Mengingat 103 Tahun Herawati Diah

Oleh Dasman Djamaluddin

Hari Ini, Jumat, 3 April 2020, saya menerima kalimat singkat dari Damayanti Winoto: " Hari, ini tanggal kelahiran Ibu ku Tercinta, Herawati Diah," itulah salah satu kalimat yang dilontarkan kepada saya.

Sudah tentu, saya sangat mengenal Ibu Herawati Diah. Ia lahir di Tanjung Pandan, Belitung, hari ini, 3 April, yaitu tahun 1917. Jadi, jika beliau masih hidup, usianya hari ini 103 tahun. Tetapi, usia sepanjang itu, jarang terjadi.

Ingatan saya, tertuju ke "Surat Pengangkatan" sebagai Redaktur Pelaksana Majalah "Topik," sejak tanggal 2 September 1985, yang ditandatangani Ibu Herawati Diah atas nama Burhanudin Mohamad (B.M) Diah.

Kenapa buku: "Herawati Diah berkisah, yang disunting wartawati Debra H. Yatim.
saya ungkap? Karena buku itu pernah dikirim ke alamat saya oleh Ibu Herawati Diah. Memang sebelumnya, saya pernah menyarankan Ibu Herawati menulis buku, setelah membaca buku yang saya tulis pada tahun 1992, "Butir-Butir Padi B.M. Diah," (Tokoh Sejarah yang Menghayati Zaman) yang diungkapkan kepada Dasman Djamaluddin (Jakarta: Pustaka Merdeka, 1992).

Ibu Herawati memang sudah tiada. Saya masih ingat ketika menulis di Kompasiana. Saya menulis, Selesai sholat Jumat, 30 September 2014, pelan-pelan jenazah ibu Herawati Diah dibawa, dari rumah kediaman beliau, ke Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta. Langit sedikit mendung seakan-akan ikut bersedih akan kepergian almarhumah.

Sebelumnya, peristiwa yang sama pun pernah terjadi ketika iring-iringan jenazah almarhum Bapak Burhanuddin Muhammad (B.M) Diah dibawa  menuju Taman Makam Pahlawan Kalibata. Makam Ibu Herawati persis berdampingan dengan makam Bapak B.M Diah. Sepintas, biasa- biasa saja.Tetapi buat saya, ini merupakan hal luar biasa. Karena peranan Sang Pencipta ikut di dalamnya. Ini merupakan wujud keabadian yang saya sebut cinta agung seorang perempuan bernama Herawati dan namanya selalu disandingkan dengan nama suaminya BM Diah, Herawati Diah.

Ketika semua orang sudah pulang ke tempat tinggalnya masing-masing, saya merenung bahwa makam ini mirip seperti bangunan di Taj Mahal di Agra, India. Bangunan megah yang diperuntukkan untuk sang isteri sebagai tanda kesetiaan. 

Perjalananan ibu Herawati bersama sang suami, menurut saya lebih dari bangunan di Taj Mahal itu. Saya menyebutnya cinta agung yang diperlihatkan ibu Herawati kepada suaminya, B.M Diah. Mengapa tidak? Ketika rintangan melanda hubungan mereka berdua, ibu Herawati tetap tenang. Suaranya yang lemah  lembut yang ditujukan kepada saya tidak pernah hilang.

Tanggal 3 April 2016, ketika itu genap usia Ibu Herawati Diah, 99 tahun. Suatu perjalanan panjang seorang anak manusia yang kemudian ditakdirkan oleh Allah SWT berusia panjang dan buat seseorang diusianya itu boleh dikatakan  masih sehat.

Tentu bangsa Indonesia mengenal siapa Ibu Herawati. Mengenal pula siapa suaminya  almarhum BM Diah yang singkatan BM itu adalah Burhanudin Muhamad Diah.  Ada ungkapan menarik dari salah seorang tokoh HMI dan politikus  Ridwan Saidi di dalam buku saya, Butir Butir Padi B.M.Diah, Tokoh Sejarah yang Menghayati Zaman ( Jakarta: Pustaka Merdeka,  1992) halaman  346 dan 347:

“Diah tidak tertarik dengan Masyumi, juga Diah tidak suka dengan Partai Syarekat Islam. Tetapi Diah juga tidak bergabung dengan NU (Nahdlatul Ulama). Pada hal  sejak tahun 1957, NU membuka peluang  bagi intelektual non santri untuk bergabung dan berpegangan pada tali Nahdiyyin... Lantas kalau Diah bukan NU, apakah Diah anggota Muhammadiyah? Kata orang, Diah tidak pelu menjadi anggota Muhammadiyah, karena namanya sudah Burhanudin Muhammad Diah.” (catatan dari saya jika digabung Burhanudin Muammadiah).

