan dalam kehidupan.
Untuk itulah, Islam mendorong umatnya untuk menuntut ilmu sejak dari buaian hingga ke liang lahat.
Semakin luas ilmu seseorang, semakin ia mudah bersikap tasamuh (toleran) terhadap perbedaan.

3. Perubahan dalam Peningkatan amal shalih
Peningkatan amal shalih juga harus kita tingkatkan dari waktu ke waktu sehingga akan semakin sempurna dan semakin totalitas amalan kita.
Jika sebelumnya kita hanya melaksanakan yang wajib-wajib saja maka harus ditambah dengan melaksanakan ibadah sunnah. Jika sebelumnya kita hanya melaksanakan satu ibadah sunnah maka ditingkatkan dengan menambah ibadah sunnah. Jika ini dilakukan secara kontinyu maka kita akan dapat menuju kesempurnaan.
Rasulullah SAW mengingatkan “Barangsiapa yang hari ini lebih baik dari hari kemarin maka dia beruntung. Barangsiapa hari ini sama dengan hari kemarin maka dia merugi dan barangsiapa hari ini lebih buruk dari hari kemarin maka dia celaka”

Semoga Allah senantiasa memberikan kekuatan kepada kita semua untuk memiliki semangat perubahan menuju yang lebih baik.(*)