Masjidku Sehat Paska Pandemi

Oleh :  Chotim Wibowo

(Pengurus DKM di Kota Bekasi)

Kunjungan Presiden Joko Widodo (Jokowi) ke Kota Bekasi dalam peninjauan persiapan pembukaan mal memberikan komentar beragam. Diantaranya, menimbulkan kelegaan karena sektor ekonomi akan mulai bergerak. Meski di sisi lain, kekhawatiran akan pandemic  masih dirasakan.

Presiden meninjau persiapan penyambutan ‘new normal’. Persiapan penyambutan ini meliputi banyak hal, seperti sarana dan protap kesehatan terkait covid 19 yang harus dilakukan.

Di bagian lain, walikota Bekasi H Rahmat Effendi, memberi angin segar pekan ini akan segera ‘membuka’ atau membolehkan tempat ibadah dilakukan jamaah. Masjid atau tempat ibadah lain sudah tiga bulan ditutup. Pekan ini akan dibuka dan bisa dilaksanakan untuk beribadah lagi.

Namun, persiapan untuk ‘membuka’ kembali  masjid atau tempat ibadah lain ini tampaknya belum seserius rencana membuka mal. Bagaimana dan apa saja yang perlu dipersiapkan para pengurus masjid belum tampak ada komunikasi dengan pemegang kebijakan. Saya ragu, para pengurus masjid, atau juga yang lain, memiliki protap atau standar Kesehatan mengantisipasi covid-19 seperti yang diinginkan setelah nanti dibuka.

Perhatian akan membukanya tak seketat saat menutupnya.

Pengurus masjid sudah seharusnya memiliki standar kesehatan yang sama terkait dengan penerapan kembali penggunaan tempat ibadah berjamaah. Standar ini harus bisa mudah dimengerti jamaah, sehingga pelaksanaan bisa efektif.

Bagaimana agar jamaah faham, tentu dibutuhkan sarana komunikasi yang memadai. Tidak bisa dilakukan dengan serta merta atau mendadak. Karena di bagian lain jamaah juga sudah tumbuh kesadaran akan standar Kesehatan.

Pembukaan Kembali masjid setelah 3 bulan dikunci, maka dibutuhkan berbagai ‘kesepakatan’ dengan jamaah. Kesepakatan ini bisa ditulis dan dibagikan atau ditempel di masjid. Intinya adalah agar jamaah tahu apa yang harus dilakukan jika berjamaah di masjid selama masa pencegahan pandemic ini.

Pelaksanaan kegiatan dengan skala besar misalnya, juga diberlakukan penerapan khusus terkait penyuksesannya. Tidak semata mengandalkan kesadaran jamaah, tetapi juga keaktifan pengurus masjid.

Misal dalam shalat jumat, perlu diperhatian terkait jarak saf, atau pengenaan masker dan alas salat trersendiri. Perketat protokol serta SOP Kesehatan sebagai langkah preventif guna mengurangi risiko penyebaran virus corona.

Belum lagi terkait sarana yang diperlukan. Tempat cuci tangan, atau hand sanitaizer, atau penyediaan masker, dan juga penyemrpotan rutin disinfektan.

Momen saat ini sebenarnya bisa menjadi kebangkitan dalam menciptakan masjid yang sehat. Baik sehat lingkungannya dan sehat jamaahnya.

Jika saja pembukaan mal dibutuhkan keseriusan dalam persiapannya. Lalu kenapa pembukaan masjid tidak dilakukan persiapannya juga. Padahal bukankah penerapan kepada jamaah dalam satu lingkungan itu lebih mudah dibanding dengan pengunjung mal?

#Masjidku sehat, sekarang saatnya.(*)