Peringatan Isra Mi'raj dalam Suasana Keprihatinan Dunia Akibat Virus Corona

Oleh Dasman Djamaluddin

Tanggal 22 Maret 2020, kita dingatkan kembali ke peristiwa Isra Mi'raj. Isra berasal dari Bahasa Arab berarti perjalanan, yakni perjalanan spiritual Nabi Muhammad SAW dari Masjid Haram ke Masjid Aqsha.

Sedangkan Mi’raj berarti pendakian spiritual menuju Sidrah al-Muntaha, tempat atau maqam paling tinggi. Isra Mi'raj kemudian lebih popular sebagai perjalanan spiritual Nabi Muhammad SAW dari Masjid Haram ke Masjid Aqsha dan seterusnya ke Sidrah al-Muntaha melewati langit pertama sampai langit ke tujuh. 

Tahun 2020 ini, kita memperingati Isra Mi'raj dalam suasana kesedihan dan keprihatinan, karena penduduk dunia diminta untuk selalu di rumah dengan semakin dahsyatnya penyebaran virus corona.

Di Indonesia, Kementerian Agama membatalkan rencana kegiatan peringatan Isra Mi'raj 1441 Hijriah. Kegiatan yang biasa digelar di Istana Negara ini awalnya akan dilangsungkan di Aula HM Rasjidi Kemenag Jl MH Thamrin pada 23 Maret 2020.

Prosesi peringatan juga rencananya digelar sederhana, hanya menghadirkan sekitar 20 orang, namun disiarkan langsung oleh RRI, TVRI, TV MUI, dan life streaming. 

"Mempertimbangkan kondisi terakhir di Jakarta dan dalam rangka ikut mencegah potensi penyebaran virus corona atau Covid-19, kami memutuskan untuk membatalkan acara peringatan ini," terang Dirjen Bimas Islam Kamaruddin Amin dalam keterangnya di Jakarta, Jumat, 20 Maret 2020. 

Dalam rangka memperingari Isra Mi'raj tahun 2020 ini, saya masih menyimpan foto yang dikirim mantan wartawan harian "Merdeka," pimpinan almarhum  B.M Diah, yaitu Neta S Pane. Foto ini dari Jerusalem ketika ia waktu itu diberitakan sedang berkunjung ke Jerusalem.

Foto ini dikirim setahun yang lalu.  Ia mengirimkan foto kompleks Al-Haram Asy-Syarif, di mana di dalamnya terdapat "Dome of The Rock," yang berarti Kubah Batu.

Bangunan Kubah Batu, merupakan satu di antara bangunan yang terletak di sebuah kawasan seluas 14,4 hektar. Di sana ada beberapa bangunan lagi, termasuk masjid Al-Aqsa berdiri.

Apa yang dapat dilihat di bangunan Kubah Batu berbentuk delapan persegi itu? Neta mengabadikan sebuah foto tapak mi'rajnya Nabi Muhammad SAW dari masjid Al-Aqsa ke Sidratul Muntaha (langit ke-tujuh) dan dari Allah SWT lalu  menerima amanah untuk melaksanakan shalat. 

Pertama, 50 rakaat sehari semalam. Kemudian ketika hendak turun bertemu Nabi Musa dan menyarankan agar kembali bertemu Allah SWT untuk kembali. Minta pengurangan rakaat, karena menurut Nabi Musa as, ummat Nabi Muhammad SAW tidak akan kuat. Nabi Muhammad kembali lagi menghadap Allah, sehingga raka'atnya berkurang menjadi lima kali sehari semalam.

Tidak dijelaskan oleh Neta, apakah perjalanannya ke Jerusalem lancar-lancar saja setelah Jerusalem berada di bawah kelompok Yahudi usai kekalahan negara Arab pada 7 Juni 1967 dalam perang yang hanya berlangsung enam hari. Apalagi baru-baru ini, Amerika Serikat menyatakan bahwa Jerusalem adalah ibu kota Israel.

