Mengenang Kepergian B.M. Diah di Bulan Juni

Oleh Dasman Djamaluddin

Tanggal 10 Juni 2020 ini, keluarga besar Burhanudin Mohamad (B.M) Diah, juga anak didik beliau di Grup Merdeka (Harian "Merdeka," Minggu "Merdeka, Harian " Indonesian Observer," Majalah "Topik," dan Majalah "Keluarga") sudah tentu menundukkan kepalanya, mengenang perjalanan suka dukanya bersama B.M. Diah yang waktu itu berkantor di Jalan A.M. Sangaji 11, Jakarta Pusat.

B.M. Diah mengalami penyakit stroke sejak lama, ia wafat pada usia 79 tahun, tepatnya 10 Juni 1996 pukul 03.00 dini hari. Almarhum mulai dirawat di Rumah Sakit Siloam Gleneagles, Tangerang, 25 April 1996, kemudian dipindahkan ke Rumah Sakit Jakarta pada 31 Mei 1996 sampai akhirnya menghembuskan nafas terakhir.

Menimbang jasa-jasanya yang cukup besar kepada negara, ia dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata.

Selama disemayamkan di rumah duka, hampir semua pejabat tinggi negara di masa itu, mulai Presiden Soeharto dan Wapres serta Ny Try Soetrisno, hingga sejumlah menteri Kabinet Pembangunan VI melayat. Demikian juga dengan tokoh-tokoh seperjuangan almarhum membanjiri rumah duka di kawasan elite Jakarta Selatan itu. Di antara teman-teman almarhum yang tampak hadir antara lain Dr Roeslan Abdulgani, Soebadio Sastrosatomo, Mochtar Lubis, Ny Supeni, para mantan pejabat senior Departemen Penerangan, mantan Menko Polkam Soerono, Kharis Suhud, Yakob Oetama, Soebronto Laras, dan tokoh-tokoh nasional lainnya.

Tampak pula Menteri Penerangan Harmoko, mantan Menteri Lingkungan Hidup Emil Salim, Pangdam Jaya Mayjen Sutiyoso, M.H. Isnaini, S.K. Murti, Dahlan Iskan, serta sejumlah wartawan senior dari berbagai media massa.

B.M. Diah dikenal sebagai seorang tokoh pers serba bisa, pejuang kemerdekaan, diplomat, pengusaha dan seorang nasionalis yang gigih. Menimbang jasa-jasanya yang cukup besar kepada negara, pendiri Harian "Merdeka" ini dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata.

B.M. Diah merupakan bungsu dari delapan bersaudara, anak dari pasangan Burhanudin dan Siti Sa’idah. Ayahnya seorang yang terpandang di Aceh pada zamannya karena kekayaannya. Meski demikian, kehidupan mapan keluarga tersebut tidak sempat dinikmati Diah karena saat Diah baru berusia seminggu, ia sudah ditinggal mati ayahnya.

Di samping itu, di akhir hidupnya, sang ayah pun hidup boros sehingga tidak meninggalkan harta yang banyak bagi anak-anaknya. Kekayaan yang sempat dinikmati keluarganya pun hanya tinggal cerita bagi Diah.

Ibunya yang tinggal sendirian membesarkan B.M. Diah dan saudara-saudaranya, memilih berjualan emas, intan, dan pakaian untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka sehari-hari. Namun kebersamaan Diah dengan ibunya pun hanya sementara, karena delapan tahun sepeninggal ayahnya, ibu Siti Sa’idah juga meninggal. Diah kecil pun kemudian diasuh kakak perempuannya, Siti Hafsyah.

Meski kedua orang tuanya telah tiada, B.M. Diah tetap serius bersekolah. Diah pertama sekali sekolah di HIS ( Hollandsch-Inlandsche School). Namun karena ia tidak mau belajar di bawah asuhan guru-guru Belanda, ia kemudian melanjut ke Taman Siswa di Medan, Sumatera Utara. Saat Diah sudah berusia 17 tahun, ia meninggalkan Medan menuju Jakarta. Di Jakarta, ia belajar di Ksatrian Institut (sekarang Sekolah Ksatrian) yang dipimpin oleh Dr. EE Douwes Dekker. Di sekolah inilah, ia memilih jurusan jurnalistik dan banyak belajar tentang dunia kewartawanan dari pribadi Douwes Dekker sehingga kelak membentuknya menjadi wartawan handal.

Saat bersekolah di Ksatrian Institut, Diah sesungguhnya tidak mampu membayar biaya sekolah. Namun karena semangat dan tekadnya yang keras untuk belajar, Douwes Dekker mengizinkannya terus belajar. Bahkan, ia pun dipercaya menjadi sekretaris di sekolah tersebut.

Setelah tamat belajar dan memiliki pengetahuan di bidang jurnalistik, Diah kembali ke Medan dan bekerja sebagai redaktur harian "Sinar Deli." Namun di sana ia hanya bekerja selama satu setengah tahun. Setelah itu, ia sering berpindah-pindah. Pertama, dari Medan ia kembali ke Jakarta dan bekerja di harian "Sin Po" sebagai tenaga honorer. Kemudian pindah ke "Warta Harian." Karena koran tersebut dibubarkan karena alasan membahayakan keamanan, Diah pun lantas mendirikan usahanya sendiri bernama "Pertjatoeran Doenia" yang terbit bulanan.

