Hari Wafat Bung Hatta 40 Tahun dan Kesan B.M. Diah terhadap Bung Hatta

Oleh Dasman Djamaluddin

Sabtu 14 Maret 2020, bangsa Indonesia memperingati 40 tahun wafatnya sang Proklamator Bung Hatta.

Bung Hatta meninggal pada 14 Maret 1980,Rumah Sakit Dr.Cipto Mangunkusumo, Jakarta. Ia lahir pada 12 Agustus 1902,di Bukittinggi, Sumatera Barat.

Dr. Drs. H. Mohammad Hatta adalah negarawan dan ekonom Indonesia yang menjabat sebagai Wakil Presiden Indonesia pertama. Ia bersama Soekarno memainkan peranan sentral dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia dari penjajahan Belanda sekaligus memproklamirkannya pada 17 Agustus 1945.

Hari ini, Persatuan Keluarga Putra Putri Perintis Kemerdekaan Indonesia (PKP3KI) DPD Jakarta, mengadakan serangkaian acara haul 40 tahun wafatnya Bung Hatta sang Proklamator.

Sesuai rencana, Jum'at - Minggu, 13 - 15 Maret 2020 akan diselenggarakan di pelataran makam Bung Hatta, Tanah Kusir.

Di samping itu, panitia mengajak mendukung produk UKM Jakarta dgn belanja di area bazar,
belajar membuat kerajinan tas dari kantong kresek oleh Ibu Shintia dari "Merajut Indonesia."

Juga diselenggarakan lomba masak Ibu - Ibu PKK Kebayoran Lama Utara menggunakan kompor listrik bersama PLN. Acara dimulai dari pukul 09.00 - 16.00 WIB, 13 Maret 2020.

Soal ketauladan Sang Proklamator, sudah tentu berziarah dan berdoa bersama Gubernur DKI dan Keluarga Besar Bung Hatta. Dilanjutkan dengan bincang-bincang ketauladanan Bung Hatta bersama para tokoh lintas generasi dan diskusi "Sisi Lain Sosok Bung Hatta, " pada hari Sabtu, 14 Maret 2020, pukul 09.00 - 16.00 WIB, lokasi: pelataran makam Bung Hatta di Tanah Kusir.

Malam harinya, pemutaran film Bung Hatta Nobar bersama masyarakat Jakarta yang cinta ketauladanan Sang Proklamator pada pukul 19.00 - 21.00 WIB.

Tidak kalah pentingnya, belajar membatik bersama sahabat Budaya Indonesia. Selain itu, bisa lihat penampilan Silat Merpati Putih binaan PKP3KI DPD Jakarta.

Buat Ibu - Ibu dan remaja putri disiapkan juga guru merangkai buah oleh Ibu Yayah dari Komunitas Kuliner dan Budaya. Donor Darah, sudah disiapkan PMI DKI Jakarta di Area, tanggal 15 Maret 2020, pukul 09.00 - 16.00 WIB di pelataran makam Sang Proklamator Bung Hatta.

Kesan B.M. Diah

Burhanudin Mohamad Diah atau namanya lebih dikenal dengan B.M. Diah adalah tokoh pers Indonesia.
Ketika bekerja di Radio Hosokyoku itulah Burhanuddin bertemu dengan Herawati, seorang penyiar lulusan jurnalistik dan sosiologi di Amerika Serikat. Mereka berpacaran, dan tak lama kemudian, pada 18 Agustus 1942 mereka menikah. Pesta pernikahan mereka ini dihadiri pula oleh Bung Karno dan Bung Hatta.

Pada akhir September 1945, setelah diumumkannya Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia, Diah bersama sejumlah rekannya seperti Joesoef Isak dan Rosihan Anwar, mengangkat senjata dan berusaha merebut percetakan Jepang "Djawa Shimbun", yang menerbitkan Harian Asia Raja. Meskipun Jepang telah menyerah kalah, teman-teman Diah ragu-ragu, mengingat Jepang masih memegang senjata. Namun kenyataannya malah sebaliknya. Tentara Jepang yang menjaga percetakan tidak melawan, bahkan menyerah. Percetakan pun jatuh ke tangan Diah dan rekan-rekannya.

Pada 1 Oktober 1945 B.M. Diah mendirikan Harian Merdeka. Diah menjadi pemimpin redaksi, Joesoef Isak menjadi wakilnya, dan Rosihan Anwar menjadi redaktur. Diah memimpin surat kabar ini hingga akhir hayatnya, meskipun belakangan ia lebih banyak menangani PT Masa Merdeka, penerbit Harian "Merdeka".

Ketika baru berdiri Diah menjadi Pemimpin Redaksi, Isak sebagai Wakil, dan Rosihan sebagai Redaktur. Belakangan Joesoef Isak, seorang Soekarnois, terpaksa diberhentikan atas desakan pemerintah Orde Baru. Sementara Rosihan Anwar mendirikan surat kabarnya sendiri, Harian "Pedoman".

Pada April 1945, bersama istrinya Herawati, Diah mendirikan koran berbahasa Inggris, Indonesian Observer. Ia dinilai sebagai penulis editorial yang baik, seorang nasional pro-Soekarno dan menentang militerisme. Ia pernah bertolak pandangan dengan pihak militer setelah Peristiwa 17 Oktober, sehingga ia terpaksa berpindah-pindah tempat untuk menghindari kejaran petugas-petugas militer.

Ketika pemerintah Orde Baru memutuskan untuk mengubah sebutan "Tionghoa" menjadi "Cina" dan "Republik Rakyat Tiongkok" menjadi "Republik Rakyat Cina", Harian "Merdeka"—bersama Harian "Indonesia Raya"—dikenal sebagai satu-satunya pers yang gigih tetap mempertahankan istilah "Tionghoa" dan "Tiongkok".

Saya bersyukur bisa melakukan wawancara langsung dengan B.M. Diah. Wawancara tersebut terekam dalam buku yang saya tulis: " Butir-Butir Padi B.M. Diah, Tokoh Sejarah yang Menghayati Zaman" sebagaimana diungkapkan kepada Dasman Djamaluddin (Jakarta: Pustaka Merdeka, 1992).

Tentang Bung Karno dan Bung Hatta, tokoh pers itu banyak bercerita pengalamannya kepada saya. Di buku itu dari halaman 65 hingga 98. Karena banyaknya lembaran yang ditulis B.M. Diah tentang Soekarno-Hatta, tidak mungkin saya memaparkannya di sini.(*).