Cerita di Balik Penulisan Dua Buku di Tahun 1992

Oleh Dasman Djamaluddin

Majalah Legiun Veteran RI (LVRI) "Veteran," Vol. I. No. 3. Maret 2011, halaman 56 dan 57 memuat tentang kepergian Letnan Jenderal TNI Infanteri Achmad Tirtosudiro.

Tulisan itu saya buat ketika bekerja membantu majalah tersebut. Di halaman majalah, saya mengucapkan berduka atas meninggalnya Letjen Achmad Tirtosudiro. Beliau meninggal dunia hari Rabu, 9 Maret 2011 di usia 89 tahun dan dimakamkan di Tanah Kusir.

Sudah tentu saya masih ingat ketika ikut menulis buku: "Kenangan 70 Tahun Achmad Tirtosudiro (Jakarta: PT. Intermasa, 1992). "Ikut menulis," berarti buku tersebut dikerjakan bersama Ketua Umum Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam (PB HMI) Periode 1981-1983 dan seorang lagi anggota HMI, yaitu Toto Izul Fatah.

Ketika dalam proses penulisan buku, saya dan penulis lain pernah berjanji dengan Pak Achmad Tirtosudiro pukul 15.00 di Bandung.

Kami pagi sekali telah berangkat dari Jakarta. Karena macet di Jakarta dan Bandung, terlambat sampai di rumah beliau. Kami tiba pukul 15.05, jadi terlambat lima menit. Apa yang terjadi ?

Ajudannya menyampaikan Pak Achmad Tirtosudiro sudah kembali ke kamarnya dan wawancara diatur untuk besok hari. Itulah yang saya alami. Terlamat lima menit dari janji semula, langsung dibatalkan.

Inilah yang patut dicontoh dari Pak Achmad Tirtosudiro. Disiplin waktu. Buku setebal 489 halaman ini memuat tentang perjalanan hidupnya.

Pak Achmad Tirtosudiro lahir di Plered, 9 April 1922 –meninggal 9 Maret 2011 di usia 89 tahun). Ia adalah seorang tokoh Indonesia dalam berbagai bidang dan jabatan, mulai dari karyawan kereta api sampai menjadi jenderal, Duta Besar Indonesia untuk Arab Saudi, Direktur Jenderal dan terakhir sebagai Ketua DPA (Dewan Pertimbangan Agung) periode 1999-2003.

Beliau juga adalah Rektor ke tujuh Universitas Islam Bandung (UNISBA) Periode Tahun 1986-1990 dan periode 1990-1996. Mantan Pj. Ketua Umum ICMI periode 1997-2000, ini juga berperan dalam mengantarkan Bacharuddin Jusuf Habibie menjadi Presiden Republik Indonesia.

Selanjutnya di tahun 1992, saya menulis buku: "Butir-Butir Padi B.M. Diah (Tokoh Sejarah yang Menghayati Zaman (Jakarta: Pustaka Merdeka, 1992).

Cerita tentang Grup Merdeka ini, mengingatkan saya akan kehadiran Pak Harmoko dan Ibu Herawati di Situ Gintung, Ciputat.

Situ Gintung, Ciputat, di hari Minggu, 24 April 2016, udara ketika itu sangat cerah. Sekitar pukul 10 pagi, saya melangkahkan kaki menuju ke tempat wisata tersebut. Kebetulan, ketika akan menuju ke sana berpapasan dengan mantan wartawan Harian "Merdeka" Sangaji 11 Jakarta Pusat, Agus Salim Suhana. Beliau adalah mantan Pemimpin Redaksi Harian "Merdeka" yang ikut dipecat Bapak Burhanudin Muhamad Diah (BM Diah) waktu koran perjuangan tersebut masih eksis mewarnai persuratkabaran di Indonesia, karena koran perjuangan tersebut telah lahir pada 1 Oktober 1945.

Tak terasa sambil berjalan, kami sampai juga di tempat tujuan di saung milik wartawan Merdeka juga, Anang. Memang benar, di sanalah tujuan kami dalam rangka menghadiri Reuni Awak Kelompok Merdeka yang berlangsung hari itu. Kami diberi tahu, Pak Harmoko sudah hadir. Sudah tentu kami kaget, karena mantan Menteri Penerangan RI yang juga pernah menjadi wartawan Merdeka itu telah hadir lebih dulu. Apalagi dibanding usia, sudah tentu lebih muda dari kami, waktu itu, sekitar 77 tahun. Sementara kami yang hadir di sana boleh dibilang ada yang lebih muda dari itu, tetapi tidak muda sekali, karena kami juga sudah berusia lanjut juga.