Saat penjajahan Jepang, Diah pernah bekerja di Radio Hosokyoku sebagai penyiar siaran bahasa Inggris. Di saat yang bersamaan, ia juga bekerja di "Asia Raja." Namun karena hal itu ketahuan Jepang, ia pun dijebloskan ke dalam penjara selama empat hari.

Saat bekerja di Radio Hosokyoku, B.M. Diah bertemu dengan Herawati, seorang penyiar lulusan jurnalistik dan sosiologi di Amerika Serikat yang kemudian menjadi pendamping hidupnya. Pasangan itu menikah pada 18 Agustus 1942 dan memberikan mereka dua anak perempuan dan satu laki-laki.

Setelah Kemerdekaan Republik Indonesia diproklamirkan, Diah bersama sejumlah rekannya, seperti Joesoef Isak dan Rosihan Anwar juga turut memanggul senjata untuk mempertahankan kemerdekaan. Percetakan Jepang “Djawa Shimbun” yang menerbitkan Harian "Asia Raja" (Raya, ejaan sekarang) berhasil mereka kuasai tanpa perlawanan dari tentara Jepang.

Setelah berhasil menguasai percetakan Jepang, pada 1 Oktober 1945, Diah mendirikan Harian "Merdeka" sekaligus memimpinnya hingga akhir hayatnya. Dalam kepemimpinannya, ia tetap konsisten menjadikan Harian "Merdeka" sebagai salah satu surat kabar perjuangan yang khusus berbicara mengenai politik. Sehingga pada awal tahun 1950-an, muncul istilah "Personal Journalism," sebuah corak jurnalistik yang berkembang setelah penyerahan kedaulatan dari Belanda.

Sebagai seorang nasionalis yang pro-Soekarno dan menentang militerisme, ia pernah bertolak pandangan dengan pihak militer setelah Peristiwa 17 Oktober 1952. Akibatnya ia sering berpindah-pindah tempat untuk menghindari kejaran petugas militer.

Ketika Orde Baru, yang lebih dikuasai militer memutuskan untuk mengubah sebutan Tionghoa menjadi China dan Republik Rakyat Tiongkok menjadi Republik Rakyat China, Harian "Merdeka" bersama Harian "Indonesia Raya" pimpinan Mochtar Lubis, tetap berani mempertahankan istilah Tionghoa dan Tiongkok.

Selain menjadi wartawan, B.M. Diah pernah menjabat sebagai seorang birokrat. Setelah Indonesia merdeka, pada tahun 1959, B.M. Diah diangkat menjadi Duta Besar RI untuk Cekoslowakia, Hongaria, dan untuk Kerajaan Inggris Raya, 1962. Kemudian pada Era Orde Baru, ia diangkat menjadi Menteri Penerangan pada Kabinet Ampera, tahun 1966 oleh Presiden Soeharto. Dalam perjalanan berikutnya, ia juga pernah menjadi anggota DPR dan DPA.

Di luar pemerintahan, ia pernah menjabat sebagai Ketua PWI pada tahun 1971, kemudian menjadi Presiden Direktur PT Masa Merdeka, dan Wakil Pemimpin PT Hotel Prapatan-Jakarta. Di masa tuanya, ia kemudian mendirikan Hottel Hyatt Aryaduta.

Berkat jasa-jasanya yang teguh memperjuangkan kepentingan bangsa dan negara, B.M. Diah menerima Bintang Mahaputra Utama dari Presiden Soeharto pada 10 Mei 1978. Selanjutnya, menerima piagam penghargaan dan medali perjuangan Angkatan ’45 dari Dewan Harian Nasional Angkatan 45 pada 17 Agustus 1995.

Pengalaman Pribadi Bersama B.M. Diah

Saya memiliki pengalaman kerja dengan B.M. Diah, yaitu ketika menjadi Redaktur Pelaksana Majalah "Topik," 1 Juni 1985 hingga 1 April 1988. Setelah menulis biografi B.M. Diah tahun 1992, dan sebagai seorang murid di dunia jurnalistik, mampu menghadiahkan B.M. Diah, biografinya berjudul: "Butir-Butir Padi B.M. Diah (Tokoh Sejarah yang Menghayati Zaman) diungkapkan kepada Dasman Djamaluddin (Jakarta: Pustaka Merdeka, 1992), saya pun diminta menjadi Redaktur Luar Negeri Harian "Merdeka."

Ketika B.M. Diah meninggal dunia, saya tidak hadir. Tetapi saya sempat menulis di Harian "Merdeka," 11 Juni 1996 berjudul: " Selamat Jalan Bapak BM. Diah." Tahun 2015, saya diminta menjadi narasumber buku komik B.M. Diah berjudul: "BM Diah Wartawan Penyebar Semangat Kemerdekaan" (Jakarta: Museum Perumusan Naskah Proklamadi, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, 2015). Terakhir tahun 2018, menjadi Penyunting buku: "Catatan BM Diah, Peran 'Pivotal' Pemuda Seputar Lahirnya Proklamasi 17-8-'45" (Jakarta: Yayasan Pustaka Obor Indonesia, 2018).