Ketika sedang menulis buku BM Diah, Butir-Butir Padi BM Diah, saya sempat juga menanyakan kepada BM Diah kenapa nama itu tidak seperti nama-nama bangsa Indonesia, singkat-singkat seperti Soekarno, Soeharto dan lain-lain. “Oh... itu hanya untuk agar dikenal saja sebagaimana nama-nama orang  asing yang sering diberi nama keluarga di belakangnya. Kalau saya cukup tambahkan  B.M di depan nama saya, yang  kepanjangannya Burhanudin Muhamad Diah,” ujar BM Diah kepada saya tahun 1992.

Nama  suami isteri ini kemudian dikenal masyarakat nasional dan internasional. Apalagi  B.M Diah dikenal di dunia pers, dengan mendirikan Grup Merdeka (Koran Merdeka 1945, Mingguan Merdeka, Majalah Topik, Majalah Keluarga dan koran berbahasa Inggris Indonesian Observer), diplomat dan pengusaha. Sementara isteri B.M Diah, Herawati Diah yang  sebelum menikah berpendidikan jurnalistik dan berkecimpung di dunia pers, ikut bergabung dengan suaminya B.M. Diah di Grup Merdeka.

Adalah suatu kebesaran hati dan rasa syukur bahwa kami yang bergabung sebagai penerus semangat Grup Merdeka yang dulu berkantor di Jl.AM Sangaji 11 Jakarta, pada hari Kamis, 31 Maret 2016 menyelenggarakan Hari Ulang Tahun ke-99 Ibu Herawati Diah, meski selang beberapa hari menjelang ulang tahun beliau 3 April 2016. Niat kami mendahului acara ulang tahun tersebut pada hari itu sangatlah wajar. Kami dari para murid B.M. Diah dan Herawati Diah ingin tampil lebih dulu merayakannya. Bukan untuk dikenang, tetapi sangatlah wajar, apabila kami yang dulu bersinggungan langsung dengan Ibu Herawati Diah dan B.M. Diah merayakannya terlebih dulu. Mengapa bukan pada tepat tanggal 3 April 2016?  Memang kami tahu, bahwa pada hari itu, Selamat Ulang Tahun dan syukuran akan diselenggarakan hanya di lingkungan keluarga besar B.M. Diah.

Siang hari  31 Maret 2016 itu suasana di Perpustakaan MPR-RI, memang menjadi hari kenangan yang indah buat saya dan rekan-rekan wartawan yang pernah berkantor di Jl.A.M.Sangaji 11 Jakarta Pusat. Kenapa tidak ? Di samping bertemu teman-teman lama sesama di Grup Merdeka, kami juga menyaksikan wajah penuh senyum dari Ibu Herawati Diah yang sudah berusia 99 tahun hadir di tengah-tengah kami. Nampak garis-garis wajahnya begitu ceria menyaksikan acara yang kami susun. Sudah tentu tempat khusus telah kami sediakan untuk beliau yang memasuki usia 99 tahun pada 3 April 2016 nanti.

Di atas kursi rodanya, beliau tidak berhenti melepaskan jabatan yang diberikan para undangan, khususnya dari para anak didik beliau ketika berkantor di Jalan AM Sangaji 11 Jakarta. Tampak pula anak beliau, Nurman Diah.

Hari-hari itu rupanya berlalu sangat cepat. Kami pun sudah banyak berusia 60 tahun, bahkan lebih. Ada juga di antara kami sudah mendahului menghadap Sang Pencipta. Memang banyak rahasia dari Sang Pencipta yang tidak kita ketahui. Ada batas memang antara ilmu manusia dan ilmu Allah SWT. Kita hanya mengetahui satu persen dari ilmu Allah yang  terungkap. Itu pun atas izinNya jika ingin mengetahui sesuatu.

Teringat oleh kita ketika Nabi Musa a.s ingin melihat wajah Allah. Ia tak sanggup. Kami juga melihat peristiwa  hari ulang tahun ini sebagai sebuah anugerah, di mana atas izinNya pula kami diperkenankan mengucapkan selamat ulang tahun. Selamat Ulang Tahun Ibu Herawati yang ke-99. Semoga Allah SWT selalu menyertai langkah-langkah kita dalam mengarungi kehidupan fana ini. Amin Ya Rabbal’alamin.(*)