Kami terpaku dan sangat gembira bisa bersalaman dan berbincang-bincang dengan Pak Harmoko, tokoh pers yang sangat dikenal di masa-masa Orde Presiden Soeharto. Saya bercerita panjang lebar dengan Pak Harmoko yang duduk dengan santainya di kursi roda. Saya mencoba mengingatkan beliau akan peristiwa setelah buku yang saya tulis:”Butir-Butir Padi B.M.Diah, Tokoh Sejarah yang Menghayati Zaman” (Jakarta: Pustaka Merdeka, 1992) selesai diterbitkan. Rupanya Pak Diah yang pernah pula lebih dulu menjadi Menteri Penerangan RI mendahalui anak muridnya Harmoko berpesan kepada saya, bahwa Pak Harmoko ingin menjumpai saya.

“Man,” ujar Pak Diah kepada saya. “Moko (Harmoko) ingin bertemu Anda.” Waktu itu, entah apa sebabnya, saya tidak pernah menemui Pak Harmoko. Barulah, yang untuk pertama kalinya selama ini, saya bertemu Pak Harmoko di acara Reuni Awak Pers Grup Merdeka Jalan Sangaji 11 Jakarta Pusat. Saya ceritakan hal tersebut kepada Pak Harmoko, pada hari Minggu, 24 April 2016 tersebut. Pak Harmoko membalasnya dengan senyuman. Selama percakapan, meski dengan nada pelan, di usia 77 tahun.

Pada waktu itu, daya ingat Pak Harmoko masih tajam. Sangatlah wajar jika di usia itu, ia bicara pelan-pelan di kursi rodanya. Bahkan Pak Harmoko sangat suka lagu-lagu kenangan masa lalu. Dua kali beliau memanggil saya agar dipesankan dua buah lagu kesukaannya. Ia senang dan terhibur saat mendengarkan.

Grup Merdeka, mengapa disebut demikian? Di Jalan AM Sangaji 11 Jakarta Pusat itulah, sejak Harian Merdeka terbit 1 Oktober 1945, surat kabar yang terbit hanya satu setengah bulan setelah bangsa Indonesia menyatakan kemerdekaannya, terus berkembang mengembangkan sayapnya yang akhirnya menjadi sebuah grup, Grup Merdeka. Koran Merdeka dengan kekhasannya: kop warna merah darah, adalah koran pemberani di masanya. Lebih dari itu, koran tersebut memiliki garis politik yang jelas, sehingga lebih lama bertahan.

Setelah Harian "Merdeka" lahir, lahir pula "Minggu Merdeka," koran berbahasa Inggeris pertama di Indonesia, " Indonesian Observer," " Majalah Keluarga" dan " Majalah Berita TOPIK," sehingga membentuk grup bernama Grup Merdeka.

Setelah B.M Diah menikah dengan Ibu Herawati, isteri B.M Diah ini selalu mendampingi suaminya di Grup Merdeka.Tanggal, 3 April 2016 lalu, Ibu Herawati Diah bersyukur kepada Allah SWT, bahwa usianya sudah mencapai 99 tahun.

Tidak ada yang dapat saya katakan, ketika teman-teman yang pernah menjadi anak didik beliau di Jl.AM Sangaji 11 Jakarta, menyaksikan saat-saat kedatangan Ibu Herawati Diah di Gedung Perpustakaan MPR-RI, Kamis, 31 Maret 2016. Detik perdetik kursi roda Ibu Herawati didorong ke tempat acara peringatan 99 tahun beliau. Usia sepertinya tidak menjadi alasan Ibu Herawati tidak hadir. Bahkan senyuman di bibir seorang ibu atau guru bagi kami terus tersungging di kerumunan tamu-tamu undangan, sudah tentu di antara jajaran anak didik beliau di Grup Merdeka, Sangaji 11.

Kami memang sudah tua-tua juga. Saya waktu itu sudah 60 tahun lebih. Ada juga teman-teman yang usianya lebih tua dari saya. Tetapi ada juga yang lebih muda, tetapi tidak berbeda jauh betul. Tetapi ingatan akan Ibu Herawati tidak pernah lupa dan kemudian atas ide kawan-kawan terekamlah kenangan tersebut di dalam sebuah bentuk buku berjudul: “99 Tahun Herawati Diah, Pejuang Pers Indonesia.”

Pesannya kepada wartawan agar berbahasa santun yang dibacakan anak kandungnya Nurman Diah di acara tersebut sebenarnya bukanlah hal asing buat diri Ibu Herawati, karena ia telah memulainya dari dirinya sendiri. Pun jika sedang marah, tidak nampak kalimat-kalimat yang dikeluarkannya bernada keras.

Senyuman Ibu Herawati tersebut terulang kembali ketika sebuah mobil memasuki Situ Gintung, Ciputat, Minggu, 24 April 2016. Kami bersama-sama membantu mengangkat dan mendorong kursi roda beliau. Kembali senyum tersebut tersungging di bibirnya yang ditujukan kepada kami, ketika usianya sudah 99 tahun. Terimakasih Ibu.

Sementara, Pak Diah meninggal dunia pada 10 Juni 1996, saya waktu itu tidak hadir di rumah Ibu Herawati. Saya hanya menulis sebuah catatan yang dimuat Harian "Merdeka" pada 11 Juni 1996, berjudul: “Selamat Jalan Bapak B.M Diah.”(*).