Berkenalan dengan Gemala Hatta Jelang 40 Tahun Hari Wafat Bung Hatta

Catatan Dasman Djamaluddin

Sejak kenal melalui internet dengan putri kedua Bung Hatta, yaitu Dr. Dra. Gemala Rabi'ah Hatta, MRA., M.Kes,  saya sering berkomunikasi. Semalam, Rabu, 4 Maret 2020, ia mengirimkan foto sedang melakukan teleconference, wawancara jarak jauh.

Buat saya, sudah tentu mengingatkan jelang 40 tahun wafatnya sang ayah, Bung Hatta pada hari Sabtu, 14 Maret 2020.

Bung Hatta wafat pada tanggal 14 Maret 1980 dan dimakamkan di Pemakaman Umum Tanah Kusir, Jakarta. Kenapa Bung Hatta tidak dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata ?

LaporanTribunJakarta.com menungkap bahwa Mohammad Hatta atau Bung Hatta menolak di makamkan di Taman Makam Pahlawan (TMP).

Padahal, dengan jasanya yang amat besar bagi bangsa ini, tentu sudah sangat pantas bila pria kelahiran Bukittinggi, Sumatera Barat‎ itu dimakamkan di TMP.

Namun rupanya, bukan tanpa sebab ‎Bung Hatta menolak dimakamkan di TMP.

Penjaga Makam Bung Hatta, Syahrul, seperti dikutip dari TribunJakarta. com menjelaskan alasan Bung Hatta minta dimakamkan di TPU ketimbang di TMP.

Dijelaskannya, alasan pertama karena Bung Hatta ingin dikebumikan di tempat Indonesia merdeka, yakni di Jakarta.

Syahrul melanjutkan, alasan kedua karena Bung Hatta ingin dimakamkan di tanah rakyat.

"Karena Bung Hatta ingin terus dekat dengan rakyat," tuturnya yang telah menjaga makam Bung Hatta sejak 1987 itu.

Bahkan, Bung Hatta sendiri pernah berujar agar dirinya minta dimakamkan di TPU Tanah Kusir.

"Pada 10 Februari 1975 Bung Hatta pernah mengamanatkan minta dimakamkan di Jakarta, tepatnya di TPU Tanah Kusir," ujar Syahrul

Hal lainnya karena Presiden Indonesia Soeharto mendukung bila Bung Hatta ‎dimakamkan di Jakarta.

"Keinginan Pak Harto agar Bung Hatta sebagai bapak bangsa dimakamkan sendiri (di Tanah Kusir) agar terus dikenang oleh seluruh bangsa," jelasnya.

Syahrul mengatakan Soeharto sangat memperhatikan tempat peristirahatan terakhir Bapak Koperasi itu.

Hal itu terlihat dari keputusan Soeharto yang membangun dan meresmikan area kompleks makam Bung Hatta seluas 300 meter pada 12 Agustus 1982.

Syahrul memaparkan bahwa alasan Soeharto meresmikan kompleks makam Bung Hatta pada tanggal itu bukan tanpa alasan.

"Karena Indonesia merdeka di Jakarta maka Bung Hatta minta dimakamkan di Jakarta," ujar Syahrul di area makam Bung Hatta, TPU Tanah Kusir, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan.

Drs. Bung Hatta dan Ir. Soekarno disebut Dwitunggal Indonesia. Bung Hatta lahir pada tanggal 12 Agustus 1902 di Bukittinggi, Sumatera Barat.

Sebagai mahasiswa di Belanda, Bung Hatta sering mengadakan pertemuan dengan para pemuda Indonesia yang belajar di sana. Mereka bergabung dalam "Perhimpunan Mahasiswa."

Pada tahun 1932, Bung Hatta kembali ke Indonesia dan bergabung dengan PNI-Baru yang dipimpin Mr. Sartono. Kemudian Bung Hatta ditangkap penjajah Belanda dan diasingkan ke Boven Digul, Papua. Kemudian dipindahkan dipindahkan ke Banda Neira, Pulau Banda.

Ketika Ir. Soekarno menjabat presiden Bung Hatta menjadi wakil presiden. Bung Hatta adalah pelopor usaha bersama di bidang koperasi. Karena jasanya itu, ia diberi julukan "Bapak Koperasi Indonesia."

Ketika saya menulis buku: "Butir-Butir Padi B.M. Diah (Tokoh Sejarah yang Menghayati Zaman) diungkapkan kepada Dasman Djamaluddin (Jakarta: Pustaka Merdeka, 1992), banyak sekali bercerita tentang Bung Hatta, seperti di halaman 57 :

" Bung Hatta yang berada di tempat naskah Proklamasi dibuat, telah memesan makanan untuk sahur. Hari itu kaum muslimin sedang berada dalam waktu puasa yang telah berjalan beberapa hari. Saya keluar ke pekarangan rumah besar Laksamana Maeda yang memberikan kepada kami, pejuang kemerdekaan bangsa dan negara Indonesia, sebuah ruangan untuk mempersiapkan satu Proklamasi Kemerdekaan," ujar B.M. Diah.(*).