Sjahrir dari Tahanan Belanda ke Tahanan Bangsa Sendiri

Oleh Dasman Djamaluddin

Foto di atas merupakan foto tiga serangkai, Sutan Sjahrir, Soekarno dan Mohammad Hatta. Sumber foto ini dari repro " Kilas Balik Revolusi" karya Aboe Bakar Loebis.

Jika melihat foto tersebut, terlihat suatu jalinan keakraban ketiga tokoh tersebut. Tetapi lambat laun, mereka berbeda dalam pandangan politik. Sebagai contoh, Bung Hatta mengundurkan diri sebagai Wakil Presiden RI pendamping Bung Karno. Tetapi persahabatan secara kekeluargaan tidak pernah putus. Ketika Bung Karno sakit, maka Bung Hatta datang menjenguk.

Hal yang sama terjadi antara Bung Hatta dan Bung Sjahrir. Ketika Bung Karno menganggap Sjahrir terlibat dalam aksi pembunuhan terhadap dirinya, Bung Hatta berusaha meyakinkan Bung Karno, bahwa Sjahrir tidak pernah melakukan apa yang dikatakan tindakan "makar" tersebut.

Tetapi Bung Karno tetap mendengar bisikan Soebandrio yang pada waktu itu sebagai Kepala Badan Pusat Intelijen RI. Bung Karno juga mengatakan: " Hatta dan Sjahrir tak pernah membangun kekuatan. Apa yang mereka kerjakan hanya bicara. Tidak ada tindakan, hanya bersoal-jawab," aku Bung Karno dalam autobiografinya, "Bung Karno Penjambung Lidah Rakjat" (1966).

Karier politik Dr. Soebandrio sangat cemerlang. Pada tahun 1956, Presiden Soekarno memanggil Soebandrio pulang ke Jakarta untuk diangkat menjadi Sekretaris Jenderal Kementerian Luar Negeri, lalu menjadi Menteri Luar Negeri RI. Berikutnya, pada tahun 1960, ia ditunjuk sebagai Wakil Perdana Menteri pada Kabinet Dwikora I dan sebagai Menteri Hubungan Ekonomi Luar Negeri pada tahun 1962. Ia merangkap ketiga jabatan tersebut sekaligus sebagai Kepala Badan Pusat Intelijen hingga tahun 1966. Jadi ditangkapnya Bung Sjahrir, juga didasarkan laporan Soebandrio sebagai Kepala Badan Pusat Intelijen. Selain itu, ia sebagai anggota dari Komando Operasi Tertinggi dalam Operasi Dwikora dan Trikora.  Ia juga menyandang pangkat Marsekal Madya di TNI Angkatan Udara.

Pasca-Gerakan 30 September, Soebandrio divonis hukuman mati oleh Mahkamah Militer Luar Biasa, dengan dakwaan terlibat dalam gerakan tersebut meski tidak ada bukti nyata yang menunjukkan pengetahuan atau keterlibatannya mengingat saat Gestapu meletus, Soebandrio sedang berada di Sumatera.

Akan tetapi, vonis itu selanjutnya dikurangi menjadi hukuman seumur hidup. Pada tahun 1995, ia dibebaskan karena alasan kesehatan hingga wafat pada tahun 2004.

Kembali mengangkat permasalahan yang mengitari Sutan Sjahrir, di satu sisi dengan Soekarno dan Hatta di sisi lain, tetap menarik untuk diperbincangkan. Apalagi di bulan April 2020 ini, tepatnya 9 April 1960, merupakan hari wafatnya di pengasingan di Zurich, Swiss. Ia waktu itu masih bersatus tahanan politik.

Majalah "Tempo," edisi khusus 100 tahun Sjahrir, edisi 9-15 Maret 2009 memuat lengkap biografinya berjudul: "Sutan Sjahrir Peran Besar Bung Kecil" :

Sebelum Indonesia merdeka, Soekarno dan Sutan Sjahrir sudah bersimpang jalan dalam menghadapi militer Jepang di Indonesia. Di mata Sukarno, Sjahrir tak beda dengan Hatta.

