Pengakuan Rushdy Hoesein Bertemu Supriyadi

Oleh Dasman Djamaluddin

Saya mengenal Rushdy Hoesein sudah lama. Kami sering bertemu di berbagai seminar. Hari ini, Selasa, 17 Maret 2020, saya menemukan fotonya di Face Book bersama seorang lelaki bernama Soeprijadi.

Menurut pengakuan Rushdy Hoesein, ia sudah tiga kali bertemu orang yang mengaku Soeprijadi atau ejaannya juga sering ditulis Supriyadi. Tetapi saat ini sedikit percaya bahwa itu adalah Supriyadi saat ditemui lelaki berusia 90 tahun tersebut. Tidak disinggung juga hal-hal lain, seperti ia mengaku sebagai pengibar bendera pusaka tanggal 17 Agustus 1945.

Tetapi dalam pikiran saya muncul pertanyaan, setelah membaca tulisan Rushdy Hoesein tersebut, saya teringat tulisan saya di Kompasiana, bahwa saya memang telah berketetapan hati lebih condong mempercayai Abdul Latif Hendraningrat sebagai pengibar bendera pusaka pada tanggal 17 Agustus 1945. Tulisan saya itu :

Buku "Bunga Rampai Perjuangan & Pengorbanan," Jilid II, yang diterbitkan Markas Besar Legiun Veteran RI (LVRI), saya temukan menjelang Hari Kemerdekaan Republik Indonesia, 17 Agustus 2017.

Buku itu merupakan cetakan kedua, diterbitkan pada tahun 2000. Mata saya tertuju ke halaman 12 tentang riwayat hidup Abdul Latief Hendraningrat. Di sini tertulis, ia adalah penanggung jawab keamanan upacara Proklamasi Kemerdekaan RI, pengibar bendera Sang Merah Putih untuk pertama kalinya secara resmi berkibar di bumi Indonesia Merdeka.

Kemudian di halaman 17, Abdul Latief menulis, bahwa ketika upacara pengibaran bendera Sang Saka Merah Putih dimulai, ia melihat baki dengan bendera (yang dijahit dengan tangan oleh Nyonya Fatmawati) disodorkan pada dirinya. Tidak ada orang yang ditugaskan untuk mengerek bendera.

Abdul Latief Hendraningrat mengaku tidak ada persiapan untuk itu. Juga tidak seorang pun berpikir sampai kesitu. Tanpa ragu-ragu, Abdul Latief mengaku, ia menerima bendera itu dan dengan bantuan seorang pemuda bercelana pendek yang kemudian diketahui bernama Suhud, ia mengikatkan pada tali yang kasar dan mengerek atau mengibarkannya di sebuah tiang bambu yang sederhana dan bersamaan itu nyanyian Indonesia Raya oleh para hadirin mengiringi berkibarnya bendera tersebut.

Itulah pengakuan Abdul Latief Hendraningrat di dalam buku yang saya sebutkan di atas. Saya berkesimpulan, pada tanggal 17 Agustus 2017 ini, saya memperoleh informasi istimewa secara langsung dari sumber buku yang saya sebutkan.

Berarti, saya sudah mulai meyakini bahwa Abdul Latief Hendraningrat dan Suhud adalah pengibar bendera Sang Saka Merah Putih pada 17 Agustus 1945. Seandainya saya tidak memperoleh buku ini? Saya akan tetap netral.

Kenapa saya sebelumnya netral? Karena pada hari Sabtu sore, sekitar pukul 17 WIB  tanggal 3 September 2011, saya pernah ke rumah Ilyas Karim yang mengaku juga, ia dan Singgih, adalah pengibar bendera merah putih itu.

Berikutnya seorang teman saya sewaktu di SMA Negeri Blora, Jawa Tengah, Suwito Hadiatmodjo pada tanggal 3 Oktober 2011 mengirimkan buku tulisan Baskara T Wardaya berjudul "Mencari Supriyadi."  Buku ini juga mengatakan Supriyadi yang mengibarkan bendera pusaka tanggal 17 Agustus 1945 itu. 

Pilihan saya kepada Abdul Latief Hendraningrat yang bukunya telah diluncurkan pada 15 Oktober 2011 di Gedung Joang '45, Jalan Menteng Raya 31, Jakarta di mana saya menjadi moderatornya dan JJ Rizal serta Rushdy Hoesein sebagai pembicaranya, waktu itu saya masih netral.

