Mengingat Sebuah Kenangan Ketika Sekarang Pak Sapardi Djoko Damono Berusia 80 Tahun


Oleh Dasman Djamaluddin

Prof. Dr. Sapardi Djoko Damono hari ini, Jumat, 20 Maret 2020, genap berusia 80 tahun. Ia adalah seorang pujangga berkebangsaan Indonesia terkemuka. Ia kerap dipanggil dengan singkatan namanya. Lahir 80 tahun yang lalu di Surakarta, tanggal 20 Maret 1940. Orang tua pujangga besar Universitas
Gajah Mada ini adalah, ayah (
Sadyoko) dan ibu bernama Sapariah.

Sebuah kenangan dari saya dan juga Dr.dr. Rushdy Hosein adalah ketika menjadi moderator di Museum Kebangkitan Nasional pada 8 Juni 2011 bertema: tema: ” Pemahaman Nilai-Nilai Kebangkitan Nasional untuk Memperkuat Karakter dan Jati Diri Bangsa. "

Selain Prof. Dr. Sapardi Djoko Damano, seminar dua sesi ini menghadirkan pula pembicara Dr.Anhar Gonggong, Tarman Azzam, Prof.Dr.Mestika Zed, Dr.Restu Gunawan dan Prof.Dr.Suhartono.

Latar belakang diselenggarakannya seminar, karena akhir-akhir ini bangsa Indonesia dilanda krisis moral. Berbagai permasalahan silih berganti yang seakan-akan tidak pernah berakhir. Mulai dari korupsi, perkelahian antar pelajar, dunia pendidikan yang liberalisme yang seakan-akan tidak memiliki hati nurani lagi.

Penekanan karakter memang tidak dapat dibangun tanpa mempelajari sejarah. Bagaimana bisa seseorang berkarakter seperti Soekarno atau Hatta tanpa membaca sejarah kehidupannya?

Bahkan orang-orang besar lahir karena dia membaca banyak sekali liku-liku kehidupan para tokoh-tokoh dunia. Intinya banyak membaca dan banyak menulis. Oleh karena itu perlu kiranya kita kembali mengingatkan akan rumusan hasil Seminar Nasional Sejarah di Museum Kebangkitan Nasional tersebut.

Rumusan yang disusun pada tanggal 11 - 12 Juni 2011 itu berbunyi sebagai berikut:

Pertama , bagaimana pun juga sejarah perjuangan bangsa Indonesia terbagi dalam tiga pilar peristiwa yang diawali dari tahun 1908, 1928 dan 1945. Kelahiran Boedi Oetomo dijadikan sebagai tonggak awal kebangkitan bangsa, karena memiliki konstibusi yang besar dalam mempengaruhi perjalanan sejarah bangsa ini.

Kedua , tiga pilar peristiwa di atas menunjukkan bahwa bangsa Indonesia memiliki keinginan untuk terlepas dari belenggu penjajah. Proses sejarah dalam masyarakat ikut mempengaruhi terbentuknya karakter dan jati diri bangsa Indonesia, sehingga diperlukan usaha yang serius untuk mengenalkan sejarah bangsa dan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya.

Ketiga , pembelajaran sejarah yang baik diharapkan bisa menghilangkan dendam sejarah, yang bisa mempertebal semangat nasionalisme.

Keempat , karakter dan jati diri bangsa bisa menjembatani kemajemukan yang ada, sehingga peradaban yang sudah ada bisa terpelihara sehingga akan menjadi bangsa yang kuat dan unggul dari bangsa lain.

Kelima , bangsa Indonesia harus merespon dan menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman, meskipun demikian harus selektif dalam menerima dan menyaring budaya yang berasal dari luar.

Keenam , bangsa yang tidak memiliki karakter dan jati diri akan kalah dalam kompetisi, hanya bisa melihat keberhasilan bangsa lain.

Ketujuh , karakter, dan jati diri bangsa bisa dibentuk juga oleh pendidikan yang berkualitas, yang sejak dini mengajarkan sejarah sebagai suatu peristiwa yang bisa menjadi inspirasi dalam hidup berbangsa dan bernegara.

Kedelapan , jam pembelajaran sejarah perlu ditambah sehingga diharapkan bisa menghasilkan manusia yang tercerahkan, memiliki integritas dan berkarakter sesuai dengan kepribadian bangsa.

Kesembilan , nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila sebagai hasil rumusan pemikiran para pendiri bangsa, perlu diajarkan pada generasi muda sehingga bisa diimplementasikan dalam kehidupan bermasyarakat.

Kesepuluh , Pancasila tidak hanya sebagai simbol, tetapi bisa menjadi alternatif untuk menyelesaikan berbagai persoalan bangsa seperti disintegrasi bangsa dan konflik SARA.

Kesebelas , pentingnya kedudukan Pancasila sebagai ideologi negara yang bisa menjadi alat pemersatu bangsa, mengharuskan kita untuk berjuang melestarikan, mengamalkan, dan mengajarkannya kepada generasi muda sehingga kelangsungan hidup bersama dalam satu wadah Indonesia bisa terjamin.

Keduabelas , bangunan negara kesatuan Indonesia yang tersusun dari berbagai keragaman perlu diikat oleh kesepakatan dan komitmen bersama, sehingga keinginan untuk menciptakan kesejahteraan bersama lekas terwujud.

Ketigabelas , sikap saling menghormati dan menghargai antar sesama anak bangsa harus terus dipupuk tanpa harus menghilangkan karakter dan jati diri dari masing-masing suku bangsa yang ada di Indonesia.

Keempatbelas , Pancasila sebagai sumber inspirasi dan aspirasi segenap rakyat Indonesia, sudah seharusnya dijamin keberadaannya dalam kehidupan berbangsa dan bernegara sebagai cerminan dari karakter dan jati diri bangsa Indonesia.

Itulah rumusan seminar yang diselenggarakan di Museum Kebangkitan Nasional bersama Prof. Dr. Sapardi Djoko Damono dan lain-lain pada 8 Juni 2011. Selamat Hari Lahir ke-80 Pak.(*).