Ini persoalan lama memang. Kritik Soekarno itu merujuk kepada perbedaan metode perjuangan di masa pergerakan nasional. Sjahrir, bersama Hatta, mendirikan Pendidikan Nasional Indonesia (masyhur dengan sebutan PNI-Baru), sedangkan Soekarno menjadi pendiri dan tokoh utama sekaligus terpenting Partai Nasional Indonesia (PNI). 

Kendati singkatan dua organ pergerakan itu sama, tetapi keduanya berbeda dalam metode.

PNI-Baru mengedepankan pentingnya pendidikan politik, sehingga rajin mengadakan kursus-kurus politik dan menerbitkan berbagai brosur. Sedangkan PNI yang dibentuk Soekarno fokus pada penggalangan massa-rakyat yang mengejawantah dalam rapat-rapat akbar yang dihadiri ribuan orang.

Soekarno sadar pentingnya Sjahrir dalam menghadapi Sekutu pada masa awal kemerdekaan Indonesia. Namun, di masa Demokrasi Terpimpin, Sjahrir adalah lawan politiknya. Soekarno juga tahu soal gerakan bawah tanah Sjahrir di masa pendudukan Jepang—aksi yang butuh nyali lebih.

Di kemudian hari, kerja sama Soekarno (dan Hatta) dengan Jepang ini juga memantik api dalam sekam yang lain. Sebelum menjadi Perdana Menteri pertama pada November 1945, Sjahrir sangat sering mengecam orang-orang yang bekerja sama dengan Jepang sebagai kolaborator.

Soekarno tahu hal itu. Namun, tidak ada pilihan, ia mesti bekerja sama dengan Sjahrir pasca-Proklamasi agar Indonesia tidak dicap sebagai bikinan Jepang jika hanya mengandalkan Soekarno-Hatta yang memang mau menggandeng Jepang. Sjahrir bebas dari cap "antek Jepang" dan itulah mengapa Sjahrir dianggap tepat untuk menjadi Perdana Menteri. Sjahrir diandalkan untuk meyakinkan dunia Barat atau Sekutu yang memang menjadi lawan Jepang di kancah Perang Dunia II.

Namun setelah Sjahrir menjadi orang bebas, ketika ia tak lagi menjabat Perdana Menteri, hubungan keduanya kembali tegang.  

Rudolf Mrazek dalam Sjahrir: "Politik dan Pengasingan di Indonesia (1996)," mencatat pertengkaran kecil mereka di Prapat, Sumatra Utara, saat mereka ditawan Belanda setelah Agresi Militer Belanda II. Dikabarkan, Sjahrir dibuat marah oleh Soekarno.

“Soekarno yang sedang berada di kamar mandi menyanyi, dengan sekeras-kerasnya," tulis Mrazek.

Sjahrir kesal mendengarnya dan berteriak dalam bahasa Belanda “houd je mond!" kepada Soekarno—artinya: “Tutup mulut kamu!"

Di masa Demokrasi Terpimpin, pertentangan mereka jauh lebih hebat lagi. Apalagi setelah di rumah Prawoto, ditemukan dokumen-dokumen—yang konon isinya organisasi bernama VOC. Bukan Verenigde Oostindische Compagnie alias maskapai dagang Belanda yang berkuasa di Nusantara. Ada yang menyebut VOC itu Verenigde Ondergrondse Corps alias Korps Perkumpulan Bawah Tanah; yang lain menyebut VOC adalah Vernielings Organisatie Corps alias Korps Organisasi Penghancur.

Rosihan Anwar, wartawan dan seorang pengikut PSI (partai yang didirikan Sjahrir) dan beberapa buku yang ditulisnya menyinggung Bung Keci, dalam catatan harian yang dibukukan dalam "Soekarno, Tentara, PKI: Segitiga Kekuasaan Sebelum Prahara Politik, 1961-1965 (2006)," menyebut Sultan Hamid II dari Pontianak adalah pemimpin VOC yang termaksud dalam dokumen itu, dan seseorang bernama Pitoy sebagai wakilnya.