Bagaimanapun suatu ketika saya akan dikritik, tetapi itulah sejarah. Selama bukti otentik lain belum diajukan, maka yang berlaku adalah bukti otentik yang saya temukan bahwa Abdul Latief Hendraningrat dan Suhud adalah pengibar bendera Sang Merah Putih Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945.

Kembali kecerita Ilyas Karim, yang juga riwayatnya ditulis di Majalah Legiun Veteran RI "Veteran," Vol. I. No. 2 . Desember 2010, kita temukan di halaman 52 dan 53.

Seperti saya sebutkan di atas, saya pada hari Sabtu sore sekitar pukul 17 WIB, tanggal 3 September 2011, tergerak hati saya untuk menemui Ilyas Karim yang mengaku salah seorang pengibar bendera Merah Putih pada tanggal 17 Agustus 1945 di rumahnya waktu itu di Jalan Rajawati Barat Kalibata no.7 Jakarta Selatan.

Semua orang sudah tentu tahu, bahwa rumahnya tidak seperti dibayangkan, hanya sebuah rumah sederhana di pinggiran rel kereta api, di mana disitulah tinggal seorang Pejuang 45 berpangkat Letnan Kolonel (Purn). 

Saya menelusuri jalan itu dan menemui Ilyas Karim sedang duduk di beranda rumahnya. Baru pertama kali saya bertatap muka dengan beliau. Usianya waktu itu sudah tidak muda lagi, 84 tahun akunya. Lahir di Batu Sangkar, Sumatera Barat, 31 Desember 1927. Meskipun demikian, tubuhnya masih sehat dan daya ingatnya masih kuat. "Sebegitu pentingkah orang ini?," tanya saya dalam hati. Rupanya Ilyas Karim sedang dilanda hujatan karena mengaku sebagai orang yang berpakaian putih-putih pada waktu mengibarkan bendera Merah Putih pertama kali pada tanggal 17 Agustus 1945.

Bahkan aku Ilyas Karim, ia yang mengibarkan bendera itu bersama chudancho Singgih. Hal ini sudah tentu bertolak belakang dengan pendapat beberapa orang atau sumber yang mengatakan kedua orang itu adalah chudanco Abdul Latief Hendradiningrat dan Soehoed dari Barisan Pelopor. Lha mana yang benar? 

Ketika saya berkunjung itu saya tidak melihat siapa yang benar. Tetapi buat saya, Ilyas Karim adalah sumber pertama yang masih hidup. Di dalam penelitian, kita selalu memakai sumber pertama dan kedua. Biasanya sumber pertama lebih kuat dari pada sumber kedua.

Tetapi kali ini entahlah. Bagaimana pun memang harus melalui proses. Sehingga dalam ilmu penelitian tidak ada istilah meluruskan. Jika istilah ini dipakai maka selesailah proses penelitia itu karena ada pengklaiman pembenaran oleh seseorang.

Di dalam proses penelitian yang terjadi adalah penemuan-penemuan sumber yang baru. Bisa saja yang dikatakan benar hari ini akan digugurkan oleh penemuan baru berikutnya dan berikutnya. Jadi tidak ada istilah pelurusan. 

Ilyas Karim adalah Pejuang 45. Sejak tahun 1936, ia sekeluarga pindah ke Jakarta. Ayahnya pernah menjabat Demang (Camat) Matraman Jakarta, namun di Zaman Jepang, ayahnya ditangkap, dibawa ke Tegal dan dibunuh Jepang di sana.

Sebelum bulan Agustus 1945, Ilyas Karim bergabung dengan Angkatan Pemuda Islam (API) yang bermarkas di Jalan Menteng 31 Jakarta. Masuk TNI-AD dan pensiun dengqn pangkat Letnan Kolonel. Pernah ditugaskan sebagai Pasukan Perdamaian di Lebanon dan Vietnam.

Ilyas Karim sewaktu saya temui itu adalah juga Ketua Umum Yayasan Pejuang Siliwangi-Indonesia (YAPSI) yang bermarkas di Komplek Kodam Jaya Jatiwaringin. Melihat perjuangannya selama ini saya belum menyimpulkan apakah yang dikatakan Ilyas Karim benar atau salah.

Saya hanya melihat dari sisi sumber pertama yang masih hidup. Sejarahlah nanti yang bisa membuktikan siapa pengibar bendera Merah Putih sebenarnya. Pun munculnya Supriyadi, Supriyadi baru, suatu ketika jika datanya lebih akurat, otentik dan dapat benar-benar dipercaya, maka informasi paling akhir bisa mementahkan informasi sebelumnya.(*)