Penduduk Yahudi telah merdeka tahun 1948. Sebelumnya, negara pemenang Perang Dunia I, khususnya Inggris menandatangani sebuah perjanjian dengan kelompok Yahudi. Penduduk Yahudi ikut membantu Inggeris dengan dana yang besar, agar Jerman bisa dikalahkan. Jika Jerman kalah, apa yang diminta penduduk Yahudi akan dipenuhi Inggris. Ternyata Jerman kalah dalam perang.

Penduduk Yahudi menganggap tanah airnya ada di Jerusalem. Hal ini kemudian dinyatakan Presiden Amerika Serikat sekarang ini Donald Trump bahwa Jerusalem adalah ibukota Israel.

Tanah Palestina itu, awalnya Inggris yang memberikan kepada penduduk Yahudi. Anehnya, sebenarnya kalau dibagi, maka rakyat Palestina yang memperoleh bahagian besar. Ini tidak. Malah, penduduk Yahudi yang memiliki wilayah lebih besar dan mendeklarikan kemerdekaannya tahun 1948 sebagai negara Israel.

Sebaliknya, sekarang nasib bangsa Palestina terkatung-katung. Wilayahnya makin lama makin kecil. Lihatlah Jalur Gaza dan Tepi Barat. Dalam hitungan di atas kertas, bangsa Palestina (Islam dan Kristen) yang tepat menjadi bangsa merdeka. Awalnya wilayah itu seluruhnya milik bangsa Palestina, kenyataannya bangsa ini yang kemudian menjadi bangsa pengungsi.

Penduduk Yahudi menganggap memang di Jerusalem itu terdapat "Dinding Ratapan," untuk penduduk Yahudi. Terkejutnya bangsa-bangsa di dunia, keinginan Israel untuk mendirikan kembali "Kuil Sulaiman," yaitu tempat peribadatan suci umat Yahudi yang dibangun Nabi Daud as pada tahun 1000 Sebelum Masehi. Untuk membangunnya, maka Israel harus meruntuhkan masjid Al-Aqsa. Apakah keinginan Israel ini bisa terwujud? Sudah tentu, tidak.

Sekarang wilayah Palestina itu diambil alih pelan-pelan oleh Israel. Strateginya dengan memperluas berdirinya pemukiman baru penduduk Israel di Jalur Gaza dan Tepi Barat. Impian rakyat Palestina untuk merdeka semakin jauh dari harapan. Tidak bisa merdeka secara "de facto" dan "de jure." Bahkan  yang kita saksikan, wilayah Palestina semakin lama semakin kecil.

Apalagi kalau  kita saksikan, pada hari Kamis tanggal  21 Agustus 1969, pukul  9.30 waktu setempat, Radio Israel secara resmi mengumumkan suatu peristiwa yang sangat menyayat hati umat Islam, bahwa Masjid Aqsha telah terbakar. Nyala api kebakaran  itu sendiri, katanya  terjadi mulai  kira-kira  pukul 7.15, kurang lebih dua jam sebelum radio itu menyiarkannya. Ummat Islam  seluruh dunia, termasuk Indonesia marah dan mengecam siapa yang  membakarnya. Karena masjid itu terletak di Jerusalem, wilayah yang dikuasai Israel, ummat Islam sudah  tentu marah  kepada Israel.  Oleh karena itulah, negara-negara Islam  bersatu  membentuk OKI , Organisasi Konferensi Islam.

Masjid Aq-sha ini sangat penting bagi umat Islam di seluruh dunia. Masjid ini merupakan tempat Nabi Muhammad SAW mengakhiri  Isra' dan mengawali Mi'rajnya . Tempat ini namanya tercatat abadi  dalam  kitab suci  Al-Qur'an.

Saya  kembali merenung, bahwa Allah SWT berkehendak akan sesuatu. Karena bukankah kita percaya, tanpa  izin Allah SWT, semua peristiwa yang  saya katakan dari awal, tidak akan terjadi. Kesabaranlah yang kita butuhkan sekarang.  Percayalah Allah SWT  lebih mengetahui dan memiliki ilmu yang tidak bisa kita capai, tanpa izinNya. Segala sesuatu terjadi  atas  izinNya. Maha Besar Allah dengan apa-apa yang dimilikiNya.(*).