Banyak orang Indonesia dari wilayah timur tergabung di dalamnya. Tokoh-tokoh nasional macam Subadio Sastrotomo, Muhammad Roem, Prawoto, Yunan Nasution, dan Sutan Sjahrir ada di dalamnya. Mereka semua ditangkap pada 16 Januari 1962 karena VOC dianggap gerakan subversif yang membahayakan negara.

“Beliau (Sutan Sjahrir) ditahan [...] atas dasar tuduhan yang telah dipersiapkan lebih dahulu oleh pelapor-pelapor palsu Manoppo cs," tulis Rosihan dalam "Perdjalanan Terachir Pahlawan Nasional Sutan Sjahrir" (1966).

“Mereka tak mempunjai tempat di masjarakat kami," kata Kepala Badan Pusat Intelijen (BPI) Subandrio—seperti dikutip Arnold Brackman dalam "Indonesian Communism: A History" (1963). Kala itu Subandrio berkuasa dan termasuk orang dekat Soekarno. Dan bagi Soekarno, Sjahrir adalah orang berbahaya.

Sjahrir dan lainnya sempat ditahan di Jakarta, kemudian Madiun. Mereka tak diperlakukan seperti tahanan kriminal kelas teri.

“Keadaan di penjara Madiun dengan sipir yang bersikap luwes cukup membantu penghuninya supaya tidak terlalu stres," tulis Rosihan dalam "Sutan Sjahrir: Negarawan Humanis, Demokrat Sejati yang Mendahului Zamannya" (2011).

Namun, kondisi itu tak mampu menghalau tekanan darah tinggi Sjahrir—yang mencapai diastol 150 dan sistole 245, yang bisa bikin ambruk penderitanya.

Sjahrir sempat delapan bulan dirawat di Rumah Sakit Gatot Subroto sebelum ditahan di Jalan Keagungan. Lalu, pada Februari 1965, ia dipindahkan ke Rumah Tahanan Militer (RTM) Budi Utomo, Jakarta. Kamar lembab dan sempit adalah tempat Sjahrir. Selain itu, Sjahrir tak diizinkan membawa makanan dari rumah. Dalam hitungan minggu, Sjahrir kena stroke.

Suatu malam, Sjahrir ditemukan terkapar di kamar mandi oleh tahanan lain. Namun, tentara yang berjaga tak segera memberi pertolongan medis. Pertolongan untuk Sjahrir harus menunggu pagi.

Esoknya, Sjahrir dibawa ke rumah sakit. Setelah tindakan dari dokter, Sjahrir tak lagi bisa bicara.

Istri Sjahrir, Siti Wahjunah alias Poppy, mengusahakan pengobatan suaminya ke luar negeri. Sjahrir akhirnya dibawa berobat pada 21 Juli 1965 ke Zurich, Swiss, atas izin Presiden Soekarno—yang dalam status tetap sebagai tahanan politik. Semua biaya pengobatan ditanggung oleh negara. Sjahrir berada di Swiss hingga meninggal dunia di tahun berikutnya, pada 9 April 1966.

Sjahrir yang terbiasa hidup dalam pengasingan sejak muda—Boven Digoel, Banda Neira, Prapat, Madiun—harus mengembuskan napas terakhirnya di pengasingan pula pada 9 April 1966, tepat 54 tahun lalu. Meski begitu, di hari meninggalnya, Soekarno meneken SK Presiden RI No. 76/Tahun 1966. Isinya menyatakan Sutan Sjahrir sebagai Pahlawan Nasional.

Sutan Sjahrir, lahir di Padang Panjang, Sumatera Barat, 5 Maret 1909. Setelah Indonesia merdeka, ia menjadi politikus dan perdana menteri pertama Indonesia. Ia menjabat sebagai Perdana Menteri Indonesiadari 14 November 1945 hingg 20 Juni 1947. Sjahrir mendirikan Partai Sosialis Indonesia pada tahun 1948. (*)