Menteri Penerangan RI, B.M. Diah, Sosok yang Berdiri di Dua Pemerintahan

Oleh Dasman Djamaluddin

Pada tanggal 20 Februari 1967 Presiden Soekarno memberikan Pengumuman, yang isinya, antara lain:

Kami, Presiden Republik Indonesia/ Mandataris MPRS /Panglima Tertinggi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia.

Setelah menyadari bahwa konflik politik yang terjadi dewasa ini perlu segera diakhiri demi keselamatan Rakyat, Bangsa, dan Negara, maka dengan ini mengumumkan:

Pertama: Kami, Presiden Republik Indonesia/Mandataris MPRS/Panglima Tertinggi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia, terhitung mulai hari ini menyerahkan kekuasaan pemerintah kepada Pengemban Ketetapan MPRS NoIX/MPRS/1966, dengan tidak mengurangi maksud dan jiwa Undang-undang Dasar 1945.

Kedua: Pengemban Ketetapan MPRS No IX/MPRS/1966 melaporkan pelaksanaan penyerahan tersebut kepada Presiden, setiap waktu dirasa perlu.

Ketiga: Menyerukan kepada seluruh rakyat Indonesia, para pemimpin masyarakat, segenap aparatur pemerintahan dan seluruh Angkatan Bersenjata Republik Indonesia untuk terus meningkatkan persatuan, menjaga dan menegakkan revolusi, dan membantu sepenuhnya pelaksanaan tugas Pengemban Ketetapan MPRS No  IX/MPRS/1966 seperti tersebut di atas.

Keempat: Menyampaikan dengan penuh rasa tanggung jawab pengumuman ini kepada Rakyat dan MPRS. Semoga Tuhan Yang Maha Esa melindungi Rakyat Indonesia dalam melaksanakan cita-citanya mewujudkan Masyarakat Adil dan Makmur berdasarkan Pancasila.”

Pengumuman ini ditandatangani pada 20 Februari 1967 oleh Presiden Republik Indonesia/Mandataris MPRS/Panglima Tertinggi ABRI Soekarno.

Pada tanggal 23 Februari 1967, Menteri Penerangan RI Burhanudin Mohamad (B.M) Diah kepada para wartawan mengumumkan pernyataan Presiden RI Soekarno tersebut. Pada waktu ini, B.M. Diah adalah Menteri Penerangan RI di masa peralihan pimpinan dari Presiden Soekarno kepada Letnan Jenderal Soeharto. Ia menjadi Menteri Penerangan dalam Kabinet Ampera I, masa kerja 25 Juli 1966-17 Oktober 1967. Kemudian diteruskan menjadi Menteri Penerangan RI dalam Kabinet Ampera II, masa kerja 17 Oktober 1967 - 6 Juni 1968.

Kabinet Ampera I adalah Kabinet yang diumumkan pada 25 Juli 1966 dan bertugas mulai tanggal 28 Juli 1966 sampai dengan 14 Oktober 1967. Kabinet ini diumumkan langsung oleh Letjen Soeharto sebagai Ketua Presidium Kabinet atas persetujuan Presiden Soekarno. Berarti berdasarkan kesepakatan Presiden Soekarno dan Letjen Soeharto.

Kabinet Ampera II adalah Kabinet yang diumumkan pada 11 Oktober 1967 dan bertugas mulai tanggal 14 Oktober 1967 sampai dengan 6 Juni 1968. Kabinet ini diumumkan langsung oleh Pejabat Presiden RI, Jenderal TNI Soeharto, karena Presiden Soekarno telah mengundurkan diri.

Pada 27 Maret 1968, Jenderal Soeharto resmi dilantik sebagai Presiden RI kedua. Sebelumnya Jenderal Soeharto ditetapkan sebagai pejabat presiden pada 12 Maret 1967 setelah pertanggungjawabanPresiden Soekarno (Nawaksara) ditolak MPRS. Kemudian, Soeharto menjadi presiden sesuai hasil Sidang Umum MPRS (Tap MPRS No XLIV/MPRS/1968) pada 27 Maret 1968.

Di masa Presiden Soeharto, B.M. Diah menjabat Menteri Penerangan RI hingga tahun 1968.

B.M. Diah menulis di koran "Merdeka," tentang penyerahan kekuasaan pada tanggal 20 Februari 1967 dengan judul: " Senja Kekuasaan Sang Pemimpin." Waktu itu, ujar B.M. Diah, kabut tebal mulai turun dalam kehidupan politik Bung Karno. Sebagai Menteri Penerangan di dalam Kabinet Ampera, B.M. Diah sempat bersalaman dengan Bung Karno. Waktu itu ketika bertemu dalam peristiwa yang bersejarah itu. Tetapi menurut B.M. Diah, Bung Karno tidak mau melihat dan menegur dirinya.

Untuk ketiga kalinya Bung Karno marah kepada saya, ujar B.M. Diah. Pertama, ketika sebagai wartawan, saya mengkritiknya dalam surat kabar "Merdeka." Kedua, sebagai anggota parlemen, karena kebimbangannya menghadapi lawan politiknya. Akibatnya, ia tidak mau mengangkat B.M. Diah sebagai anggota Dewan Nasional. Ia mengangkat Herawati Diah. Tetapi karena B. M. Diah dan istrinya Herawati menjadi "satu partai politik," larangan B.M.Diah untuk melarang Herawati untuk menjadi anggota Dewan Nasional, memaksa Bung Karno mengangkat B.M. Diah sebagai "penggantinya."

Ujar B.M. Diah dalam tulisannya itu, Rosihan Anwar dalam "Pedoman," bahwa bukan soal lagi bahwa kursi Dewan Nasional itu untuk keluarga Diah. Kalau B.M. Diah tidak mau, anak B.M. Diah tentu diangkat Bung Karno.

Soal ketiga, tulis B.M. Diah, Bung Karno marah kepada dirinya, karena sebagai menterinya, B.M. Diah tidak dapat menghalangi pers Indonesia menyerang keterlibatannya dalam Gestapu/PKI. Pada tanggal 20 Februari 1967, ketika tangan Bung Karno menjabat tangan B.M. Diah, salaman itu menurut B.M. Diah adalah yang penghabisan.

B.M. Diah jadi Menteri Penerangan pada masa Bung Karno, 25 Juli 1966 sampai 17 Oktober 1967, dan masa Soeharto, 17 Oktober 1967 sampai 1968.

Bung Karno meninggal dunia pada hari Minggu, 21 Juni 1970, tepat pukul 07.07 WIB, di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat, setelah menderita komplikasi penyakit yang cukup parah. Hari-hari terakhir Soekarno dihabiskannya dalam kesendirian. Ia meninggal dalam keadaan sakit.

Harian "Merdeka," pada hari menggalnya Bung Karno, kop yang biasanya berwarna merah, khusus hari itu, berwarna hitam. B.M. Diah menyempatkan diri menulis "Mengenang Seorang Pembina Bangsa," yang dimuat serial di surat kabar yang dipimpinnya, "Merdeka," pada tanggal 24, 27,29 dan 30 Juni 1970.(*).