Azyumardi Azra dan Perkembangan di Negara Islam

Oleh Dasman Djamaluddin

Prof. Dr. Azyumardi Azra, MA,CBE yang lahir di Lubuk Alung, Padang Pariaman, Sumatera Barat, baru saja memperoleh ucapan selamat hari ulang tahunnya, termasuk dari saya.

Sebagai akademisi  Muslim asal Indonesia, Guru Besar ini sudah tentu banyak menulis tentang muslim di Indonesia. Ia juga dikenal sebagai cendekiawan muslim.  Azyumardi terpilih sebagai Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta pada 1998 dan mengakhirinya pada 2006. Pada tahun 2010, dia memperoleh titel Commander of the Order of British Empire, sebuah gelar kehormatan dari Kerajaan Inggris. 

Berbicara tentang Islam di Indonesia, sudah tentu tidak bisa melepaskan diri dari berkembang dan tumbuhnya Islam di Negara Islam. Bahkan muncul istilah Negara Islam di Irak dan Suriah (ISIS).

Lihatlah Islam di luar negeri, tidak terlepas dari pengaruh Amerika Serikat (AS) dan Rusia bersama sekutunya masing-masing. Karikatur di atas sepertinya sudah lengkap mengambarkan perkembangan ISIS di Negara Arab.

Foto menarik yang kita saksikan tahun 2019 adalah anjing si pemburu Abu Bakar al-Baghdadi yang diberitakan tewas dengan meledakan dirinya dengan bom yang berada ditubuhnya sendiri. Anjing ini oleh Presiden AS Donald Trump di twitter, Kamis, 31 Oktober 2019 diberikan medali penghargaan. Anjing itu diberi penghargaan karena berhasil mengendus persembunyian Abu Bakar al-Baghdadi.

Berkali-kali Abu Bakar al-Baghdadi dinyatakan tewas, tetapi berita itu merupakan berita bohong selama ini. Tetapi kali ini, Presiden AS Donald Trump sendiri menyatakan bahwa Abu Bakar al-Baghdadi tewas.

Pertanyaannya, apakah hal ini akan mendongkrak nama Presiden AS itu dalam Pilpres 2020, atau ia berhenti di tengah jalan ?

Pemimpin Negara Islam di Irak dan Suriah (ISIS) Abu Bakar al-Baghdadi itu tewas dibunuh oleh pasukan AS tengah malam pada hari Sabtu, 26 Oktober 2019. 

Tewasnya al-Baghdadi, orang nomor satu di ISIS, belum tentu mengakhiri organisasi teror tersebut. Trump pun tak langsung naik popularitasnya. 

Al-Baghdadi tewas dalam serangan pasukan AS di Idlib, Suriah. Baghdadi tewas bersama tiga anaknya yang masih kecil.

Sebelum tewas, Baghdadi sempat berlari ke sebuah terowongan buntu. Anjing-anjing tentara AS mengejar Baghdadi, sebelum akhirnya ia meledakkan diri bersama tiga anaknya di dalam terowongan tersebut.

Sesudahnya kelompok ISIS sudah mengumumkan bahwa yang akan menggantikan Abu Bakar al-Baghdadi adalah Abdullah Qardash, salah seorang perwira di masa Presiden Irak Saddam Hussein. 

Qardash juga dikenal sebagai Haji Abdullah al-Afari, yang lahir di Tal Afar, sebuah kota di Irak yang penduduknya mayoritas beragama Islam Sunni sebelum ia bergabung di dalam pasukan Irak di masa pemerintahan Presiden Irak Saddam Hussein.

Tal Afar adalah sebuah kota dan distrik di Kegubernuran Nineveh di Irak Barat Laut, 63 km barat Mosul, 52 km timur Sinjar dan 200 km utara barat Kirkuk. 

Teringat tentang Saddam Hussein, saya mencatat pernyataan Menteri Luar Negeri (Menlu) Indonesia Ali Alatas pada hari Senin, 25 Februari 1991, saat itu AS dan sekutunya baru saja memasuki hari ketiga, bahwa AS dan sekutunya itu jangan menginvasi dan menggulingkan pemerintahan Irak yang sah, pemerintahan Presiden Irak Saddam Hussein.

"Bukan kehancuran Irak yang dikehendaki...Penghancuran pemerintah Irak (Saddam Hussein) tidak termasuk dalam Resolusi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB)," ujar Ali Alatas waktu itu.

Obama yang Bentuk ISIS

Pada masa kampanye Calon Presiden AS di tahun 2016, para, pengamat menilai bahwa Trump sering membocorkan rahasia negara seperti menegaskan Presiden AS sekarang ini Barack Obama adalah orang yang bertanggung-jawab membentuk ISIS. "Mereka menghormati Presiden Obama. Dia pendiri ISIS," ujar Donald Trump dalam kampanye di Florida pada hari Rabu, 10 Agustus 2016.

Pernyataan Trump sudah tentu membuat dunia kaget. Bukankah selama ini hal itu dirahasiakan? Hanya sebelumnya diketahui oleh para intelijen AS dan petinggi negara tersebut ? Sebelum Trump mengucapkan itu, karikatur di atas dari media luar negeri, mengarah bahwa AS berdiri di belakang ISIS. ISIS dan CIA ketakutan melihat beruang merah (Rusia) masuk ke Suriah.

Sejauh ini, pasukan AS berhasil menghancurkan Irak dan menangkap Presiden Irak, Saddam Hussein opada 13 Desember 2003, delapan bulan setelah invasi ke Irak di bawah bendera Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Waktu itu, Rusia ikut setuju meski persetujuan itu dinyatakan paling akhir. Kenapa Rusia setuju?

Saya berpendapat bahwa Rusia belum siap berhadap-hadapan secara militer dengan AS dan sekutunya. Sebagaimana kita ketahui Rusia mengalami masa krisis ekonomi akibat kebijajan pembaharuan yang diterapkan pemimpin Uni Soviet Mikhail Gorbachev. Ketika saya mengunjungi ibu kota Uni Soviet, Moskwa pada bulan Desember 1992, Gorbachev tidak lagi ada di Kremlin. Ia menghilang dari Kremlin. Akhirnya saya mengerahui, itulah detik-detik kejatuhannya.

Memang benar, setelah melalui proses yang panjang, setelah Boris Yeltsin, Vladimir Putin naik ke puncak kekuasaan, Rusia mulai bangkit. Putin lalu merubah nama Uni Soviet yang tak sesuai lagi karena negara satelitnya ada yang memisahkan diri. Putin mengganti menjadi Rusia.

Ketika ISIS berkembang di Irak, bersamaan dengan masuknya AS demi minyak Irak, masyarakat internasional kaget, mengapa pada 15 Oktober 2006 ketika dideklarasikan negara Islam di Irak, tidak ada perlawanan dan bahkan pasukan Irak disuruh meninggalkan posnya serta menyerahkan begitu saja kepada pasukan negara Islam Irak. Sehingga pada tanggal 9 April 2013, di Irak dideklarasikan sebuah Negara Islam Irak oleh Abu Bakar Al-Baghdadi. Kemudian meluas ke Suriah. Akhirnya dikenal dengan nama ISIS.

Ketika pasukan AS ingin masuk ke Suriah dan ingin menggulingkan Pemerinrahan Bashar al-Assad, kekuatan militer Rusia ikut membantu Bashar. AS kaget. Kekuatan militer Rusia betul-betul pulih. Bahkan meluncurkan tank, pesawat dan senjata mutakhirnya. Terlepas dari cara Rusia menjual produk senjatanya ke Suriah, yang jelas AS tidak bisa lagi bersikap seperti di Irak.

Sekarang AS sudah memiliki lagi kekuatan pengimbang sebagaimana sewaktu Perang Dingin. Rusia sudah bangkit.

Perkembangan di Irak dan Suriah sekarang adalah bahwa AS sekarang ikut menghancurkan ISIS. Bagaimba pun ISIS adalah korban politik AS. Awalnya dibentuk dan kemudian dihancurkan. Di dalam politik bisa saja terjadi. Kemarin menjadi teman dan sekarang adalah musuh.Yang utama adalah kepentingan.(*).